Ayam Goreng Suharti, Ayam Kremesnya Masih Jadi Favorit

AYAM Goreng Suharti termasuk restoran favorit pecandu olahan daging ayam. Menu yang paling dicari di sini adalah ayam kremes. Ayam kremes adalah ayam kampung yang dimasak di atas arang kayu selama 3 jam. Rempah-rempahnya merupakan pilihan terbaik khas Jawa yang menjadikan ayam ini lezat rasanya.

Ayam Goreng Suharti membuka restoran di Jalan Cipaganti No 171g. Restron ini merupakan restoran Suaharti pertama di Bandung. Sudah berdiri sejak 1990-an, restoran ini mengundang pecandu daging ayam untuk mencoba masakan khas restoran ini.

ayam goreng suharti

Ayam Goreng Suharti. | Foto serbabandung.com #serbabandung

Lokasi restoran tersebut  berada di sebelah kiri Jalan Cipaganti dari arah bawah. Restorannya tepat di tepi jalan pertigaan Jalan Cipaganti-Jalan Jurang. Billboard besar bertuliskan “Ayam Goreng Suharti” berwarna merah berlatar belakang warna kuning sudah terlihat dari kejauhan.

Lahan parkir di restoran ini cukup luas sehingga pengunjung tidak akan khawatir memarkir kendaraan di sana. Bahakan bus pun bisa parkir di sana. Suasana Cipaganti yang teduh juga menambah kenyamanan menikmati ayam goreng khas Suharti ini.

Setelah berhasil di Cipaganti, Ayam Goreng Suharti membuka restoran lainnya di Jalan Lodaya No 1. Berada di perempatan Jalan Burangrang-Talagabodas dan Jalan Lodaya membuat restoran mudah terlihat. Billboard yang tulisannya dan warna catnya sama dengan yang di Jalan Cipaganti mudah terlihat dari arah Jalan Burangrang maupun Jalan Lodaya.

Restoran di Jalan Lodaya ini mulai berdiri pada 2004. Lahan parkirnya tidak seluas di Cipaganti, tapi tetap nyaman buat pengunjung untuk memarkir kendaraannya di sana. Restoran di Jalan Lodaya ini tidak seluas di Jalan Cipaghanti, namun soal rasa dan menu tidak ada perbedaan.

Ayam Goreng Suharti juga ada di Jalan Soerkarno Hatta. Lokasinya berada di sebelah bila dari arah Cibiru. Rumah makan ini tidak jauh dari jembatan Riung Bandung. Bagi pengunjung yang dari arah Buahbatu atau Kiaracondong harus memutar dulu untuk ke rumah makan ini. Seperti di Rumah Makan Suharti lainnya, ciri khas billboard tampak terlihat di bagian depan rumah makan ini.

Rumah makan ini buka setiap hari mulai dari pukul 10.00-22.00, range harga mulai dari Rp. 17.500 s.d Rp. 97.000. Ayam Goreng Suharti menyediakan delivery service minimal order Rp. 150.000.

Ayam Goreng Suharti berasal dari Yogyakarta. Rumah makan ini berdiri pada 1972 dan berlokasi di Jalan Sucipto No 1984 Yogyakarta. Mulai 1984 ayam khas ini menyebar ke berbagai kota di seluruh Indonesia seperti di Jakarta, Bandung, Bali, dan Medan.

Ayam Goreng Suharti di Bandung

  • Jalan Cipaganti No 171 Bandung (022) 2032188-2038677
  • Jalan Lodaya No 1 Bandung (022) 7303829-7312689
  • Jalan Soekarno Hatta No 664 Bandung (022) 7531688-7531888

Hotel-hotel di Bandung yang Memiliki Jaringan Nasional dan Internasional

Hotel Santika Bandung adalah satu di antara jaringan hotel yang telah lama berdiri di Bandung. Hotel milik Kompas Gramedia ini mendahului pesaing-pesaingnya yang belakangan semakin melebarkan pasarnya ke Kota Bandung.

Hotel Santika Bandung berada di Jalan Sumatra 52-54, tepat di persimpangan Jalan Sumatra dan Jalan LLRE Martadinata (Riau). Hotel yang terdiri 4 lantai ini dibangun pada 1989 dengan menyediakan 75 kamar.

jaringan hotel santika

Hotel Santika di Jalan Sumatera Bandung. | Foto agoda.com

Hotel Horison di Jalan Pelajar Pejuang adalah jaringan hotel yang juga telah lama berdiri. Hotel ini bisa dibilang pelopor pendirian hotel di kawasan Buahbatu. Horison Hotel Bandung dibangun pada 1992. Pada saat itu kawasan Buahbatu belum seramai sekarang.

Hotel Horison pengelolaannya di bawah manajeman Metropolitan Golden. Metropolitan Golden telah berpengalaman selama 12 tahun mengelola hotel. Dalam laman resminya, disebutkan, Golden Management telah mengelola 33 hotel dengan jumlah kamar lebih dari 3.500 kamar.

Harris, Hotel Milik  Jaringan Hotel  Tauzia Hotel Management

Jaringan hotel lainnya yang membidik pasar di kota ini adalah Tauzia Hotel Management. Tauzia mendirikan Harris Hotel Bandung. Harris Hotel berdiri di Kompleks Festival Citylink sebuah mal di Jalan Peta No.241, Suka Asih, Bojongloa Kaler, Bandung. Selain Harris, Tauzia juga mendirikan Pop Hotel yang masih satu kompleks dengan Harris Hotel.

Harris Hotel maupun Pop Hotel berusaha memberikan kemudahan kepada para konsumennya. Seperti pendirian kedua hotel menyatu dengan mal diharapkan bisa memberi kemudahan buat tamu untuk berbelanja, mencari hiburan, atau sekadar berjalan-jalan.

Hilton Bandung Hotel sebuah bagian dari Hilton Hotels Corporation, yang berbasis di Beverly Hills, California juga melirik Bandung. Mereka mendirikan Hilton Hotel Bandung di Jalan HOS Tjokroaminoto No. 41-43, Pasirkaliki, Kota Bandung.

Hilton Bandung Hotel berdiri pada 2009. Hotel ini memiliki kamar 186. Hotel berbintang 5 ini menawarkan resepsionis 24 jam, layanan kamar 24 jam, penyimpanan bagasi, Wi-fi di tempat umum, dan tempat parkir mobil. Hotel ini tak jauh dari Stasiun Bandung. Adapun ke Pasar Baru tempat belanja para wisatawan bisa ditempuh hanya beberapa menit dengan kendaraan, dan kalau mau bisa berjalan kaki. *

Balai Besar Tekstil di Jalan Ahmad Yani Bandung

PERKEMBANGAN tekstil di Indonesia tak terlepaskan dari Balai Besar Tekstil (BBT). Balai yang berada di bawah Badan Penelitian dan Pengembangan Industri dan Perdagangan (BPPIP), Departemen Perindustrian dan Perdagangan, ini berkembang duluan sebelum pertekstilan di negeri ini dimulai.

Pada 1928, empat gadis asal Majalaya, Emas Mariam, Endah Suhaenda, Oya Rohana, dan Cicih dikirim ke Bandung. Mereka belajar tenun menggunakan alat tenun semi otomatis yang tidak membutuhkan listrik disebut alat tenun bukan mesin (ATBM) di BBT. Dari tangan keempat perempuan inilah teknik tenun dan dinasti-dinasti usaha tekstil rakyat Majalaya mulai berkembang.

balai besar tekstil

Balai Besar Tekstil di Jalan Ahmad Yani No.390, Kebon Waru, Batununggal, Kota Bandung, Jawa Barat. | Foto http://bandungside.com/

Mulai dari sini juga alat tenun bukan mesin (ATBM) mulai populer. Saat itu Textil Instituut en Batik Proefstation (TIB) dipimpin oleh Dalenoord sejak berdiri hingga 1934. Mesin itu juga menjadi titik mulai majunya industri tekstil Indonesia.

Balai Besar Tekstil berdiri pada 1922. Dulu namanya Textiel Inrichting Bandoeng (TIB). Pendirian balai ini merupakan prakarsa Ir. Surachman dan Prof. Dr. Bernard serta bantuan Bupati Bandung, Wiranatakusumah. Balai ini tergabung dalam lingkungan Departemen Landbouw Nijverheid en Handel (L.N.& H.).

Pada 1966 orang lebih mengebal lembaga ini Institut Teknologi Tekstil (ITT). Kemudian TIB strukturnya mengalami perubahan sekaligus pemisahan kelembagaan menjadi dua lembaga, yakni Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Industri Tekstil (BBPPIT) dan Sekolah Tinggi Teknologi Tekstil (STTT) pada 1979.

Pada 2002, Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Industri Tekstil (BBPPIT) berubah namanya menjadi Balai Besar Tekstil (BBT) di bawah Badan Penelitian dan Pengembangan Industri dan Perdagangan (BPPIP), Departemen Perindustrian dan Perdagangan.

Pada 2006 Balai Besar Tekstil (BBT) berada di bawah Badan Penelitian dan Pengembangan Industri (BPPI), Departemen Perindustrian. Departemen Perindustrian sendiri berubah menjadi Kementerian Perindustrian pada 2010. Adapun Balai Besar Tekstil berada di bawah Badan Pengkajian Kebijakan, Iklim dan Mutu Industri (BPKIMI).

Pendirian lembaga ini untuk memberikan pelatihan dan bimbingan kepada industri tekstil terutama pertenunan rakyat. Balai Besar Tekstil pun memiliki kewenangan melakukan pengujian terhadap bahan-bahan tekstil, seperti benang, cap dan obat-obatan, pengujian alat-alat tenun dan lain-lain.

Laboratorium Pengujian Tekstil Balai Besar Tekstil mendapat akreditasi dari National Association of Testing Authorities (NATA) Australia pada1994 dan Komite Akreditasi Nasional (KAN) Indonesia pada 2003. Akreditasi Laboratorium melalui asesmen audit dan penilaian oleh ahli-ahli professional berdasarkan persyaratan standar internasional yaitu ISO/IEC17025- 2005.

Gadung Balai Besar Tekstil berada di Jalan Ahmad Yani No.390, Kebon Waru, Batununggal, Kota Bandung, Jawa Barat.

Bahan tulisan:

bbt.kemenperin.go.id
lipsus.kompas.com
bandungside.com

Penjual Koran di Bursa Koran Cikapundung Bandung yang Sudah Sepi

SUBUH di Jalan Cikapundung Timur (sekarang Jalan Dr Ir Sukarno) samping belakang Gedung Merdeka  kesibukan sudah terlihat kira-kira sejak pukul 04.00. Mereka adalah penjual koran, penggerak roda sirkulasi koran, majalah, tabloid, dan cetakan lainnya yang terbit di Bandung, Jakarta, dan bahkan dari daerah lain.

Kawasan ini sejak dulu sudah menjadi tempat transaksi pembeli dan penjual koran, majalah, tabloid, dan cetakan. Dari berbagai referensi yang beredar di internet, kawasan ini mulai dikenal sebagai bursa koran pada 1970-an.

penjual koran di bursa koran cikapundung
Penjual koran di bursa koran Cikapundung, Jalan Dr Ir Sukarno, Bandung. | Foto serbabandung.com #serbabandung

Para penjual koran ini tadinya harus berpindah-pindah sebelum menetap di tempat sekarang. Tempat-tempat yang pernah mereka jadikan bursa koran di antaranya Stasiun HallLanud Husein, Jalan Arjuna, Stadion Sidolig, di belakang dan di depan Hotel Savoy Homann, Sarinah, dan Cikapundung Barat.

Tempat yang sekarang penjual koran tempati pun tak selamanya “aman” karena lokasi yang berdekatan dengan Gedung Merdeka ini harus steril jika ada presiden atau tamu penting lainnya datang.

Ketika peringatan ke-60 Konferensi Asia Afrika, pada 2015, para penjual koran juga sempat berketar-ketar karena tempat yang mereka biasa tempati direvitalisasi menjadi sebuah taman yang kini terkenal dengan sebutan Riverspot Cikapundung.

Penjual Koran Lewat PASKAM Sempat Mengeluh pada Wali Kota

Para penjual koran ini  melalui Persatuan Agen Surat Kabar dan Majalah (PASKAM) mengeluh sering ada gangguan dari aparat serta Satpol PP. Untungnya Wali Kota Bandung Ridwan Kamil memberi jaminan bursa koran di sana takkka ada yang mengganggu lagi.

“Pegang omongan saya, itu mungkin hanya oknum saja. Saya jamin tidak ada lagi yang mengganggu-ganggu lagi di sini,” kata Ridwan Kamil seperti dikutip Republika.

Denyut itu terasa juga pada Senin (9/5/2016). Pagi itu agen atau subagen tampak sibuk melayani pembeli eceran, pengecer, dan loper yang hendak mengirimkan koran-koran tersebut ke tangan pembaca. Mereka menjajakan koran, majalah, dan tabloid memanjang mulai dari Jalan Dr Ir Sukarno hingga ke Jalan Naripan.

Para loper koran itu harus sepagi mungkin mengirim koran-koran tersebut ke pelanggan. Loper adalah ujung tombak sirkulasi koran hingga saat ini. Selain loper, pengecer yang biasa menjajakan koran di jalanan pun merupakan ujung tombak bisnis ini. Sebagian mereka mulai dari kawasan ini menyebar ke seluruh Bandung. *

Bahan tulisan

my-other-corner.blogspot.co.id

Republika

Masjid Agung Majalaya, Bangunan Lamanya Masih Dipertahankan

SABTU (7/5/2016), di pusat keramaian kota Kecamatan Majalaya sangat ramai. Banjir di Jalan Tengah yang terlihat seperti sungai baru tak menyurutkan orang untuk berbelanja atau sekadar jalan-jalan di sana. Mobil dan motor saling berebut jalan bersama delman yang sengaja diparkir di sebrang samping Masjid Agung Majalaya.

Hari itu bertepatan dengan kelulusan kelas 3 SMA setelah mengikuti Ujian Nasional. Rombongan siswa sebuah SMA lewat di jalan yang bajir itu. Motor mereka pacu pelan-pelan dan pengendaranya yang menggunakan seragam putih abu-abu penuh coretan cat pilox membunyikan klaksonnya sambung menyambung. Mereka ada yang berboncengan ada juga yang sendirian.

masjid agung majalaya
Masjid Agung Majalaya di Desa Majalaya, Kecamatan Majalaya, Kabupaten Bandung. | Foto serbabandung.com #serbabandung

Di halaman masjid, sore itu, hanya beberapa menit menjelang asar, beberapa orang yang duduk tidak terganggu ulah rombongan anak SMA tersebut. Mereka tetap menikmati rindangnya pohon yang berada di depan masjid. Dua perempuan yang duduk di tembok asyik memainkan handphone. Satu di antaranya kadang tersenyum sendiri sambil memandangi layar handphone.

Masjid Agung Majalaya adalah cagar budaya yang dilindungi berdasarkan Undang-undang Republik Indonesia No. 11 2010 tentang cagar budaya pasal 61, 66, 67, 77 ayat 5. Undang-undang tersebut mengatur tentang cagar budaya yang harus dilindungi. Siapa pun dilarang merusak, mencuri, memusnahkan, dan memisahkan sebagian atau keseluruhan bangunan.

Dalam tulisan yang dimuat Tribun Jabar edisi 26 April 2016 berjudul “Oasis di Tengah Hiruk-pikuk Kota Dolar” disebutkan masjid ini berdiri pada 24 Juni 1941. Dalam tulisan itupun dijelaskan sebagian besar bangunan masih asli sejak didirikan.

Masjid Agung Majalaya Sisa Bangunan Perang Ganeas

Di billboard yang terpasang di halaman masjid tertulis masjid ini merupakan sisa-sisa perang Ganeas. Perang Ganeas terjadi sekitar abad ke-7 antara Kerajaan Cirebon dan Kerajaan Sumedanglarang yang bersekutu dengan Banten. Pada masa penjajahan Belanda, tempat ini menjadi pusat penyebaran Islam dan untuk beribadah.

Tribun Jabar juga mengutip Kepala Bidang Kepurbakalaan pada Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Bandung, Dedi Sutardi, yang mengatakan bahwa masjid ini masjid agung satu-satunya di Kabupaten Bandung yang bangunannya masih dipertahankan ciri khasnya.

Satu di antara ciri khas yang kentara adalah atapnya bersusun tiga. Atapnya terbuat dari sirap atau kayu. Masjid itu ditopang empat pilar berbentuk bulat yang terbuat dari kayu. Di bawah pilar itu terdapat tembok berukir yang dicat putih. Dindingnya bercat hijau muda kombinasi hijau tua. Mihrabnya menjorok ke dalam dibatasi tembok melengkung bertuliskan kaligrafi berwarna hitam. Di bagian belakangnya terdapat jam tua. *