Categories
Kuliner

Nasi Goreng di Bandung yang Jadi Buruan Pecinta Kuliner

Penjual nasi goreng di Bandung  tak terhitung. Mungkin hampir di semua kawasan pasti ada tukang nasi goreng. Baik itu yang berdagangnya menggunakan roda, mendirikan tenda, di kedai, di restoran, tau di kafe semuanya ada. Komplet pokoknya.

Jenisnya juga bermacam-macam, dan di Kota Bandung sepertinya semuanya tersedia. Ada nasi goreng kambing, nasi goreng sea food, nasi goreng padang, nasi goreng ala Singapura, nasi goreng cikur, nasi goreg ampela, nasi goreng tek tek, nasi goreng udang, atau nasi goreng lainnya. Pokoknya semuanya tersedia. Jadi tinggal pilih saja mau nasi goreng yang mana.

Nasi goreng adalah masakan yang berasal dari Tiongkok. Makanan ini terus menyebar hingga akhirnya sampai ke Asia Tenggara termasuk Indonesia. Di setiap negara, nasi goreng memiliki ciri khas masing-masing. Bisa juga tergantung bahan yang dicampurkan dalam nasi tersebut.

Secara umum nasi goreng adalah nasi yang digoreng yang dicampur dengan bumbu untuk penyedap, dan bisa juga rempah-rempah. Nasi goreng biasanya dibubuhi telur mata sapi atau dadar. Juga ada yang terlur didaduk ke dalam nasi tersebut. Dalam panyajiannya disertakan pula mentimun, tomat, dan sayuran lainnya.

Penjual nasi goreng di Bandung. | Foto serbabandung.com #serbabandung
Penjual nasi goreng di Bandung. | Foto serbabandung.com #serbabandung

Nasi goreng yang biasa dijual menggunakan roda, dipikul, atau di tenda di Bandung adalah nasi goreng yang ditambahkan kecap. Untuk menambah kelezatannya ditaburi ayam sewir. Ada juga pedagang yang menambahkan sosis. Harganya sudah pasti terjangkau kisaran Rp 10.000-12.000.

Di Bandung juga ada penjual nasi goreng tek tek. Pedagang ini biasanya menjual mi juga. Bedanya dengan nasi goreng biasa yang dijual adalah dalam proses penggorengannya. Pedagang nasi goreng tek tek tidak menggunakan kompor gas, melainkan anglo kecil yang bahan bakarnya dari arang. Harum pembakaran lebih memberi rasa harum pada nasi goreng yang telah jadi.

Mau coba? Hmmm mantap.Nasi goreng juga sudah lama mendunia. Nasi goreng pernah menjadi bagian dari menu makan malam Barack Obama. Presiden Amerika itu memuji kelezatan nasi goreng. Obama pernah berkunjung ke Indoesia pada 2010. Obama waktu kecil sempat hidup di Indonesia, tepatnya di Jakarta.

Di Belanda nasi goreng sudah menjadi makanan yang sangat mudah ditemukan. Hubungan historis dengan negara kincir angin ini ternyata membawa nasi goreng terbang ke sana. Bahkan sekarang suda ada nasi goreng instan dalam kemasan layaknya mi instan.

Pedagang Nasi Goreng di Bandung

  • Nasi Goreng Mafia
    Jalan Dipati Ukur No 51 Bandung
  • Nasi Goreng Jalan Saad, Nasi Goreng Jalan Soekarno Hatta depan Rumah Malan Cibiuk, Nasi Goreng Jalan Soekarno Hatta sebrang Pabriek Bajoe
  • Nasgor Hitam
    Rumah Makan Legoh
  • Nasi Goreng Awih
    Jalan Sadewa, Pajajaran
  • Nasgor Suryobundo
    Simpang Dago

Bila masih ada nasi goreng lezat lainnya,  tolong tambahkan di boks komentar di bawah ini. Terima kasih.

Categories
Kuliner

Nasi Goreng Enak di Jalan Saad Bandung

BAGI Agus (32) menjadi pedagang nasi goreng sudah mendarah daging. Dia mulai menjajakan makanan khas Indonesia ini sejak berusia 15 tahun. Dia meninggalkan kota kelahirannya Cirebon untuk mengadu nasib di Kota Bandung.

Agus memulai usahanya itu dengan mendorong rodanya berkeliling. Saat itu, kenang Agus, harga satu porsi nasi goreng harga Rp 1.500.  Sekarang harga satu porsi makanan ini  rata-rata Rp 10.000.  Dia terus berkeliling sebelum mendapatkan tempat yang cocok untuk berdagang di satu tempat.

Berkeliling selama dua tahun tak membuat Agus kapok. Dia terus menjaring pedagang di jalan- jalan di sekitar kawasan Naripan. Akhirnya Agus merasa mendapatkan tempat yang cocok. Agus memilih Jalan Saad untuk berdagang nasi goreng.

Nasi goreng Jalan Saad Bandung | Foto serbabandung.com
Nasi goreng Jalan Saad Bandung | Foto serbabandung.com

“Ya akhirnya menetap di sini. Saya berdagang di sini sudah kira-kira lima belas tahun. Sudah lama sekali,” kata Agus sambil membuat nasi untuk pembeli di tempat dagangnya, Jalan Saad, Kota Bandung, Sabtu (9/5/2015) malam.

Malam itu banyak pembeli yang harus bersabar menunggu giliran dilayani Agus. Tidak hanya yang memesan nasi goreng, tapi ada juga yang memesan mi rebus, cap cay, atau mi goreng. Agus melayani dengan sabar. Kadang dia juga bertanya pada pembeli, “Pedas, sedang, atau jangan pedas?”

Agus Menjual Nasi Goreng Tidak Sendirian

Ada yang unik ketika membeli nasi goreng Jalan Saad ini. Bagi yang baru pertama kali ke sana pasti kaget melihat Agus melemparkan nasi dari jarak satu meteran ke dalam katel. Nasi yang berada di belakang roda ini diambil Agus kemudian dilemparnya ke arah katel tanpa tumpah satu nasi pun.

Pembeli yang terbiasa melihat adegan itu hanya akan tersenyum. Paling ada yang berkomentar, “Kade ah Kang bahe (Awas Kang tumpah).” Menanggapi itu Agus hanya tersenyum dan kembali memegang serok menggoreng nasi yang sudah berada di katel. Agus berdagang nasi mulai petang hingga dini hari, atau sehabis bahan yang dibawanya.

Menurut Agus, dia berdagang tidak sendirian. Kakaknya juga sama-sama berdagang nasi goreng, namun lokasi rodanya berbeda. Kakak Agus menjajakan dagangannya setiap malan di perempatan Jalan Naripan-Tamblong di depan Bio Test. *