NGOMONGIN rujak di Bandung takkan lepas dari Rujak Ciherang. Sajian makanan khas dari Ciherang, Kecamatan Banjaran ini sudah terkenal ke mana-mana. Apalagi bumbunya yang sudah seperti oleh-oleh khas Bandung Selatan ketika pelancong pulang dari kawasan Ciwidey.

Kekhasan bumbu Ciherang adalah kecombrang atau buah honjenya. Bahan lain yang ada di dalamnya adalah nanas, kedondong, bengkoang, jambu air, mangga muda, mentimun, ubi merah, dan buah-buahan lain yang lagi musim.

Di Jalan Macan No 1 pun ada penjual rujak yang sudah lama dan banyak penggemarnya. Di sini ada yang bebeg dengan bumbu khas. Bahannya terdiri dari mangga kweni, ubi, kedondong, bengkuang, pisang batu, dan nanas. Sebagian ditumbuk, sebagian lagi diiris.

Kedai di Jalan Macan ini sudah ada sejak 1974. Selain itu ada sekitar 30 jajanan lainnya yang dijual di sini. Di Bandung kedai ini sudah populer sejak 1980-an, dan hingga sekarang pun masih banyak yang datang dan mencicipi penganan khas Jalan Macan.

Rujak ulek di Jalan Pungkur patut dicoba. Pemilliknya sudah berjualan sejak 1970-an ini menawarkan juga asinan. Buah-buahan segar dengan bumbu gula dan kacang tanah sungguh menggoda selera. Kedainya berada tepat di Jalan Pungkur No. 239.

rujak
Roda buah-buahan. | Foto serbabandung.com

Rujak Unik Namanya Banci

Kalau yang ini hasil modivikasi. Namanya banci. Penganan ini merupakan campuran dari yang diulek dan rujak cuka. Bahannya terdiri dari buah-buahan yang diiris-iris ini dijual di Warung Lotek Kalipah Apo di Jalan Kalipah Apo No. 42.

Rujak Cireng tidak seperti pada umumnya. Bukan buah-buahan sebagai bahan utamanya melainkan penganan terbuat dari aci yakni cireng. Hanya saja penjualnya menyeduh cireng dengan bumbu. Rasanya yang pedas manis membuat.

Rujak juga dijual di jalan-jalan. Penjualnya menggunakan roda untuk menjajakan jajanan ini. Buah-buahannya terlihat segar tersimpan di kotak berkaca. Bumbunya rasanya manis dan bisa pedas. Penjualnya bisa ditemui di dekat keramaian atau di halaman sekolah.

Begitu juga dengan yang sajiannya dibebeg. Penjualnya menjajakannya menggunakan pikulan. Kalau ada yang membeli, pedagangnya mengeluarkan jubleg dan dan ulekan. Kemudian mengiris beberapa macam buah-buahan, bumbu, pisang muda, dan cabai rawai. Semua bahan dibebeg (ditumbuk) dalam jublek tersebut.

Bagikan kalau Anda menyukai informasi ini!

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.