Teras Jawa Barat, Hall of Fame di Lapangan Gasibu

INGIN tahu siapa saja yang pernah dan sedang memimpin Jawa Barat? Datang saja ke Teras Jawa Barat di Lapangan Gasibu, Jalan Diponegoro. Deretan nama-nama gubernur mulai dari pertama  hingga sekarang terpampang di sana. Foto, nama lengkap dengan biodata singkatnya menempel di dinding.

Dinding teras Jawa Barat tersebut dibuat dua bagian. Yang bagian atas semua sudah terisi sedangkan bagian bawah yang terisi hanya dua dan sisinya masih dikosongkan. Foto-foto mantan pemimpin Jawa Barat ini menghadap ke Gedung Sate, Kantor Pemerintahan Provinsi Jawa Barat.

Dinding pertama diisi foto dan nama gubernur pertama Jawa Barat. Namanya Mas Sutardjo Kertohadikusumo. Dia memimpin pada 1945. Pria ini lahir di Blora pada 22 oktober 1892.

Dinding kedua  teras Jawa Barat diisi foto Djamin Datuk Sutan Maharaja Besar. Dia memerintah pada 1945-1946. Djamin memimpin di Tasikmalaya ketika ibu kota Indonesia di Yogyakarya.

Teras Jawa Barat
Teras Jawa Barat di Jalan Diponegoro Bandung. | Foto serbabandung.com

Nama Gubernur di Teras Jawa Barat

Kemudian secara berurutan Murdjani memerintah pada 1946. Raden Tumenggung Aria pada 1947. Ir Raden Ukar Bratakusumah pada 1948. Mohamad Sanusi Hardjadinata pada 1951. Ipik Gandamana pada 1956.

Mashudi pada 1960.  Gubernur  ini  aktif mengembangkan pramuka dan menjadi Ketua Kwartir Nasional (kwarnas) pada 1978-1994. Selanjutnya Solihin GP pada 1970 , Aang Kunaefi pada 1975, Yogi S Memet pada 1985, R Nana Nuriana pada 1993, Danny Setiawan 2003, dan Ahmad Heryawan.

Di belakang dinding itu ada air mancur. Setiap akhir pekan, Jumat, Sabtu, Minggu setiap pukul 19.00, 20.00, 21.00 air mancur buatan Jerman itu menjadi pusat perhatian warga. Air ini menyembur dari 122 Nozel.

Teras ini setiap harinya terutama pada hari libur banyak dikunjungi. Mereka berfoto-foto di ruangan terbuka yang relatif baru ini.

Lapangan yang memiliki luas kurang lebih 6.000 m2 ini pada jaman Belanda bernama Wilhelmina Plein (lapangan Wilhelmina). Nama ini diambil dari ratu Belanda. Kemudian pada 1950-an berganti nama menjadi Lapangan Diponegoro. Pada 1955 berubah lagi menjadi lapangan Gasibu.

Bagikan kalau Anda menyukai informasi ini!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.