Gunung Purba Jejaknya Masih Terlihat di Tahura Juanda

BANYAK pengunjung Goa Belanda di Taman Hutan Raya Ir H Djuanda, ketika melintas dan menelusuri gua, tak menyadari,  di sana tersimpan jejak gunung purba. Gunung purba tersebut yakni Gunung Sunda dan Tangkubanparahu yang meletus pada seratusribuan tahun yang lalu. Penjelasannya bisa terlihat dalam tulisan dalam billboard dekat Goa Belanda.

Dalam tulisan itu disebutkan bahwa Goa Belanda yang terletak pada posisi koordinat 6″ 51″ 25.54″ dan 107″ 37″ 56.33″ BT dengan elevasi 958 meter di atas permukaan laut saat membangunnya menembus endapan batuan gunung api, yaitu endapan aliran piroklastika yang merupakan hasil erupsi gunungapi eksplosif berskala besar.

Disebutkan, batuan seperti ini sering disebut ignimbrit. Ignimbrit adalah aliran piroklastika yang mempunyai penyebaran yang sangat luas. Volumenya sangat besar dan berhubungan dengan pembentukan kaldera (kawah berdiameter lebih dari 2 Km).

Tulisan tersebut berjudul “Ignimbrit Gunung Sunda di Dago Pakar”. Penjelasannya dilengkapi grafis dan foto-foto. Billboard ini merupakan buatan Ikatan Ahli Geologi Indonesia Pengurus Daerah Jawa Barat dan Banten 2011. Bekerja sama sama dengan Badan Geologi dan Balai Taman Hutan Raya Ir H Djuanda Provinsi Jawa Barat.

gunung purba
Tulisan yang menerangkan terjadinya erupsi Gunung Purba dan jejaknya di Tahura Juanda. | Foto serbabandung.com

Pengunjung sepertinya kurang tertarik untuk membaca tulisan tersebut. Mereka lebih memilih untuk langsung masuk ke Goa Belanda. Hal itu seperti terlihat pada Sabtu (21/10/2017) sore, beberapa rombongan dan pengunjung perorangan tidak ada satu pun yang menyempatkan diri untuk melihat tulisan tersebut.

Bahkan tak hanya di Goa Belanda, dalam tulisan tersebut dijelaskan, jejak Gunung Purba juga bisa dilihat dari batuan-batuan di sekitar Dago Pakar. Batuannya tersusun berkat endapan-endapan batuan hasil erupsi gunung api yang berasal dari letusan Gunungapi Tangkubanparahu dan Gunungapi Sunda.

Gunungapi Sunda merupakan gunung api yang terbentuk jauh sebelum Gunungapi Tangkubanparahu lahir.

Letusan Gunung Purba Membentuk Kaldera

Masih dalam tulisan tadi disebutkan, aliran piroklastika adalah suatu aliran massa yang berasal dari letusan gunung api yang bersifat eksplosif. Aliran itu menuruni lereng gunung api dengan kecepatan mencapai lebih dari 160 km/jam dan suhu 100-700 derajat celsius. Tersusun atas fragemen-fragmen batuan berbagai ukuran dan gas, yang dalam skala besar dapat menjangkau jarak puluhan hingga ratusan kilometer dari sumber erupsi.

Berdasarkan analisis radiometrik batuan yang tersingkap di Dago Pakar merupakan endapan hasil letusan besar Gunungapi Sunda yang terjadi pada 105.000 tahun yang lalu. Letusan tersebut membentuk Kaldera Sunda dengan diameter terpanjang 7,7 km dan terpendek 6,5 km. Dinding Kaldera Sunda dapat dilihat dari sebelah barat Gunung Tangkubanparahu.

Saat itu sebanyak 66 km persegi material dierupsikan menutupi area seluas lebih kurang 200 km persegi dengan ketebalan rata-rata 40 meter. Penyebaran ignimbrit hasil letusan Gunungapi Sunda sangat luas. Menempati bagian timurlaut, baratdaya dan selatan tubuh Gunungapi Sunda, termasuk kawasan Dago Pakar. Endapan tersebut juga dipercaya membendung aliran Sungai Citarum di utara Padalarang yang kemudian membentuk Danau Purba berukuran raksasa. *

Bagikan kalau Anda menyukai informasi ini!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.