Categories
Jalan Monumen

Kampung Toleransi di Kawasan Cibadak, Kelurahan Jamika, Bandung

SEBUAH monumen berupa tembok berbentuk batu yang disanggah lantai berkeramik putih terlihat di pintu Gang Luna, Jalan Cibadak, Bandung. Di monumen tersebut tertempel sebuah prasasti yang ditandatangani oleh Wali Kota Bandung Ridwan Kamil. Prasasti tersebut merupakan penanda kawasan tersebut adalah Kampung Toleransi.

Ridwan Kamil mencanangkan kawasan Kelurahan Jamika, Kecamatan Bojongloa Kaler tersebut sebagai Kampung Toleransi pada Minggu 20 Agustus 2017. Selain di kecamatan Bojongloa Kaler, Kampung Toleransi lainnya berada di Kelurahan Paledang, Kecamatan Lengkong.

Bukan tanpa alasan kawasan tersebut disebut Kampung Toleransi. Toleransi di kawasan itu tercermin dari banyaknya tempat ibadah di lingkungan seluas 8,3 hektare ini. Masjid, vihara, dan gereja letaknya berdekatan. Warga pun tak ada yang merasa terganggu dengan keberadaan tempat ibadah tersebut.

Di kawasan tersebut terdapat Pesantren Da’arut Taubah (NU), Masjid An-Nashir (JAI), Gereja Katolik St. Mikael, GKI Kebonjati, GKP Kebonjati, GIA Budiman, Tempat ibadah SAKKHI (Harre Khrisna), Kong Miao MAKIN Bandung (Khong Hu Cu), Wihara Sinar Mulia (Tao), Vihara Dharma Ramsi (Tri Darma), Vihara Tanda Bhakti (Buddha), dan heritage Kota Bandung Kelenteng Besar Xie Tien Gong.

kampung toleransi
Monumen Kampung Toleransi di mulut Gang Luna, Jalan Cibadak, Bandung. | Foto serbabandung.com

Di RW 04 yang terdiri dari 16 RT terdapat enam gereja, empat vihara, dan dua masjid. Masjid Al Asro yang merupakan masjid terbesar di Kampung Toleransi ini terletak hanya sekitar 30 meter dari Gereja Rehoboth Jemaat Ebenhaezar. Adapun komposisi warga di RW tersebut adalah warga yang beragama Islam sebanyak 1.262, disusul Kristen Protestan 622, Katolik 154, dan Hindu empat orang.

Kampung Toleransi di Paledang

Adapun toleransi yang tercermin di Kelurahan Paledang, Kecamatan Lengkong terdapat di Gang Ruhana. Di gang tersebut berdiri berdampingan dalam jarak 50 meteran Gereja Pentakosta di Indonesia (GPdI) Lengkong Kecil, Masjid Al-Amanah, dan Vihara Giri Metta.

Wali Kota Bandung menyampaikan saat pencanangan, Indonesia lahir dari perbedaan. Di antaranya ras, suku, agama, dan budaya. Perbedaan tersebut memberikan pelajaran bahwa sebagai warga harus mampu saling menghormati dan menghargai setiap perbedaan.

“Nah di Bandung ada Kampung Toleransi. Wilayah yang bebas melakukan apa saja dalam hal positif. Kita lakukan kegiatan sesuai keyakinan boleh, asalkan membuat nyaman orang lain. Maka kebebasan dalam berkeyakinan sifatnya positif. Itulah yang dinamakan toleransi,” tuturnya di Pikiran Rakyat Online.

Categories
Jalan Wisata

Cibunut Berwarna Ceria di Tengah Kemacetan di Jalan Sunda

MINGGU (17/12/2017) siang Jalan Sunda, Kota Bandung, arus lalu lintasnya merayap. Terutama dekat super market Yogya hingga rel kereta api. Di jalan tersebut ada sebuah gang yang sering disebut Cibunut. Gang itu akhir-akhir ini sering diperbincangkan karena perubahan drastis dari sebuah kampung yang kumuh berubah menjadi kampung yang berwarna-warni. Kampung itu kini bernama Cibunut Berwarna.

Cibunut Berwarna berada di sebuah gang di Jalan Sunda atau tepatnya di Cibunut, Kelurahan Kebon Pisang, Kecamatan Sumur Bandung. Gang tersebut mudah ditemukan. Patokannya adalah sebelum tempat Biliar Manhatan. Dari arah Jalan Naripan, gang tersebut berada di sebelah kiri.

Cibunut berwarna mulai terlihat dari mulut gang. Sebuah jalan menurun di bagian dindingnya terlihat dicat biru dengan gambar abstrak. Di sana juga terlihat tulisan Cibunut Berwarna dengan dominan warna biru. Lebih masuk lagi rumah-rumah mulai kelihatan penuh warna.

Kawasan yang penuh warna tersebut berada di RW 07 yang terdiri dari 9 RT dari 10 RT yang ada. Ada 300 rumah yang dicat di wilayah seluas 5 hektare itu. Untuk menelusuri gang-gang tersebut terdapat denah yang menempel di sebuah dinding bangunan yang tak jauh dari mulut gang.

Cibunut Berwarna
Cibunut Berwarna di Cibunut, Kelurahan Kebon Pisang, Kecamatan Sumur Bandung. | Foto serbabandung.com

Tak hanya berwarna, tiap RT di kawasan tersebut memiliki ciri khas warna dan tema masing. Tema yang diusung dalam mural di dinding di antaranya lingkungan, perdamaian, kaulinan budak, sejarah hingga yang bertemakan pendidikan.

Siang itu di mulut gang terlihat kesibukan mewarnai gang yang berukuran tak kurang dari dua meteran itu. Dua orang pemuda sedang membereskan genting. Satu pemuda melemparkannya dari bawah sedangkan seorang lagi menangkapnya di atas bangunan yang akan direnovasi. Di dalam gedung itu beberapa pemuda sedang membereskan kaleng-kaleng cat yang digunakan untuk mengecat di dinding-dinding gang tersebut.

Cibunut Berwarna yang Bervariasi

Jika masuk ke dalam mural yang berada di gang itu semakin bervariasi. Mural sebuah air terjun dengan sungai berbatu tampak di pertigaan gang tersebut. Anak-anak dekat mural itu asyik bermain. Satu di antara mereka menggunakan sepatu roda, asyik didorong oleh rekannya. Tak jauh dari sana seorang permpuan memperhatikan ketiga bocah yang sedang bermain.

Di sebuah gang berukuran satu meter, dua orang sedang menggambar angsa lengkap dengan kolamnya di dinding rumah. Mereka tampak serius menumpahkan gagasannya. Sekali-kali seorang anak merengek meminta sesuatu dari ayahnya yang lagi mengecat. Di mulut gang kecil itu beberapa ibu-ibu sedang membeli bakso dari gerobak bakso yang lewat gedung itu. Cibunut berwarna tak hanya dindingnya yang berwarna tapi juga warganya “berwarna” mengisi kesibukan pada Minggu tersebut. *

Categories
Jalan Wisata

Jalan Asia Afrika Bandung Saat Dini Hari Masih Tetap Ramai

Mau tahu seperti apa kawasan Jalan Asia Afrika pada malam Natal, Senin (25/12/2017)? Suasananya seperti siang hari. Bahkan ketika jam menunjukkan pukul 01.00 pun orang-orang masih hilir mudik dan menongkrong di tembok atau di kursi yang tersedia.

Mereka ada yang berselfie, foto bersama, mengobrol, menyeruput kopi dari gelas air mineral yang dibeli dari penjual kopi keliling, dan makan makanan ringan yang dibekal.

Di bawah jembatan penyebrangan yang ada tulisan “Bumi Pasundan Lahir ketika Tuhan sedang Tersenyum” menjadi tempat favorit untuk berfoto. Para pelancong bergantian memanfaatkan spot tersebut untuk berselfie. Begitu juga di sebrangnya, latar belakang tulisan “Dan Bandung bagiku bukan cuma masalah geografis, lebih jauh dari itu melibatkan perasaan yang bersamaku ketika sunyi”. menjadi daya tarik tersendiri bagi pelancong untuk berpose.

Tak jauh dari sana monumen globe pun menjadi sasaran. Monumen yang didirikan menjelang peringatan ke-55 konferensi Asia Afrika ini favorit para pelancong untuk berfoto. Nama-nama negara yang tercantum di dinding monumen menjadi latar yang sering digunakan untuk berfoto. Selain itu tentu saja bola duanianya tak luput dari jepretan para pelancong.

jalan asia afrika
Menara kembar Masjid Raya Bandung terlihat dari Jalan Asia Afrika. Jalan Asia Afrika tetap ramai pada dini hari saat liburan panjang menyambut Hari Natal, Senin (25/12/2017). | Foto serbabandung.com

Halaman Gedung Merdeka pun merupakan tempat yang tak dliewatkan untuk berfoto. Gedung Merdeka adalah tempat berlangsungnya Konferensi Asia Afrika pada 18 April-24 April 1955. Di sinilah, negara-negara melahirkan Dasasila Bandung yang membakar semangat negara-negara peserta untuk bisa membebaskan diri dari kungkungan kolonialisme.

Tugu Konferensi Asia Afrika yang berada dekat Gedung PLN menjadi tempat berfoto lainnya. Tempat ini pun menjadi tempat favorit untuk menongkrong dan bercengkrama. Tugu ini tadinya berada di Simpang Lima. Menjelang peringatan ke-55 Asia Afrika tugu ini dipindahkan ke tempat sekarang. Tugu ini adalah karya pematung Soenaryo.

Zona Selfie di Jalan Asia Afrika

Zona selfie di dekat tugu juga menjadi tempat favorit. Pelancong tak hanya beraelfie. Mereka juga bisa berfoto dengan orang yang berkostum menyeramkan. “Hantu-hantu” yang bergentayangan di sana di antaranya pocong, kuntilanak, dan Nyai Roro Kidul. Untuk berfoto dengan hantu, pelancong hanya membayar sukarela yang dimasukan ke dalam kencleng yang telah disediakan.

Di Taman Alun-alun, di rumput sintetisnya, pada dini hari, masih banyak orang yang duduk bahkan tertidur. Setiap kelompok membuat lingkaran sendiri-sendiri. Mereka mengobrol, makan, dan bercengkrama. Tembok-tembok tempat duduk pun dimanfaatkan oleh mereka untuk beristirahat.

Senin dini hari itu yang datang bukan hanya orang Bandung. Mobil yang terpakir di Jalan Dalem Kaum dan Jalan Asia Afrima seberang Kantor Pos besar rata-rata berpelat luar kota, seperti dari Jakarta, Bogor, Cirebon dan daerah lainnya. Mereka datang ada yang bersama keluarga, teman, atau rombonga lain.

Sejak dipoles oleh Wali Kota Bandung Ridwan Kamil, kawasan Jalan Asia Afrika termasun Alun-alun menjadi tempat wisata favorit dan murah karena hanya bayar parkir saja untuk menikmati suasana jalan yang penuh sejarah tersebut.

Categories
Jalan Wisata

Jalan Sudirman Bandung Kawasan yang Tak Pernah Berhenti Berdenyut

JALAN Sudirman di Bandung adalah kawasan bisnis yang tak pernah redup sepanjang 24 jam. Pagi, siang, malam, dini hari, hingga subuh, kegiatan bisnis dan hiburan di kawasan ini kegiatannya terus berlangsung. Toko-toko, restoran, bergantian dengan tempat hiburan dan pedagang Pasar Andir, meramaikan kawasan tersebut

Pada pagi hingga sore, toko-toko siap melayani konsumen yang datang ke sana. Berbagai kebutuhan tersedia di sini. Mulai dari apotek hingga bengkel. Jika ingin berbelanja kebutuhan sehar-hari, di sana terdapat Pasar Andir. Salah satu pusat bisnis di Bandung ini pun terdapat bank-bank besar di negeri ini.

Untuk urusan kuliner Jalan Sudirman tak kalah oleh kawasan lain. Di kawasan ini terdapat pusat jajanan yang populer, yakni Sudirman Street. Pusat jajanan ini menjajakan berbagai kuliner di negeri ini hingga negara tetanga. Di jalan ini terdapat restoran-restoran Tionghoa yang siap melayani pelanggannya.

Jangan lupa juga di sini terdapat pabrik kue yang melegenda, yakni pabrik kue Tunggal yang memproduksi biskuit marie Tunggal. Kemudian ada penjual bakpao klasik, yakni Bakpao Min Yen. Tokonya tepat berada di simpang empat Jalan Astanaanyar dan Jalan Sudirman. Di persimpangan Jalan Klenteng ada restoran Bebek Klenteng yang khas rasanya.

jalan sudirman
Jalan Sudirman, Kota Bandung, pada malam hari. | Foto serbabandung.com

Karaoke di Jalan Sudirman

Malam hari, ketika toko-toko mulai tutup, tempat huburan di Jalah Sudirman mulai menggeliat. Di kawasan ini terdapat karaoke yang siap melayani penghobi hiburan malam di Bandung. Beberapa karaoke yang berada di kawasan ini di antaranya adalah Bunga Indah, Anggun Pub & Karaoke, Paladio Karaoke, Sahara, Hollywood, New Monaco, dan Bysma Pub & Karaoke.

Bagi yang ingin melenturkan kepenatan di sepanjang jalan ini pun terdapat panti pijat dan spa. Panti pijat dan spa ini buka berbarengan dengan tempat karaoke buka. Beberapa panti pinjat yang ada di sana di antaranya Panti Pijat Valentine, Panti Pijat Sandra, JJ Massage, Queen Refleksi, dan Bintang Massage

Berbarengan dengan itu, pedagang-pedagang pasar malam di kawasan Sudirman dekat Pasar Andir mulai membuka lapaknya. Tenda-tenda dengan penerangan listrik seadanya menghiasi trotar jalan di sana. Mereka berjualan hingga pagi hari saat orang-orang hendak mulai melakukan kegiatan.

Bagi yang ingin menginap di kawasan ini, ada beberapa hotel yang siap untuk dikunjungi. Satu di antaranya adalah Hotel Perdana Wisata. Perdana Wisata berada di Jalan Sudirman No. 66-68. Di jalan ini pun terdapat Sudirman Suites Apartment. Apartment yang menawarkan konsep Healthy Living Apartment, semua kamar tidur mendapat sinar matahari langsung.

Categories
Fasilitas Umum Jalan

Nagreg, Jalan Lingkar di Sana Jadi Pemecah Kemacetan

Nagreg adalah kecamatan  di timur  Kabupaten Bandung. Kecamatan ini berbatasan langsung dengan Kabupaten Garut.  Daerah ini menjadi terkenal karena  ada tanjakan di jalan nasional yang menghubungkan Bandung dan Garut juga Tasikmalaya. Arus lalu lintas di sana kerap macet terutama saat musim arus mudik.

Tanjakan Nagreg sepanjang 6 Km curam dan berkelok-kelok. Beberapa tikungan terlihat tajam membuat pengendara harus berhati-hati melewatinya. Kendaraan yang melewatinya harus prima agar  tidak mogok di kawasan ini. Kendaraan yang mogok sering menjadi penyebab arus lalu lintas menjadi macet.

Namun setelah ada jalan baru di kawasana Nagreg yang sering disebut lingkar Nagreg, kemacetan di tanjakan curam tersebut jarang terjadi. Kemacetan berpindah ke Kadungora  hingga Leles ke arah Garut dan Limbangan hingga Malangbong ke arah Tasikmalaya. Antrean kerap terjadi di kawasan tersebut saat arus mudik dan balik tiba.

nagreg
Terowongan Lingkar Nagreg. | Foto serbabandung.com

Jalan lingkar Nagreg sepanjang 5,4 Km mulai dibangun pada 2007. Pada 2010 pembangunannya selesai dan jalan baru tersebut digunakan. Namun kemacetan tetap terjadi ketika para pemudik mulai menggunakan jalan tersebut. Kendalanya tanjakan yang ada di jalan tersebut ternyata lebih curam ketimbang tanjakan yang berada di jalur lama.

Untuk mengatasi hal tersebut pemerintah melandaikan tanjakan tersebut. Proyek pun dilanjutkan. Pembangunan yang keseluruhan menelan anggaran  300 miliar harus membelah bukit.  Tebing digali hingga kedalaman 50 meter dengan alat berat yang dinamakan Giant Breaker.

Hasil penggalian membentuk jalan yang membelah gunung. Dindingnya setinggi 60 meter. Setinggi 10 meter dinding kiri dan kanannya dipasang balok beton berderet untuk mencegah pelapukan batu dari dinding  akibat cuaca. Di atas jalan dipasang balok-balok yang  jaraknya 2 meter antara tiap balok. Jalan yang membelah gunung tersebut dikenal terowongan lingkar Nagreg oleh masyarakat.

Ada Terowongan di Nagreg

Terowongan ini menjadi hal menarik ketika melewati kawasan tersebut. Tak jarang orang-orang berhenti di sana untuk sekadar berfoto dan berselfie dan kemudian mengunduhnya ke media sosial. Berbagai foto di kawasan ini beragam. Namun saat musim mudik petugas melarang warga untuk berfoto untuk melancarkan arus lalu lintas.

Beberapa puluh meter sebelum terowongan itu berjajar pedagang kaki lima. Mereka menjajakan minuman ringan, makanan, buah-buahan, cenderamata, dan makanan khas Jawa Barat. Para pengendara sering menepikan kendaraannya untuk beristirahat sambil mencicipi makanan yang telah disediakan. Seperti yang terlihat pada Selasa (27/6/2017).

Adalah Haryono sebagai penanggung jawab proyek nasional ini. Dia memangku jabatan sebagai Pejabat Pembuat Komitmen Proyek Jalan Lingkar Nagreg. Selain proyek Lingkar Nagreg dia pernah menangani beberapa proyek besar di Indonesia seperti Trans Kalimantan dan jalan 20 kilometer dari Rangkasbitung-Cikotok pada tahun 1992.

Sebagian bahan diambil dari  Kompasiana.com