Masjid Agung Majalaya, Tetap Kokoh di Tengah Hiruk Pikuk


SABTU (7/5/2016), di pusat keramaian kota Kecamatan Majalaya sangat ramai. Banjir di Jalan Tengah yang terlihat seperti sungai baru tak menyurutkan orang untuk berbelanja atau sekadar jalan-jalan di sana. Mobil dan motor saling berebut jalan bersama delman yang sengaja diparkir di sebrang samping Masjid Agung Majalaya.

Hari itu bertepatan dengan kelulusan kelas 3 SMA setelah mengikuti Ujian Nasional. Rombongan siswa sebuah SMA lewat di jalan yang bajir itu. Motor mereka pacu pelan-pelan dan pengendaranya yang menggunakan seragam putih abu-abu penuh coretan cat pilox membunyikan klaksonnya sambung menyambung. Mereka ada yang berboncengan ada juga yang sendirian.

masjid agung majalaya
Masjid Agung Majalaya di Desa Majalaya, Kecamatan Majalaya, Kabupaten Bandung. | Foto serbabandung.com #serbabandung

Di halaman masjid, sore itu, hanya beberapa menit menjelang asar, beberapa orang yang duduk tidak terganggu ulah rombongan anak SMA tersebut. Mereka tetap menikmati rindangnya pohon yang berada di depan masjid. Dua perempuan yang duduk di tembok asyik memainkan handphone. Satu di antaranya kadang tersenyum sendiri sambil memandangi layar handphone.

Masjid Agung Majalaya adalah cagar budaya yang dilindungi berdasarkan Undang-undang Republik Indonesia No. 11 2010 tentang cagar budaya pasal 61, 66, 67, 77 ayat 5. Undang-undang tersebut mengatur tentang cagar budaya yang harus dilindungi. Siapa pun dilarang merusak, mencuri, memusnahkan, dan memisahkan sebagian atau keseluruhan bangunan.

Dalam tulisan yang dimuat Tribun Jabar edisi 26 April 2016 berjudul “Oasis di Tengah Hiruk-pikuk Kota Dolar” disebutkan masjid ini berdiri pada 24 Juni 1941. Dalam tulisan itupun dijelaskan sebagian besar bangunan masih asli sejak didirikan.

Masjid Agung Majalaya Sisa Bangunan Perang Ganeas

Di billboard yang terpasang di halaman masjid tertulis masjid ini merupakan sisa-sisa perang Ganeas. Perang Ganeas terjadi sekitar abad ke-7 antara Kerajaan Cirebon dan Kerajaan Sumedanglarang yang bersekutu dengan Banten. Pada masa penjajahan Belanda, tempat ini menjadi pusat penyebaran Islam dan untuk beribadah.

Tribun Jabar juga mengutip Kepala Bidang Kepurbakalaan pada Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Bandung, Dedi Sutardi, yang mengatakan bahwa masjid ini masjid agung satu-satunya di Kabupaten Bandung yang bangunannya masih dipertahankan ciri khasnya.

Satu di antara ciri khas yang kentara adalah atapnya bersusun tiga. Atapnya terbuat dari sirap atau kayu. Masjid itu ditopang empat pilar berbentuk bulat yang terbuat dari kayu. Di bawah pilar itu terdapat tembok berukir yang dicat putih. Dindingnya bercat hijau muda kombinasi hijau tua. Mihrabnya menjorok ke dalam dibatasi tembok melengkung bertuliskan kaligrafi berwarna hitam. Di bagian belakangnya terdapat jam tua. *

Bagikan kalau Anda menyukai informasi ini!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.