PT Bio Farma, BUMN Penghasil Vaksin yang Tempati Gedung Heritage


PT Bio Farma
 (Persero) adalah badan usaha milik negara (BUMN) yang kantor pusatnya berada di Bandung. Ada BUMN lain yang kebetulan kantor pusat di kota ini, yakni PT Telkom, PT DI, dan PT KAI.

Bio Farma menempati sebuah bangunan peninggalan Belanda di Jalan Pasteur. Bangunan ini didirikan pada 1926. Arsitek bangunan ini adalah CPW Schoemaker. Gedung ini pernah menjadi kampus Landskoepok Inricting en Instituut Pasteur pada 1923.

Bio Farma berdiri dengan nama “Parc Vaccinogene” pada 6 Agustus 1890. Perusahaan ini berdiri berdasarkan Surat Keputusan Gubernur Hindia Belanda Nomor 14 tahun 1890 di Rumah Sakit Militer Weltevreden, Batavia. Saat ini  rumah sakit tersebut telah berubah fungsi menjadi Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat Gatot Soebroto (RSPAD Gatot Soebroto), Jakarta.

Perusahaan pelat merah ini bergerak dalam bidang biotech expertise yang diimplementasikan melalui knowledge-based dan R&D-base driven. Mereka  fokus pada penelitian, pengembangan, produksi, dan pemasaran produk biologi, produk farmasi secara nasional dan global.

Perusahaan ini  berperan aktif dalam mengembangkan riset dan teknologi vaksin, melakukan penelitian vaksin baru dalam menjamin kemandirian kebutuhan vaksin di dalam negeri serta ketersediaan vaksin untuk memenuhi kebutuhan vaksin di dunia yang berkualitas dan terjangkau.

Pabrik vaksin ini berkomitmen terus mengembangkan dan menghasilkan vaksin yang novatif untuk mencegah penyebaran virus dan bakteri, serta penyakit lainnya yang menjadi ancaman terhadap kesehatan global.

Bio Farma Sudah Melewati Usia 125 Tahun

Didukung kompetensi, pengalaman dan proses pembelajaran selama lebih dari 125 tahun, Bio Farma hadir sebagai bagian dari perjuangan, dalam menyelamatkan dan meningkatkan kualitas hidup manusia, berperan penting dalam membangun kesehatan bangsa, sehingga keberadaannya dipertahankan dari masa ke masa.

Dengan filosofi “Dedicated to Improve Quality of Life” Bio Farma siap mendedikasikan kerja keras untuk keamanan kesehatan global (Global Health Security), sehingga melalui Biotech for a Better Future memberikan solusi untuk kemakmuran global. *

Gedung Cagar Budaya di Kawasan Lalu Lintas Bandung

Bangunan cagar budaya, dan bernilai sejarah di Kota Bandung tidak hanya berkumpul di kawasan Jalan Asia Afrika. Di kawasan lain pun banyak gedung cagar budaya yang sayang untuk tidak dilihat, atau mengambil foto di sana.

Jalan Aceh, Belitung, dan Kalimantan misalnya. Di kawasan tersebut terdapat bangunan yang peninggalan pemerintahan Hinda Belanda yang masih kokoh, seperti gedung yang sekarang digunakan untuk SMAN 3 dan 5 di Jalan Belitung, Markas Kodam III Siliwangi di Jalan Aceh, atau Detasemen Markas Kodam III Siliwangi di Jalan Kalimantan.

bangunan cagar budaya

Detasemen Markas Kodam III Siliwangi. | Foto serbabandung.com #serbabandung

Gedung SMAN 3 dan 5 berdiri pada 1915 yang dirancang oleh arsitek C. P Schoemaker. Pada 1916, bangunan ini berfungsi sebagai Hooge Burgere School (HBS). HBS adalah sekolah menengah untuk orang Belanda dan kalangan ningrat Indonesia, setaraf gabungan SMP (MULO) dan SMA (AMS) yang masa studinya selama 5 tahun.

Kemudian Markas Kodam III Siliwangi berdiri pada 1981. Gedung ini disebut Paleis van de Legercommandant atau istana panglima tertinggi militer. Gedung ini membutuhkan waktu dua tahun untuk membangunnya. Perancang gedung ini adalah R.L.A. Schoemaker & C.P. Wolff Schoemaker. Dalam laman kebudayaan.kemdikbud.go.id disebutkan bangunan ini bergaya arsitektur Cubism, dengan ciri-ciri sudut-sudut bangunan berbentuk lancip.

Bangunan lainnya adalah gedung yang sekarang berfungsi sebagai Detasemen Markas Kodam III Siliwangi. Gedung yang dibangun pada 1915 ini, dulunya digunakan untuk Departement van Oorlog. Perancang gedung ini adalah R.L.A. Schoemaker. Semula jalan di lokasi bangunan ini bernama Borneostraat, sekarang menjadi Jalan Kalimantan.

Beralih ke Jalan Sumatra. Di sini ada bangunan yang berfungsi sebagai Kantor Direktorat Keuangan AD Keuangan Pusat II. Gedung yang bercat putih ini hampir sama dengan Detasemen Markas Kodam III Siliwangi, namun lebih kecil. Laman kebudayaan.kemdikbud.go.id menyebut bangunan ini terkesan tegas dan kokoh.

Di Jalan Sumatra juga ada bangunan yang sekarang dipakai untuk Kantor Pengurus Besar Paguyuban Pasundan. Lokasi tepatnya di Jalan Sumatra 41. Dulunya berfungsi untuk rumah. Luas bangunan ini 460 m2 berdiri di atas tanah seluas 1630 m2. Gedung ini dibangun pada 1905-1915, bergaya arsitektur tradisional Barat.

Bagunan cagar budaya lainnya di Jalan Sumatra adalah gedung SMP Negeri 2. Lokasinya di Jalan Sumatra 42. Gedung ini dibangun pada 1916-1917 oleh Pemerintah Belanda untuk sekolah rakyat. Luas bangunannya 3.140 m2 berdiri di atas lahan 8.700 m2. Sekolah ini menjadi satu di antara sekolah favorit lainnya di Bandung.

Selain bangunan yang disebutkan di atas sebetulnya masih ada lagi bangunan-bangunan cagar budaya lainnya. *

Bangunan Cagar Budaya Dekat Taman Lalu Lintas

  • Gedung SMAN 3 dan 5 di Jalan Belitung
  • Markas Kodam III Siliwangi di Jalan Aceh
  • Detasemen Markas Kodam III Siliwangi di Jalan Kalimantan.
  • Kantor Direktorat Keuangan AD Keuangan Pusat II di Jalan Sumatra
  • Kantor Pengurus Besar Paguyuban Pasundan di Jalan Sumatra 41
  • Gedung SMP Negeri 2

Masih ada yang lain? Tolong share di kotak komenter di bawah ini.

Kantor Pusat PT KAI Tempati Gedung Bekas Hotel di Viaduk

KAWASAN Viaduk Bandung menyimpan pesona. Selain tentu saja viaduk yang membentang di atas jalan dan Sungai Kapundung, kemudian dua patung pejuang karya Sunaryo, di sana ada bangunan yang masuk dalam cagar budaya di kota ini. Gedung tersebut kini digunakan untuk Kantor  PT KAI. Kantor tersebut merupakan kantor pusat.

Di depan gedung itu dekat pintu gerabang berdiri monumen Tedi. Tedi adalah nama lokomotif TD 1002. Lokomotif ini sengaja dipajang di sana. Lokomotif ini produksi tahun 1926 dan terakhir digunakan pada 1970.

Kantor PT KAI, Jalan Perintis Kemerdekaan
Kantor Pusat PT KAI, Jalan Perintis Kemerdekaan, Bandung. |Foto serbabandung.com #serbabandung

Monumen ini diresmikan pada 28 september 2009 bertepatan dengan hari ulang tahun ke-64 kereta api. Lokomotif ini diresmikan oleh Komisaris Utama PT KAI Budhi Mulyawan dan Direktur Utama PT KAI Ignasius Jonan. Jonan sekarang menjadi Menteri Perhubungan.

Kantor pusat PT Kereta Api Indonesia pindah dari Jakarta ke Bandung pada 1916. Saat pindah nama perusahaannya masih Staatsspoorwegen (SS) milik pemerintah kolonial. Kantor pusat SS menempati bangunan di Jalan Gereja (sekarang Jalan Perintis Kemerdekaan).

Pemindahan tersebut terkait rencana pengalihan ibu kota dan pusat komando militer Hindia Belanda ke Bandung. Perusahaan milik negara lainnya yang berpusat di Bandung adalah PT. Telkom, PT. Pos Indonesia, PT. DI, dan PT. Perkebunan Nusantara VIII.

Laman fikreatif.com menyebut bangunan yang menjadi Kantor Pusat PT KAI sebelumnya adalah hotel yang bernama Grand National. Fikreatif.com menyebut hotel ini berdiri akhir abad ke-19. Hotel ini tempat menginap para pembesar pemerintah Hindia Belanda ketika berkunjung ke Bandung.

Bangunan ini direbut Angkatan Moeda Kereta Api (AMKA) dari pemerintahan Jepang. Peristiwa pengambilalihan terjadi pada 28 September 1945. Setelah itu terbentuklah Djawatan Kereta Api Republik Indonesia (DKARI). DKARI kemudian menjadi PT Kereta Api Indonesia (PT KAI) setelah sebelumnya beberapa kali berganti nama.

Bangunannya masih kokoh sampai sekarang seperti di bagian tengah yang sebelumnya berfungsi sebagai hotel. Bagian ini merupakan bangunan yang pertama kali dibangun. Ciri khas kontruksinya terbuat dari beton, pintu dan jendela menggunakan besi baja. Di gedung ini juga terdapat bungker yang dalamnya mencapai  7 meter. Bungker ini digunakan untuk  gudang dan tempat perlindungan perang.

Untuk mengenang para pejuang DKARI, di halaman bangunan ini terdapat monumen nama-nama karyawan yang ikut berjuang mempertahankan kemerdekaan. *

Fakta Gedung Kantor  PT KAI

  • Kantor pusat PT Kereta Api Indonesia pindah dari Jakarta ke Bandung pada 1916.
  • Laman fikreatif.com menyebut bangunan yang menjadi Kantor Pusat PT KAI sebelumnya adalah hotel yang bernama Grand National.
  • Bangunan ini direbut Angkatan Moeda Kereta Api (AMKA) dari pemerintah
  • Di gedung ini juga terdapat bungker yang dalamnya mencapai  7 meter. Bungker ini digunakan untuk  gudang dan tempat perlindungan perang.

Bahan Tulisan:  Pikiran Rakyat edisi Minggu 30 September 2012
http://fikreatif.com/2011/12/01/kantor-pusat-pt-kereta-api-edisi-bandung/

Gedong Sabau, Gedung Heritage di Jalan Kalimantan Bandung

JALAN-jalan di Jalan Kalimantan, Kota Bandung, tak hanya bisa menikmati rimbunnya pepohonan, tetapi juga bisa menyaksikan gedung tua yang masih terurus, dan indah jika dipandang. Gedung tersebut adalah Detasemen Markas Komando Militer (Denma Kodam) III/Siliwangi. Dulu namanya Gedong Sabau.

Tampak depan dan tampak samping gedung ini memang enak dipandang. Cat putih yang dominan di bangunan yang banyak jendelanya ini mempertegas kekokohan gedung ini. Dari kejauhan gedung yang berpagar tinggi ini sangat terlihat seperti bangunan tua di Bandung lainnya yang bergaya Eropa.

Gedong Sabau (Detasemen Markas Komando Militer (Denma Kodam) III/Siliwangi). | Foto serbabandung.com #serbabandung

Gedong Sabau (Detasemen Markas Komando Militer (Denma Kodam) III/Siliwangi). | Foto serbabandung.com #serbabandung

Di kawasan Jalan Kalimantan dan sekitarnya, bagi yang senang melihat gedung-gedung tua (cagar budaya), adalah kawasan yang tepat. Di samping gedung ini tepatnya di Jalan Belitung terdapat bangunan bekas sekolah orang-orang Belanda yang sekarang digunakan oleh SMA Negeri 3 dan 5.

Jalan sedikit ke Jalan Aceh, di sana ada Markas Kodam III Siliwangi yang juga kental dengan gaya Eropanya. Gedung yang berdiri pada 1981 tadinya disebut Paleis van de Legercommandant atau istana panglima tertinggi militer.

Penyelesaian gedung Detasemen Markas Komando Militer (Denma Kodam) III/Siliwangi ini membutuhkan waktu yang cukup lama. Dibangun pada 1908 dan baru bisa rampung pada 1913. Gaeung ini dirancang oleh arsitek VL. Slors. Gedung awalnya berfungsi sebagai gedung markas pusat komando militer Belanda.

Pembangunan gedung itu masih dari bagian pemindahan ibu kota Hindia Belanda dari pesisir ke pedalaman. Pemindahan itu menyusul kekalahan Belanda dari pasukan Inggris pada 1811. Bandung dipilih karena berada di dataran tinggi. Saat itu Bandung akan dijadikan pusat pertahanan militer sekaligus pemerintahan sipil.

Belanda memindahkan Departemen Peperangan/Pertahanan (Departement van Oorlog/DVO) dari Batavia ke gedung Detasemen Markas Komando Militer (Denma Kodam) III/Siliwangi sekarang. Gedung itu oleh masyarakat Bandung disebut Gedong Sabau. Dalam bahasa Sunda, sabau berarti satu bau=7.096 m2. Gedong Sabau dibangun di lahan seluas tujuh hektare.

Jadi jika melewati Jalan Kalimantan jangan lupa menyempatkan diri berhenti di depan gedung itu untuk sekadar menikmati bangunan yang memiliki historis yang panjang. Berjalan kaki lebih baik lagi karena bisa menyaksikan gedung itu dari dekat, meski hanya dari luar pagar yang tinggi. *

Gedong Sabau

  • Gedung ini mulai dibangun pada 1908
  • Baru bisa rampung pada 1913 Gaeung ini dirancang oleh arsitek V L Slors
  • Gedung awalnya berfungsi sebagai gedung markas pusat komando militer Belanda
  • Pembangunan gedung itu masih dari bagian pemindahan ibu kota Hindia Belanda dari pesisir ke pedalaman

Bahan tulisan
Pikiran Rakyat Minggu 7 Oktober 2012
http://archive69blog.blogspot.co.id/2014/03/gedung-detasemen-markas-kodam.html#ixzz3uUcxeF9G

Gedung DPRD Kota Bandung yang Ditempati 17 Juli 2014

MULAI 17 Juli 2014 anggota DPRD Kota Bandung  beserta stafnya mulai berkantor di Jalan Sukabumi No 30. Tadinya mereka berkantor di Jalan Aceh No 36 yang masih satu kompleks dengan Kantor Pemerintahan Kota Bandung. Gedung DPRD Bandung memiliki luas tanas 10.378 m2 dengan luas bangunan ±10.000 m2.  Untuk membangun gedung ini menghabiskan anggaran Rp 80 miliar. Gedung ini berhadap-hadapan dengan Kantor Dinas Kebakaran Kota Bandung.

Gedung DPRD Kota Bandung di Jalan Sukabumi Bandung. | Foto serbabandung.com #serbabandung
Gedung DPRD Kota Bandung di Jalan Sukabumi Bandung. | Foto serbabandung.com #serbabandung

Gedung ini terdiri dari tiga lantai. Lantai I terdiri dari 4 ruang bagian yang dipergunakan untuk PNS Sekretariat DPRD Kota Bandung, 1 Ruang Perpustakaan, 2 meeting room, 2 gudang, 1 ruang darma wanita, 1 ruang server,  2 dapur, dan 2 kamar mandi.

Adapun di lantai II terdiri dari 8 ruang AKD, 46 ruang Anggota DPRD, Lobi, 7 ruang fraksi, 1 ruang jaga polisi,  2 dapur, dan 2 kamar mandi.

Di lantai III  terdapat ruang rapat paripurna, 4 ruang pimpinan DPRD, 1 ruang Sekretaris DPRD, 1 ruang AKD, 2 kamar mandi, dan 2 dapur.

Anggota DPRD Kota Bandung periode 2014-2019 terdiri dari 50 orang. Jika pada periode sebelumnya legislatif di Kota Bandung didominasi oleh Partai Demokrat, kali ini  PDIP meraih suara terbanyak. Mereka yang terpilih berasal dari PDIP 12, Partai Gerindra 7,  Partai Golkar 6, Partai Demokrat 6,  PKS 6, Partai Hanura 6, Partai NasDem 4,  PPP 2, dan PKB 1.

Pimpinan DPRD Kota Bandung terdiri atas satu orang ketua dan tiga orang wakil ketua yang berasal dari partai politik yang memiliki suara terbanyak di DPRD. Pimpinan DPRD Kota Bandung ini di bentuk berdasarkan Keputusan DPRD Kota Bandung Nomor 01 Tahun 2009 tentang Tata Tertib DPRD Kota Bandung.

DPRD Kota Bandung terdapat 4 (empat) komisi, yaitu sebagai berikut,  yaitu Komisi A yang membidangi Hukum dan Pemerintahan, Komisi B: Bidang Perekonomian & Keuangan, Komisi C: Bidang Pembangunan dan Komisi D: Bidang Kesejahteraan Rakyat. Komisi merupakan alat kelengkapan DPRD yang bersifat tetap dan dibentuk oleh DPRD pada awal masa jabatan keanggotaan DPRD. *