Oray Tapa, Bumi Perkemahan di Gunung Manglayang

Oray Tapa adalah tempat wisata Bandung Timur bagi yang hobi berkemah. Bumi perkemahan di kawasan Cimenyan ini memiliki luas 5 hektare. Tepatnya di kaki Gunung Manglayang, Desa Mekarmanik, Kecamatan Cimenyan, Kabupaten Bandung.

Kawasan ini didominasi oleh tanaman Pinus dan Cemara yang luasnya mencapai 5 hektar dan berada di ketinggian 700 mdpl. Untuk menuju ke sana pengunjung harus melewati rute dengan dengan kontur jalan yang menanjak cukup panjang dan terjal. Namun, untungnya jalanan tersebut beraspal dan mulus.

Oray Tapa merupakan area perkemahan. Wisatawan yang berkemping di sini bakal disuguhi pesona alam di sekitarnya. Perkemahan di sini benar-benar area kemping yang bukan glamorous camping, seperti di tempat lain yang semakin hari semakin menjamur. Pengunjung harus bisa menyatu dengan alam untuk menikmati kemping tersebut.

Selain kemping, pengunjung bisa menikmati trek untuk bersepeda. Setiap akhir pekan trek menanjak ini seriang digunakan oleh pengunjung sambil menikmati pesona Gunung Manglayang. Tak hanya yang bersepeda, trek di  sana  sering dilewati juga oleh para kroser dan offroader. Mereka menjajal trek menanjak dan menurun di kawasan tersebut.

Fasilitas di Oray Tapa

oray tapa
Oray Tapa> | bandung.panduanwisata.com

Pengunjung jangan khawatir dengan fasilitas. Pengelola telah menyiapkan fasilitas yang memadai untuk para pengunung. Di sana telah tersedia toilet (MCK), musala, papan petunjuk, areal parkir, tempat duduk, selter, dan fasilitas lainnya. Tempat wisata di Gunung Manglayang ini buka 24 jam. Untuk menikmati itu semua wisatawan harus membayar Rp. 3.000 perorang.

Oray Tapa memiliki keunikan yakni mata air yang muncul saat musim kemarau saja. Mata air itu ditemukan pada 1997. Mata air itu hingga kini masih digunakan warga untuk kebutuhan hidup sehari-hari. Dari cerita yang berkembang air dari mata air tersebut bisa menyembuhkan berbagai penyakit.

Mengenai nama Oray Tapa pun menjadi kisah tersendiri. Oray Tapa dalam Bahasa Sunda yang dalam Bahasa Indonesia berarti ular semedi. Penamaan tersebut karena kontur jalannya meliuk-liuk seperti ular yang bertapa. Namun banyak warga sekitar mengbungkannya dengan zaman kerajaan silam.

Sumber Tulisan: tempatwisatadibandung.info

Bagikan kalau Anda menyukai informasi ini!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.