Museum Sribaduga Bandung Buka Pada Malam Hari

Museum Sribaduga Bandung tengah berbenah. Museum ini kini menawarkan lima unit alat pamer koleksi multimedia digital kepada pengunjung. Lewat alat ini pengunjung bisa lebih banyak mendapatkan informasi dari benda-benda yang tersedia di museum ini.

Alat tersebut bakal diisi 10 klasifikasi benda koleksi dari 7.000 koleksi yang dimiliki Museum SriBaduga Bandung. Selama ini, dari 7.000 koleksi yang ada di museum baru 20 persennya yang sudah dipamerkan.

museum sri baduga bandung
Museum Sri Baduga Bandung. | Foto serbabandung.com #serbabandung

Pengopersian lima multimedia digital itu sepenuhnya dilakukan oleh pemandu Museum SriBaduga Bandung, yang sudah mendapat pelatihan. Pengunjung sendiri bisa melihat dan menyentuh multimedia digital tersebut, namun tidak bisa mengoperasionalkannya.

Multimedia digital yang didatangkan ini mirip dengan yang digunakan di Museum Nasional Jakarta. Hanya isinya saja yang beda. Kelima multimedia digital ini akan dipasang di ruang pamer dan lobi Museum Sri Baduga Bandung.

Museum Night di Museum SriBaduga Bandung

Penyediaan lima multimedia digital itu, dipersiapkan untuk program layanan baru di Museum Sri Baduga Bandung, yakni Museum Night, yang mulai berjalan tahun 2016. Museum night sebagai terobosan baru untuk antisipasi para pengunjung ke museum yang datang kemalaman, terutama dari luar daerah.

“Kasus ini sering terjadi, sehingga kami harus buka hingga larut malam. Atas dasar itu, kami berencana membuka museum night,” kata Kepala Balai Pengelolaan Museum Sri Baduga Bandung, Sajidin Aries, sesuai rilis yang dikutip Tribun Jabar, Selasa (5/1/2016).

Pengunjung Museum Sri Baduga Bandung Lebihi Target

Jumlah pengunjung Museum Sri Baduga Bandung selama tahun 2015 mencapai 134.000 pengunjung. Jumlah tersebut sudah melebihi target yang ditetapkan, yakni 120.000 pengunjung. “Mudah-mudahan dengan adanya multimedia digital ini, jumlah pengunjung akan semakin meningkat,” kata Aries.

Museum Sri Baduga di Jalan BKR No 185. Masuk ke museum ini harus membayar Rp. 3.000. Di sini pengunjung bisa menyaksikan kebudayaan manusia mulai zaman purba. Replika gua lengkap dengan replika tengkorak manusia purba dipajang di museum ini. Di sini juga terdapat replika arca yang pernah ditemukan di kawasan Jawa Barat. Koleksi lainnya bisa dilihat di bagian lain Museum Sri Baduga Bandung ini. *

Museum di Bandung, Wisata Alternatif yang Senang Sejarah

MUSEUM di Bandung menjadi alternatif. Di kota ini ternyata tidak hanya  surga buat penggemar kuliner, atau tempat nyaman bagi yang senang berjalan-jalan, tapi juga memiliki wisata untuk memperluas wawasan. Di kota ini terdapat museum-museum yang bisa menambah pengetahuan bagi pengunjungnya, seperti Museum Geologi, Museum Sri Baduga, atau Museum Pos.

Museum Geologi terletak di Jalan Diponegoro. Di Museum ini tersimpan  materi-materi geologi yang berlimpah, seperti fosil, batuan, dan mineral yang dikumpulkan sejak 1850.

Display yang terpampang di Museum Sri Baduga Jalan Peta Bandung. | Foto serbanbandung.com #serbabandung
Display yang terpampang di Museum Sri Baduga Jalan Peta Bandung. | Foto serbanbandung.com #serbabandung

Museum ini buka Senin-Kamis pukul 09:00-15:30, dan Sabtu-Minggu pukul 09:00-13:30. Jumat dan libur nasional museum ini tidak buka. Pengunjung bisa melakukan reservasi untuk pengunjung rombongan. Di sana juga bisa mengambil foto asal bukan untuk kepentingan komersial.

Museum lainnya adalah  Museum Sri Baduga. Museum ini terletak di Jalan BKR No 185. Bangunannya  terdiri dari tiga lantai. Di lantai 1, terdiri dari batuan (geologi), flora, fauna, manusia purba (Homo Erectus) dan prasejarah (Homo Sapiens). Juga ada  cekungan danau Bandung Purba, dan religi masyarakat dari masa Prasejarah sampai Hindu-Budha

Di lantai 2 menawarkan pesona religi masyarakat (masa Islam, Kong Hu Cu, Teoisme dan Kristen). Dilengkapi, sistem pengetahuan, bahasa, dan peralatan hidup. Sedangkan di lantai 3, terdiri dari mata pencaharian, teknologi, kesenian, pojok sejarah perjuangan bangsa, pojok wawasan Nusantara dan pojok Bandung Tempo Dulu.

Museum di Bandung di Dekat Gedung Sate

Jangan lupa juga untuk mengunjungi Museum Pos. Museum Pos ini berada di sebelah  Gedung Kantor Pusat PT Pos Indonesia di Jalan Cilaki 73. Bangunannya ada di sebelah timur Gedung Sate, tidak jauh dari kantor pemerintahan provinsi Jawa Barat.

Di museum ini pengunjung bisa menyaksikan perkembangan Pos di Indonesia dari masa ke masa. Mulai dari masa Kompeni dan Bataafsche Republiek (1707-1803), masa pemerintahan Daendels (1808-1811), masa pemerintahan Inggris (1811-1816), masa pemerintahan Hindia Belanda (1866-1942), masa Jepang (1942-1945) dan masa Kemerdekaan.

Pada 2013, Museum Pos sudah dilengkapi gadget Win Audio tour guide, yang  memudahkan pengunjung, untuk merasakan pengalaman berkeliling museum secara fun tanpa mengurangi nilai informasi edukasinya. *

Menjelajah Bandung Purba di Museum Sri Baduga

MAU tahu sejarah Bandung purba? Datang saja ke Museum Sri Baduga di Jalan BKR No 185. Masuk ke museum ini memang harus bayar.  Namun harga tiketnya sangat murah sekali hanya Rp. 3.000 saja. “Iya memang murah,” kata petugas penjual tiket di museum itu, Rabu (6/5/2015).

Ketika memasuki museum tersebut pengunjung kangsung disambut suasana purba. Sebuah replika gua lengkap dengan replika  tengkorak manusia purba mulai terlihat ketika masuk ke ruangan pertama di lantai satu ini. Di sini juga pegunjung bisa membaca keterangan mengenai perjalanan manusia. Kemudian kisah tentang pata manusia purba itu tinggal.

image
Replika arca di Museum Sri Baduga Jalan BKR Bandung | Foto serbabandung.com

Masih di ruangan itu terdapat replika arca yang pernah ditemukan di kawasan Jawa Barat. Di sana berderet tiga replika  arca, yakni replika arca tipe Pajajaran. Dalam keterangannya tertulis arca tersebut berangka tahun 1263 Saka atau 1314 Masehi. Ditulis dalam aksara kuno. Arca ini diperkirakan penggambaran leluhur pada zaman megalitik. Asal arca ini dari Cikapundung Bandung.

Replika arca Ganesha juga dipajang di sana. Arca ini berasal dari Jampang Tengah Kabupaten Sukabumi. Arca ini terbuat dari batu andesit. Ciri-cirinya adalah berkepala gajah menggunakan mahkota. Arca tersebut memiliki empat tangan.

Replika arca lainnya adalah arca Wisnu Cibuaya. Arca ini. Kepala arca ini menggunakan kota yang biasa disebut Kristamakuta. Arca ini juga terlihat menggunakan kalung dan ikat pinggang. Tangan ini ada empat yang masing-masing memeganh senjata.

Berlanjut ke ruangan lain pengunjung bisa melihat diorama mamalia yang pernah hidup di kawasan Jawa Barat. Di sini pengunjung bisa melihat gambar paus biru yang berukuran besar. Kemudian kudanil, kerbau purba, dan gajah.

Di bagian lain di ruangan ini terdapat alat peraga area bekas danau  Bandung purba di cekungan Bandung. Di sini pengunjung bisa menyaksikan gunung, sungai, dan bahkan situ di area tersebut. Pengunjung tinggal menghidupkan lampu penunjuk. Untuk sungai misalnya akan menyala lampu berwarna merah.

Masih belum puas? Pengunjung juga masih bisa menyaksikan benda-benda yang pernah dibuat pada zaman dahulu. Di sini ada gambar yang memperlihatkan proses pembuatan logam mulia. *

Museum Sri Baduga, Gedung Bekas Kawedanaan Tegallega

Museum Sri Baduga terletak di Jalan BKR No 185 tidak jauh dari Lapangan Tegallega. Museum yang dibangun terdiri dari tiga lantai ini menawarkan pesona masa lalu yang sayang untuk dilewatkan.

Sebelum bernama Sri Baduga, museum ini bernama Museum Negeri Jawa Barat. Pembangunan museum ini berlangsung sejak 1974 dengan menggunakan gedung pemerintah, yaitu bekas Kawedanaan Tegallega. Bangunan asli gedung tersebut tetap hingga kini masih dipelihara kelestariannya dan digunakan sebagai kantor administrasi.

Museum Sri  Baduga
Museum Sri Baduga di Jalan BKR No.185, Bandung. | Foto serbabandung.com #serbabandung

Museum Negeri ini diresmikan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI, Dr. Daud Joesoef didampingi oleh Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Propinsi Jawa Barat H. Aang Kunaefi pada 5 Juni 1980.

Pada 1 April 1990, sepuluh tahun setelah peresmian nama “Sri Baduga” mulai diginakan. Sri Baduga adalah raja yang memerintah di Pajajaran. Pada era Otonomi Daerah (OTDA) berdasarkan Perda No.5 Tahun 2002 sebagai Unit Pelaksana Teknis (UPT) bergabung dengan Dinas Kebudayaan Propisi Jawa Barat dengan nama Balai Pengelolaan Museum Negeri Sri Baduga hingga sekarang.

Museum Sri Baduga Terdiri dari Tiga Lantai

Museum Sri Baduga terdir dari tiga lantai, di lantai 1, terdiri dari batuan (geologi), flora, fauna, manusia purba (Homo Erectus) dan prasejarah (Homo Sapiens), cekungan danau Bandung Purba, dan religi masyarakat dari masa Prasejarah sampai Hindu-Budha

Di lantai 2 menawarkan pesona religi masyarakat (masa Islam, Kong Hu Cu, Teoisme dan Kristen), sistem pengetahuan, bahasa, dan peralatan hidup.

Adapun di lantai 3, terdiri dari mata pencaharian, teknologi, kesenian, pojok sejarah perjuangan bangsa, pojok wawasan Nusantara dan pojok Bandung tempo dulu.

Museum Sri Baduga telah dilengkapi lima unit alat pamer koleksi multimedia digital. Alat ini bisa lebih banyak memberikan informasi kepada pengunjung tentang benda-benda yang tersedia di museum ini.

Penyediaan lima multimedia digital itu, dipersiapkan untuk program layanan baru di Museum Sri Baduga Bandung, yakni Museum Night, yang mulai berjalan tahun 2016. Museum night sebagai terobosan baru untuk antisipasi para pengunjung ke museum yang datang kemalaman, terutama dari luar daerah.

“Kasus ini sering terjadi, sehingga kami harus buka hingga larut malam. Atas dasar itu, kami berencana membuka museum night,” kata Kepala Balai Pengelolaan Museum Sri Baduga Bandung, Sajidin Aries, sesuai rilis yang dikutip Tribun Jabar, Selasa (5/1/2016). *