Categories
Belanja

Penjual Sepatu di Tegallega Tawarkan Harga Murah dan Bisa Ditawar

Cari sepatu bermerek yang harganya murah? Datang saja ke penjual sepatu Tegallega di Jalan Oto Iskandardinata. Tepatnya di pertigaan Jalan Astanaanyar, dekat Lapangan Tegallega. Sepatu merk terkenal seperti Adidas, Nike, All Star Converse, dan lain-lain digelar di trotoar di jalan tersebut.

Jenisnya bermacam ada sneaker, pantofel, boots, dan sepatu khusus olahraga. Tak hanya sepatu di sini pun dijual sandal-sandal bermerk. Ada sandal untuk santai dan sandal gunung.

Pedagang kaki lima (pkl) sepatu tersebut mulai menggelar dagangannya sejak pukul 17.00. Mereka buka hingga larut malam. Mereka mendirikan tempat tidak permanen beratapkan terpal. Sepatu yang mereka jajakan bergeletakan di trotoar beralaskan plastik atau terpal. Malam itu masing-masing tenda memiliki penerangan lampu yang kabelnya dililitkan di sela-sela bambu atau besi penyanggah bagian atas tenda.

penjual sepatu
Penjual sepatu Tegallega di Jalan Oto Iskandardinata, Bandung. | Foto serbabandung.com

Harga sepatu yang ditawarkan mereka relatif terngkau. Sepasang sepatu berbagi merek dibanderol dikisaran Rp 100.000-150.000. Sepatu bermerek All Star berwarna hitam misalnya harganya Rp 135.000. Harga tersebut masih bisa ditawar hingga bisa menjadi Rp 100.000. Begitu juga dengan merek-merek lainnya.

“Silakan Pak. Yang All Stars itu harganya Rp 135.000. Harga hujan. Silakan bisa ditawar,” kata penjual sambil membereskan tumpukan sepatu di dekatnya, Selasa (2/5/2017).

Malam itu Bandung sedang gerimis, sehingg pedagang menyebut harga yang ditawarkan harga hujan. Pedagang lainnya ada yang menyebut harga yang mereka tawarkan adalah harga malam. Mereka melakukan apapun untuk menarik perhatian orang yang lewat di tenda-tenda.

“Harganya segitu Pak. Tapi silakan aja tawar. Ini harga malam Pak,” kata penjual sepatu lainnya kepada dua orang pembeli yang memilih-milih sepatu kulit bermerk. Tawar menawar sempat alot, meski akhirnya pembeli berhasil menawar harga sepatu yabg Rp 130.000 menjadi Rp 100.000.

Upaya Penjual Sepatu Menarik Pembeli

Sepatu bermerek yang mereka jajakan harganya bisa murah karena tiruan. Bentuknya memang seperti asli. Penjualnya pun mengakui kalau yang sepatu mereka jual merupakan tiruan. “Kalau yang aslinya mah bisa mencapai Rp 600.000,” katanya sambil menunujukkan sepatu bermerek All Stars.

Kawasan Astanaanyar adalah tempat penjual barang bekas di Kota Bandung. Sejak siang penjual berbagai barang berjuan di sana. Keberadaan mereka sudah lama sekali. Termasuk penjual sepatu ini. Untuk penjual sepatu, orang Bandung sering menyebutnya pasar lilin. Disebut pasar lilin karena penerangan yang mereka gunakan hanya sebatang lilin, bukan listrik PLN.

Pada 2013 hingga 2015-an sepatu yang mereka juga merupakan sepatu bekas. Kadang kalau lagi beruntung, pembeli bisa mendapatkan sepatu bermerek orisinil bekas yang harganya murah. Berbeda dengan sekarang yang penjualnya menjajakan sepatu baru bermerek tiruan. Bagaimana, siap untuk berbelanja? *

Categories
Wisata

Kolam Renang Tirtalega, Dulu Pernah Jadi Favorit

KOLAM renang Tirtalega adalah salah satu kolam renang yang sudah lama berdiri. Kolam ini berada di kawasan Lapangan Tegallega. Dulu kolam renang ini menjadi favorit warga Bandung untuk berenang selain Tirtamerta di Jalan Belitung yang sekarang jadi The Centrum tempat menggelar even.

Sekarang pun kolam renang ini tetap menjadi pilihan karena harga tiketnya yang murah Rp 3.000 untuk anak-anak dan Rp  5.000 untuk dewasa untuk hari biasa. Sedangkan untuk hari Minggu Rp 6.000 untuk semua kalangan. “Kami berusaha untuk menarik pengunjung,” kata seorang pengurus UPT Tegallega yang tidak mau disebutkan namanya, Jumat (23/1/2015).

Di Tirtalega terdiri dari dua kolam. Kolam yang pertama ada kolam kecil untuk anak-anak yang biasanya digunakan untuk pemanasan para perenang sebelum berlomba. Sedangkan kolam yang satu lagi adalah kolam renang standar untuk perlombaan. Di kolam ini sering diadakan lomba renang tingkat kota, provinsi, maupun nasional.

Meskipun sudah lama berdiri, pengurus kolam Tirtalega tidak mau tertinggal oleh kolam renang lain yang bermunculan, seperti di Hotel Horison, Batununggal, Bikasonga, Sabuga, Graha Tirta Siliwangi, Sampoerna Sports Center, Cipaku, dan kolam renang lainnya yang tersebar di kota ini.

“Kolam renang ini memang tidak sehebat dulu. Tapi kami siap bersaing dengan kolam-kolam lain di kota ini. Kami harus sejajar dengan kolam-kolam yang lain. Kami menjanjkan air yang dipakai di sini sehat,” kata pengurus UPT tadi.

Kolam Renang Tirtalega Dibangun Pada 1972

Kolam renang Tirtalega dibangun sebelum penataan Lapangan Tegallega dilakukan Pemerintah Kota  yang saat itu yang menjadi Wali Kotanya adalah R. Otje Djundjunan. Kolam renang tersebut mulai dibangun pada 1972  di atas lahan 1,65 hektare. Pada 5 November 1976 kolam itu diresmikan oleh Amirmachmud yang menjadi Menteri Dalam Negeri saat itu. Sedangkan Wali Kotanya telah beralih ke tangan H. Utju Djoenaedi.

Di inilah.com  Senin, 19 Mei 2014,  disebutkan Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Jabar berencana merevitalisasi kolam Tirtalega untuk venue polo air dan renang yang akan digunakan untuk PON 2016. Namun rencana itu bertolak belakang dengan Pemkot Bandung yang justru bakal membuat ruang terbuka hijau.

Di inilah.com Kepala Dispora Jabar Yudha M Saputra menuturkan, Pemkot Bandung menginginkan venue polo air dibangun di kawasan Caringin karena Tirtalega akan dibangun RTH. Pemkot Bandung  akan membangun sendiri pembangunan kolam renang tersebut menggunakan APBD Kota Bandung. *

Categories
Taman

Lapangan Tegallega, di Sini Bisa Bermain Bermain Bulutangkis

ADA yang unik di Lapangan Tegallega. Sekarang siapa pun bisa bermain bulu tangkis di sana. Jika tak punya raket ada jasa penyewaan. Lengkap dengan shuttlecock-nya. Beberap buah net tampak terbentang di sana. Tempatnya persis di depan Tugu Bandung Lautan api yang menjulang di lapangan tersebut.

Minggu (4/1/2015) sore anak-anak, remaja, ibu-ibu, dan bapak-bapak asyik memainkan raketnya. Langit yang mendung tak menyurutkan semangat mereka. Raket mereka mainkan untuk memukul shuttlecock. Angin yang besar sesekali menerpa dan mengubah arah shuttlecock.

“Harga sewa raketnya Rp 2.500,” kata seorang anak yang menenteng kaleng aibon. “Kalau sendirian mainnya sama saya. Bisa berdua,” katanya lagi.

Di setengah lapangan lagi, di lapangan yang berlapiskan paving block yang sebagian di antaranya sudah ditumbuhi rumput, dan kubangan cilencang, para lelaki tengah bermain sepak bola. Mereka sangat menikmatinya meski ukuran lapangannya jauh dari standar.

Jika terasa haus atau  perut merasa lapar di tepi jalan di lapangan tersebut ada  pedagang air, atau makanan.

Bung di Lapangan Tegallega
Bunga di Lapangan Tegallega

Mbak penjual sate juga ada. Yang berolahraga, atau yang sekadar jalan-jalan disana bisa beristirahat sambil menikmati minuman dan makanan.  “Te, sate, dek,” kata si Mbak menawarkan satenya dengan logat Madura.

Di seberang yang bermain bulu tangkis terhampar bunga-bunga kuning, kombinasi merah dan hijau. Tembok di tepi tempat bunga-bunga tersebut diduduki para remaja yang tengah santai di sore itu. Mereka tentu saja berpasangan. Sayang di sekitar itu pula banyak berserakan sampah plastik. Tidak hanya di kawasan itu saja, tapi hampir merata berserakan di lapangan tersebut.

Di sana juga terdapat pohon-pohon yang rimbun, membuat sejuk kawasan tersebut. Apalagi pada sore itu embun sedang menggelayut di kawasan lapangan itu. Hiruk piruk lalu lintas di jalan yang mengelilingi  Tegallega seperti tak terasa, meski suara klakson dan suara mesin masih terdengar samar-samar.

Di Lapangan Tegallega Terdapat Lapangan Sepak Bola

Jika ingin bermain sepak bola lebih serius di lapangan ini pun tersedia lapangan yang ukurannya mendekati standar. Sore itu pun di lapangan itu ada yang sedang bermain. Mereka tak peduli lapangan tersebut becek sekali. Sekilas lapangan tersebut seperti kubangan lumpur. Untuk masuk ke lapangan ini harus bayar Rp 3.000 pada hari biasa, sedangkan pada hari libur Rp 5.000. Harga tersebut yang tertulis dalam sebuah kain putih yang terbentang disebutkan sesuai dengan Perda No 21 Tahun 2012.

Seorang bapak tak menghiraukan tempat sekitarnya. Dia terus berjoging di lintasan lari yang mengitari lapangan tersebut. Bercelana training biru strip putih, dan berjaket hitam dengan bertutup kepala, dia terus berlari.

Sore hampir menjelang malam, dan Lapangan Tegallega akan tetap menyimpan cerita. Kisahnya akan terus berbeda mulai dari pagi, siang, sore, dan apa yang akan terjadi pada malam hari.*