Kawasan Kelenteng, Pesona Pecinan di Kota Bandung

INGIN merasakan suasana Cina Town (pecinan) di Bandung? Datang saja ke Jalan Kelenteng. Jalan ini merupakan salah satu kawasan Pecinan selain kawasan Pasar Baru, Jalan Pecinan Lama hingga Jalan Banceuy.

Untuk menuju ke Jalan Kelenteng bisa masuk dari Jalan Sudirman, atau dari Jalan Kebonjati. Bisa juga dari arah Jalan Cibadak. Di sini masih banyak pedagang yang menjajakan kuliner khas warga Tionghoa.

Bagi yang tidak boleh makan daging babi sebaiknya bertanya dulu pada pedagannya. Di sini memang banyak kuliner yang berbahan daging babi. Tetapi selain makanan yang berbahan daging babi ada juga yang terbuat dari nondaging babi, seperti bubur kacang tanah misalnya.

Deretan pedagang kuliner di Jalan Kelenteng Bandung. | Foto serbabandung.com # serbabandung
Deretan pedagang kuliner di Jalan Kelenteng Bandung. | Foto serbabandung.com # serbabandung

Di sepanjang jalan mulai dari Jalan Sudirman hingga tembus ke Jalan Kebonjati masih ada bangunan berasitektur gaya lama. Salah satunya yang ditunjukkan oleh pedagang di kios rokok tak jauh dari Vihara Satya Budhi. Kata dia bangunan yang dindingnya bercat putih dan kosennya berwarna biru  itu sudah ada sejak jaman Belanda.

Bangunan lainnya yang berada di depan gerbang Vihara. Rumah yang bagian depannya tertutup roda pedagang itu arsitekturnya masih bergaya lama. Di samping rumah itu pun demikian. Asitektur lamanya masih tetap dipertahankan.

Yang paling memesona di jalan ini adalah bangunan vihara. Namanya Vihara Satya Budhi. Dalam beberapa blog ditulis Vihara atau kelenteng ini diresmikan pada 1855. Ketika akan masuk vihara ini biasanya petugas keamanan yang berjaga di pintu gerbang akan menanyakan kepentingannya untuk apa.

Biasanya jika tujuannya untuk mengambil foto, petugas tersebut mempersilakannya. Asal jangan masuk ke vihara tersebut. Pengambilan foto hanya diperbolehkan di luar pagar depan vihara tersebut. Satu syarat lagi jangan sampai menggangu orang yang lagi beribadah di sana.

Di depan vihara tersebut terdapat lahan kosong yang cukup luas untuk parkir kendaraan yang akan beribadah. Di sana juga terlihat pohon besar. Yang menarik ada burung perkutut terbang bebas. Menurut orang yang kebetulan sedang berada di sana, di lapangan tersebut memang banyak burung perkutut yang terbang bebas. *

UPDATE

Di Jalan Kelenteng terdapat tempat wisata kampung Cina. Namanya Chinatown. Tempat wisata ini berada di Jalan Kelenteng No 41 Bandung. Di sini tersedia kuliner dan suvernir khas Cina.

Pesona Jalan Kelenteng Bandung

  • Jajanan Kuliner
  • Bangunan bergaya lama
  • Vihara Satya Budhi

Braga, Jalan Bersejarah yang Tetap Menyimpan Pesona

JALAN Braga adalah jalan yang paling terkenal  di Kota Bandung. Tak ada orang yang akan melewatkan jalan ini ketika berkunjung kota ini. Tua muda sudah dipastikan akan menikmati ramainya Braga pada pagi, siang, sore, atau malam hari.

Dalam wikipedia diceritakan bahwa Jalan Braga tadinya hanya hanya sebuah jalan kecil di depan permukiman yang sunyi. Saking sunyi, orang-orang dahulu menyebutnya jalan culik karena saking rawannya kawasan tersebut.

Jalan Braga mulai terkenal setelah pengusaha Belanda mendirikan toko di sana. Jalan ini semakin terkenal pada 1920-1930-an dengan munculnya butik yang mengambil model dari Paris, Prancis. Hingga sekarang Paris memang menjadi kiblat model pakaian di dunia.

Pembangunan Societeit Concordia (Gedung Merdeka sekarang), Hotel Savoy Homann, gedung bioskot di belalakang Societeit Concordia (New Majestic sekarang) ikut mendongkrak ketenaran Jalan Braga.

Tempat hiburan malam, dan kawasan remang-remang mulai bermunculan.  Jalan Braga semakin dikenal jalan yang menjanjikan hiburan malam.  Para turis pun semakin betah peleserin di jalan yang tidak terlalu panjang itu.

Di Jalan Braga Ada Braga Walk

Jalan ini memanjang mulai dari Jalan Asia Afrika hingga perempatan Jalan Wastukencana. Jalan ini juga terpotong Jalan Naripan. Jalan ini memiliki panjang 700 meter dan lebar 7,5 meter.

Di tepi jalan ini terdapat bangunan-bangunan yang bergaya lama. Masih ada yang dipertahankan, tapi ada juga yang sudah berubah.
Jalan aspal juga sudah diganti menggunakan batu andesit. Pergantian ini sempat menimbulkan kontroversi mengenai ketahanannya. Sekarang pun pemerintahan kota mengganti trotoar dengan granit.

Meski begitu, masih banyak turis lokal dan turis mancanegara datang ke sini. Para anak muda kerap berfoto di sana. Pelukis juga masih menjajakan karyanya di trotoar.

Pesona Braga sepertinya takkan lekang di makan zaman. *

Alkateri, Salah Satu Jalan Teramai Pada 1980-an di Bandung

JALAN Alkateri adalah jalan tembus dari Jalan Asia Afrika ke Jalan ABC. Jalanya tidak terlalu lebar dan dan tidak terlalu panjang. Tidak seperti jalan-jalan lain di kawasan ini, yang sering disebut Pecinan, Jalan Alkateri merupakan Kampung Arab.

Di sepanjang jalan berjejer toko yang berjualan tekstil seperti gorden. Sedangkan dekat dengan Jalan Asia Afrika berjejer pedagang pigura. Sekaligus juga jasa melukis. Para pelukis jalanan ini menawarkan jasa sesuai dengan keinginan konsumennya. Biasanya melukis diri konsumennya.

Selain terkenal karena toko tekstil dan pedagang piguranya di sini ada tempat kuliner yang cukup terkenal yakni Warung Kopi Purnama. Warung yang berdiri sejak 1930-an ini tepatnya berada di Jalan Alkateri No 22. Dari berbagai referensi yang diperoleh menerangkan bahwa warung ini didirikan oleh orang Medan yang merantau ke Bandung.

Kopi yang ditawarkan warung ini adalah Kopi Aroma yang punya cita rasa khas. Pabrik kopi Aroma tidak jauh dari warung itu yakni di Jalan Banceuy, yang termasuk kawasan Pecinan. Tak hanya kopi, di sini tersedia menu roti kukus dan bakar yang terdiri dari 25 macam rasa. Ada juga sajian sop buntut, timbel, dan nasi goreng.

Di warung yang buka pukul 06.30 dan tutup pukul 18.00 ini menenjual bubur ayam yang agak encer dengan topping kerupuk aci merah, suwiran ayam, cakwe lengkap dengan taburan lainnya.

jalan alkateri
Jalan Alkateri Bandung. | Foto serbabandung.com #serbabandung

Di Alkateri Ada Lotek Khas

Di Jalan Alkateri juga ada penjual wedang ronde. Paduan jahe dan gula merahnya terkenal sangat pas. Kekenyalan rondenya dengan isi bubuk kacang tanah yang manis menjadi ciri khas Wedang Ronde Alkateri. Wedang ronde ini dari sudah ada sejak 1984, dulu berdagang di pinggir jalan. Sekarang wedang itu pindah ke sebuah gang masih di jalan itu.

Kuliner lainnya yang ada di Alkateri adalah lotek yang khas. Lotek ini pun sudah terkenal. Banyak orang Jakarta yang tak bisa melewatkan khasnya lotek Alkateri. Penjual lotek ini berjualan di trotoar. Yang unik kemasan loteknya berbentuk kerucut seperti cone es krim.

Satu porsinya hanya Rp 10 ribu (harga ini belum tentu sama karena bisa saja penjualnyan sudah mengubah harganya) plus lontong. Lotek di sini ada dua pilihan, yang pahit dan yang tidak. Lotek pahit biasanya ditambahkan daun pepaya dan paria.

Pada 1980-an kawasan ini setiap malam selalu ramai karena ada sarana hiburan di mal Asia Afrika Plaza. Sekarang mal itu sudah berubah menjadi hotel milik Kagum Group yakni Golden Flower Hotel. *

Buah Batu, Jalan di Ujung Pusat Kota ke Arah Selatan

Jalan Buah Batu sekarang wuihh sulit membandingkannya dengan masa 80-an. Sekarang arus lalu lintas di jalan itu hampir dipastikan macet setiap waktu. Belum lagi polusi asap dari kendaraan yang lewat di jalan itu.

Jalan Buah Batu telah padat oleh pusat perbelanjaan, toko, restoran, kuliner waralaba, perkantoran, dan bank. Jalan yang tadinya untuk permukiman telah berubah menjadi kawasan bisnis yang maju dengan pesat.

Pada 80-an sebelum Jalan Soekarno Hatta membelah Jalan Buah Batu dan Jalan Terusan Buahbatu. Sebelum gerbang tol Buahbatu berdiri, jalan ini menjadi salah satu jalan yang nyaman. Saat itu masih ada sawah yang terhampar. Kendaraan pun sudah pasti tidak sepadat sekarang.

Jalan ini adalah penghubung kawasan kota dengan daerah Bandung Selatan seperti Dayeuhkolot. Dulu jalan ini hanya jalan alternatif karena jalan utama yang menghubungkan kawasan Dayeuhkolot dan Kota Bandung adalah Jalan Moh Toha. Namun perkembangan permukiman di Bandung Selatan yang begitu pesat membuat jalan ini lambat laun menjadi pilihan utama warga. Jalan buahbatu pun terus berkembang.

Dalam buku “Jendela Bandung: pengalaman bersama Kompas” karya Her Suganda, disebutkan tempo dulu Jalan Buahbatu pernah menjadi landasan darurat untuk pelarian kaum sipil, dan petinggi militer Belanda. Mereka berhasil melarikan diri dari kejaran tentara Jepang setelah pesawatnya berjasil take off di jalan ini.

pintu tol buah batu
Pintu tol Buahbatu yang semakin meramaikan kawasan Buahbatu. | Foto serbabandung.com.

Dalam Kompasiana.com, Bembeng Je Susilo juga menulis Belanda sempat meloloskan para pembesar sipil dan militernya seperti; H.J van Mook, Van der Plas, bekas Komandan KNIL Jendral Mayor Van Oyen dan Komandan Dinas Intelejen Kapten Spoor. Pelarian tersebut dilakukan dengan pesawat terbang melalui Jalan Buahbatu yang saat itu dijadikan landasan pacu.

Soal landasan udara merupakan kisah lama Jalan Buahbatu benar-benar telah berubah terutama pada 2000-an. Di sepanjang jalan berderet restoran terkenal, dan pedagang kaki lima berebut pembeli.

Sajian Kuliner Waralaba di Sepanjang Buah Batu

Di sepanjang Jalan Buahbatu pun terdapat restoran saji waralaba. Ada Pizza Hut di persimpangan empat Buahbatu-Jalan Pelajar Pejuang-Jalan BKR, McDonald, KFC dekat Griya, dan Richeese Factory depan Bank Mandiri setelah belokan Jalan Rajamantri Kulon. Kemudian ada Burger King dan waralaba liannya.

Masih banyak lagi sebetulnya pedagang kuliner yang berjualan di jalan ini, seperti tenda pecel lele, sea food, roti bakar, sate, dan masih banyak yang lainnya.

Pada 29 Mei 2011 kawasan ini mulai digelar Car Free Day (CFD). Tadinya CFD Buahbatu dimulai pada pukul 06.00 hingga 08.30. Kemudian waktunya diperpanjang menjadi sampai pukul 10.00. Adapun lokasinya sekitar 850 meter mulai dari Simpang Buah Batu-Jalan Pelajar Pejuang hingga Jalan Kancra.

CFD berlangsung untuk mengurangi polusi. Di kawasan ini semakin sini semakin padat oleh kendaraan. Kawasan tanpa kendaraan bermotor ini memberi ruang buat warga untuk berolahraga atau berekreasi.

Jalan Baru Menggantikan Nama Kawasan di Kabupaten Bandung Barat

Jalan Raya LembangTangkubanparahu mulai Jumat (13/7) berubah menjadi Jalan Ir Soekarno. Perubahan jalan tersebut berdasarkan Keputusan Bupati Bandung Barat No 188.45/Kep.–Bag Tapem/2018. Tak hanya jalan itu yang berubah atau bernama tapi ada 70 ruas jalan lainnya.

Berikut daftar nama jalan baru di wilayah Kabupaten Bandung Barat.

  • Simpang Cimareme – Simpang Citunjung: Jalan Raden Ahmad Kosasih
  • Rajamandala (Simpang Sari Mukti – Batas Cianjur): Jalan Ali Sadikin
  • Simpang Citunjung – Simpang Cipatik: Jalan Moch Idjon Djanbi
  • Jalan Raya Padalarang (Padasuka/Batas Cimahi) – Simpang Tol Padalarang: Jalan KH Abdurrahman Wahid (Gusdur).
  • Jl. Raya Padalarang (Simpang Tol Padalarang) – Simpang Citatah: Jl Ahmad Hassan
  • Padalarang (Simpang Citatah) – Simpang Sarimukti: Jl. KH. Ahmad Dahlan
  • Jl. Raya Purwakarta (Simpang Tagog) – Simpang Cihaliwung: Jl. Ki Astamanggala
  • Jalan Raya Purwakarta (Simpang Cihaliwung) – Cikalongwetan: Jl. Umar Wirahadikusumah
  • Jl. Raya Purwakarta (Simpang Cipeundeuy) – Cisomang (Bts. Purwakarta): Jl. Edi Sudrajat
  • Sp. Orion – Cihaliwung: Jl. Udjo Ngalagena
  • Padalarang (Sp. 3 Stasion Padalarang) – Sp. Cisarua: Jl. Sanusi Hardjadinata
  • Jl. Raya Lembang (Bts. Kota Bandung – Bts. Subang): Jl. Ir. Soekarno
  • Kawasan Grand Hotel (Lembang): Jl. Dajat Hardjakusumah
  • Lembang – Maribaya: Jl. R. Enoch Danubrata
  • Bts. Cimahi – Cisarua – Lembang: Jl. Iwa Koesoemasoemantri
  • Jl. Rajamandala – Cipeundeuy: Jl. Tumenggung Anggadireja I
  •  Cipeundeuy – Cikalongwetan: Jl. Tumenggung Anggadireja II
  • Cipatik – Nyalindung: Jl. H. Syape’i
  • Cililin – Sindangkerta: Jl. R. T. Hasan Sumadipraja
  • Sindangkerta – Celak: Jl. Godjali Gandawidura
  • Celak – Gununghalu: Jl. R. H. A. A. Wiranatakusumah V
  • Gununghalu – Bunijaya: Jl. Eyang Astawijaya
  • Bunijaya – Cilangari: Jl. KH. Aceng Royani
  • jalan soekarno kbb
    Jalan Soekarno di Lembang, Kabupaten Bandung Barat. | Foto http://bandungbaratkab.go.id/artikel/persemian-nama-baru-jalan-di-lembanghttp://bandungbaratkab.go.id/artikel/persemian-nama-baru-jalan-di-lembang

    Cilangari – Cisokan: Jl. H. Hamnar

  • Rancapanggung – Cijenuk: Jl. R. A. A. Martanegara
  • Cijenuk – Sarinagen: Jl. M. Rosid
  • Baranangsiang – Saguling: Jl. R. Apandi Wiraputra
  • Cangkorah – Bts Leuwigajah: Jl. KH. Muhammad Sirodz
  • Kayu Ambon – Kiwi Lembang: Jl. R. Wiranatukusumah I
  • Rongga – Cipari: Jl. Syekh Muhammad Ilyas as-Sibituni
  • Purabaya – Rancabali: Jl. G. A. Manulang
  • Jati – Saguling: Jl. R. T. E. Suriaputra
  • Purabaya – Gantungan: Jl. Rd. Suwendi
  • Sp. Tagogapu – Salakuning: Jl. Harja Ukanda
  • Cisomang – Cipada: Jl. KH. Masduki
  • Kb. Kalapa – Ps. Calung: Jl. Utara Al-Muharam
  • Cihanjuang – Parongpong: Jl. R. A. Wiranatakusumah II
  • Cipatik – Cililin: Jl. R. A. Kusumahdilaga
  • Batujajar – Pangauban – Girimukti: Jl. R. A. Wiranatakusumah IV
  • Cangkorah – Giriasih: Jl. Achmar Rustomal
  • Kertamukti – Sarimukti: Jl. KH. Hassbullah
  • Mekarsari – Cilame: Jl. Tumenggung Ardikusumah
  • Cimeta – Pasirlangu: Jl. Poeradiredja
  • Bunisari – Cikandang: Jl. KH. Muhammad Kurdi
  • Jambudipa – Citeureup: Jl. R. A. Wiranatakusumah III
  • Cihideung – Ciwaruga: Jl. Waruga Ditasraya
  • Puncrut (Bts Kota Bandung) – Pagerwangi – Cijeruk: Jl. R. Memed Ardiwilaga
  • Langensari – Simpangwaas: Jl. KH. E. Z. Muttaqien
  • Ciririp – Bangsaya – Buninagara (Bts. Ciwidey): Jl. Ading Darma
  • Cikade – Rancasenggang: Jl. H. Juhro
  • Rancasenggang – Wangunsari: Jl. H. Muslih Wangsa Miharja
  • Sindangkerta – Weninggalih: Jl. Emon Sutarman
  • Cijenuk – Pasirpogor – Puncaksari: Jl. Syekh Maulana Muhammad Syafe’i
  • Psr. Badak – Cimarel (Bts. Cianjur): Jl. Juatma
  • Selacau – Lagadar: Jl. Eyang Singadipraja
  • Cililin – Sukatani: Jl. Mangkunagara
  • Sumur Bandung (Cililin): Jl. Guru Madi
  • Terminal Cililin: Jl. H. Makbul
  • Citunjung – Haurngambang: Jl. Abbas Mad Hasan
  • Sindangkerta (Sindangkerta): Jl. KH. Ahmad Sanusi
  • Citapen – Ciraden: Jl. Tarma
  • Rancasenggang – Babakan (Rawabogo): Jl. Cakra Winata
  • Cipeundeuy – Cimerang – Cikandang: Jl. Moch. Arif
  • Kadudamping – Padayungan – Cikadongdong – Ciharashas: Jl. Kasepuhan
  • Rendeh – Mandalamukti: Jl. Ahmad Zakaria
  • Boscha – Wangun Sari: Jl. Boscha
  • Mama Adiwarta (Lembang): Jl. Adiwarta
  • Warung Awi – Pasirhaur (Bojongkoneng): Jl. Kinata Jaya Sukarta
  • Samsat – Sumur Bor – Cijamil: Jl. H. U. Hatta Djatipermana
  • Cipatat – Kertamukti: Jl. Anda Kertabudi
  • Jl. Industri: Jl. Sidik Danubrata