Curug Jompong, Potensi Wisata yang Terlupakan

CURUG Jompong di Nanjung, Margaasih, Kabupaten Bandung sempat menjadi polemik. Curug ini dianggap menjadi penyebab banjir di aliran  Sungai Citarum di Bandung Selatan, terutama di Belendah, Dayeuhkolot, dan sekitarnya. Untuk itu Curug ini harus dipangkas untuk menurunkan permukaan air di Dayeuhkolot.

Tadinya curug ini merupakan rempat wisata. Dalam laman-laman yang beredar disebutkan bahwa curug ini masuk dalam buku panduan wisata priangan tahun 1927 yang dibuat oleh Pemerintah Hindia Belanda. Namun, kini, jangankan untuk tempat wisata, kondisinya benar-benar mengkhatirkan karena tercemar sampah dan limbah industri.

Curug ini tak jauh dari lio atau tempat pembuatan batu bata merah. Dari sana tinggal menelusuri jalan setapak di ladang dan ilalanh. Tak ada petunjuk jalan atau yang lainnya. Curug ini tidak terlalu tinggi, namun kalau hujan, airnya sangat deras.

Untuk ke Nanjung bisa ditempuh melalui Batujajar dan dari Soreang. Kalau dari Soreang, bisa masuk dari Jalan Alfathu, samping Kantor Pemkab Bandung. Kemudian menelusuri Jalan Terusan Soreang-Cipatik. Sebelum sampai ke curug melewati dulu Stadion Si Jalak Harupat yang digunakan Persib untuk bertanding di Liga Indonesia.

Curug Jompong terbentuk dari batuan purba. Pada 1936,  orang Belanda van Bemmelen, pakar geologi,  penyusun buku The Geology of Indonesia,  menuliskan dalam keterangan petanya, di tempat pertemuan Ci Mahi dengan Ci Tarum di sekitar Curug Jompong, dijadikan contoh yang baik karena adanya batuan metamorf kontak antara batuan intrusif dan batu gamping.

Fakta sejarah itu diungkapkan Direktur Eksekutif Walhi Jabar, Dadan Ramdan, yang dikutip laman wisata.bandungoffroad.com dari PRFM. Dadan menyebutkan Bemmelen menemukan garnet, batu mulia sebesar biji delima.

Curug Jompong adalah Situs Bumi

T Bachtiar, Anggota Masyarakat Geografi Indonesia dan Kelompok Riset Cekungan Bandung, membenarkan fakta tersebut. Dalam tulisannya di Kolom Pikiran Rakyat 26 Maret 2016, dia menyebut Curug Jompong adalah situs bumi, laboratorium dan monumen bumi dalam rangkaian sejarah bumi Bandung.

Sejak 16.000 tahun yang lalu Danau Bandung Purba Timur, kata Bachtiar,  menyusut di Curug Jompong sekarang. Adapun nama Curug Jompong berati mojang atau remaja putri. Kerasnya batuan dianalogkan dengan mojang yang saat itu keras menjaga kehormatannya. Selengkapnya kolom Bachtiar bisa dibaca di  http://www.pikiran-rakyat.com/kolom/2016/03/26/364972/curug-jompong.

Foto: http://www.balebandung.com/bbws-citarum-pastikan-curug-jompong-tidak-disodet/

Bagikan kalau Anda menyukai informasi ini!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.