Categories
Belanja

Souvenir Khas Bandung, Mulai dari Angklung hingga Wayang

Ada beberapa tempat yang menjual souvenir khas Bandung. Satu di antaranya di kawasan Soekarno Hatta. Di sini banyak gerai-gerai yang menjual souvenir khas Bandung seperti wayang Cepot. Suvenir wayang dijual berupa gantungan kunci, wayang golek mini, dan pulpen wayang golek. Harganya berkisar Rp 15.000-650.000.

Tokoh-tokoh wayang yang dijual di sini sangat familiar. Si muka merah Cepot menjadi andalan, kemudian ada juga Dawala, dan Gareng. Tidak lupa juga karakter Buta yang sering menjadi musuh Cepot juga dipajang di sana.

souvenir khas Bandung
Penjual lukisan, souvenir khas Bandung, di Jalan Braga.

Galeri khusus wayang golek ada di Cupumanik Wayang Golek & Handycraft di Jalan H. Akbar No. 10 Kebon Kawung Bandung. Di sini souvenir khas Bandung yang ditawarkan adalah wayang mulai dari ukuran 15 cm-2 meter. Wayang-wayang untuk suvenir juga bisa ditemukan di Jalan Braga.

Souvenir khas Bandung yang dijual di Jalan Braga selain wayang adalah lukisan. Di sini banyak penjual kaki lima yang menjajakan lukisannya. Mereka kebanyakan menjual lukisan khas karya perajin Jelekong di Kabupaten Bandung.

Lukisan di Jalan Braga dijual juga di galeri seperti di Galeri Tatarah. Galeri ini usianya termasuk tua berdiri pada 1935. Galeri ini terkenal dengan koleksi lukisan naturalisnya. Lukisan koleksi di sini dari berbagai seniman lokal dan daerah di Indonesia. Di sini masih ada lukisan seniman pada 1920-an.

Souvenir Khas Bandung Berupa Angklung

Masih di Jalan Braga souvenir khas Bandung bisa diperoleh di toko cenderamata. Satu di antara Sin Sin Art Shop. Toki ini berada di Jalan Braga No. 59. Berbagai macam kerajinan tradisional dan modern dijual di sini, seperti patung kayu, kerajinan perak, gantungan kunci, wayang dan lain-lain.

Di Jalan Braga juga ada Rumah Seni Ropih. Di sana banyak dipajang lukisan. Rumah seni ini sering digunakan oleh para seniman untuk berkumpul dan bertukar pikiran. Terutama di bangunan bawah tanah di rumah seni ini. Rumah Seni Ropih berada di Jalan Braga Nomor 43.

Kalau ingin membeli souvenir khas Bandung berupa angklung bisa datang ke Saung Angklung Udjo di Jalan Padasuka 115, Bandung, 40192. Di sini terdapat gerai yang menawarkan suvenir berbagai ukuran angklung. Jika ingin menyaksikan pergelaran angklung di sana sebaiknya datang sore hari. Pertunjukan digelar setiap hari pukul 15.30-17.00.

Masih suvenir khas kota ini yang bisa dijadikan oleh-oleh. Kaus khas Bandung juga ada. Kalau yang ini bisa diperoleh di tempat-tempat penjualan kaus atau di mal-mal. *

Categories
Jalan

Jalan Braga, Dulu Ternyata Menyeramkan

JALAN Braga adalah jalan yang paling terkenal  di Kota Bandung. Tak ada orang yang akan melewatkan jalan ini ketika berkunjung kota ini. Tua muda sudah dipastikan akan menikmati ramainya Braga pada pagi, siang, sore, atau malam hari.

Dalam wikipedia diceritakan bahwa Jalan Braga tadinya hanya hanya sebuah jalan kecil di depan permukiman yang sunyi. Saking sunyi, orang-orang dahulu menyebutnya jalan culik karena saking rawannya kawasan tersebut.

Jalan Braga mulai terkenal setelah pengusaha Belanda mendirikan toko di sana. Jalan ini semakin terkenal pada 1920-1930-an dengan munculnya butik yang mengambil model dari Paris, Prancis. Hingga sekarang Paris memang menjadi kiblat model pakaian di dunia.

Pembangunan Societeit Concordia (Gedung Merdeka sekarang), Hotel Savoy Homann, gedung bioskot di belalakang Societeit Concordia (New Majestic sekarang) ikut mendongkrak ketenaran Jalan Braga.

Tempat hiburan malam, dan kawasan remang-remang mulai bermunculan.  Jalan Braga semakin dikenal jalan yang menjanjikan hiburan malam.  Para turis pun semakin betah peleserin di jalan yang tidak terlalu panjang itu.

Di Jalan Braga Ada Braga Walk

Jalan ini memanjang mulai dari Jalan Asia Afrika hingga perempatan Jalan Wastukencana. Jalan ini juga terpotong Jalan Naripan. Jalan ini memiliki panjang 700 meter dan lebar 7,5 meter. Di tepi jalan ini terdapat bangunan-bangunan yang bergaya lama. Masih ada yang dipertahankan, tapi ada juga yang sudah berubah.

Jalan aspal juga sudah diganti menggunakan batu andesit. Pergantian ini sempat menimbulkan kontroversi mengenai ketahanannya. Sekarang pun pemerintahan kota tengah mengganti trotoar dengan granit. Namun pengerjaannya terhenti karena pemegang proyek tidak bisa menyelesaikan pengerjaannya tepat waktu. Akibatnya Jalan Braga tidak beraturan. Arus lalu lintas di jalan ini pun  sering macet.

Meski begitu, masih banyak turis lokal dan turis mancanegara datang ke sini. Jumat (9/1/2015) sore, beberapa anak muda tengah berfoto tidak jauh dari pintu masuk Braga Walk. Pelukis juga masih menjajakan karyanya di trotoar yang belum jadi. Beberap orang tengah melihat-lihat lukisan tersebut

Pesona Braga sepertinya takkan lekang di makan zaman. *