Jalan Asia Afrika Pasca Lebaran

SEJAK Alun-alun dan Jalan Asia Afrika berubah, tempat ini menjadi tujuan wisata favorit baik buat pelancong kuar kota maupun warga di sekitar kota kembang. Begitu juga ketika liburan Lebaran. Jalan Asia Afrika pasca lebaran yang bertepatan dengan hari Minggu (19/7) kawasan tersebut padat oleh wisatawan.

Laju kendaraan yang melewati Jalan Asia Afrika terkena dampaknya. Mulai dari persimpangan lima hingga  perempatan Jalan Asia Afrika-Oto Iskandardinata laju kendaraan tersendat. Penyebabnya lalu lalang warga yang menyebrang di Jalan Asia Afrika.

Kawasan Gedung Merdeka menjadi tempat yang paling favorit untuk ber-selfie. Mulai dari Jalan Braga hingga ke Jalan Cikapundung Timur warga bergaya mengabadikan diri dengan background Gedung Merdeka. Ada juga yang berfoto di patung-patung tokoh yang ada di sana. Monumen Dasasila Bandung pun tak terlewatkan jadi objek foto yang favorit.

Gedung Merdeka adalah tempat penyelenggaraan Konferensi Asia Afrika pada 1955. Bangunan ini dirancang pada 1926 oleh Van Galen Last dan C.P. Wolff Schoemaker. Mereka adalah Guru Besar Technische Hoogeschool te Bandoeng (TH Bandoeng – yang kemudian menjadi Institut Teknologi Bandung – ITB).

Di seberang Gedung Merdeka di trotoar Bank OCBC NISP, yang dulu merupakan sebuah toko yang bernama Toko de Vries, warga pun berfoto. Bola-bola beton yang berada di trotoar itu juga tak luput dari sasaran warga untuk dijadikan background, atau berfoto sambil duduk di foto itu.

Sedikit catatan, Toko de Vries adalah toko serba ada. Pemiliknya  adalah Klaas de Vries, orang asing ke-1.500 yang tinggal di kota ini. Gedung ini dibangun pada 1899 bergaya arsitektur Oud Indisch Stijl (Klasik Indis), yang memiliki kekhasan berupa tiang-tiang kolom besar.

Tempat lain yang menjadi favorit adalah air mancur di Cikapundung Timur. Sesuai dengan namanya Cikapundung Waterfront Park, di sini terdapat  air mancur. Selain itu,  ada ornamen-ornamen air yang ditambah permainan cahaya (dancing water). Ada 24 lubang air mancur yang akan menyemburkan air ke area amphiteater dan area plaza. Keluarnya air diatur berdasarkan waktu.

Air mancur itu akan mengikuti alunan musik yang diputar. Ada dua lagu yang akan diputar untuk permainan air mancur ini, yakni lagu “Manuk Dadali” dan “Halo-halo Bandung”.

Pembangunan  Cikapundung Waterfront Park bagian dari program restorasi sungai yang dilakukan oleh BBWS. Cikapundung Waterfront Park merupakan pembangunan tahap pertama dari program restorasi sungai dikawasan Cikapundung Timur. *

Asia Afrika Bandung Ternyata Masih Jadi Favorit

PERINGATAN ke-60 Konferensi Asia Afrika telah berlalu. Peristiwa bersejarah pada 24 April telah “dirayakan” warga Bandung secara antusias. Berbagai ekspresi diperlihatkan orang Bandung memperingati peristiwa yang berpengaruh di belahan Benua Asia dan Afrika. Salah satunya berfoto ria di kawasan Jalan Asia Afrika Bandung dan Braga.

Selepas peringatan itu ternyata masih banyak warga yang menikmati  suasana baru Jalan Asia Afrika Bandung. Mereka berfoto, atau hanya duduk di kursi yang sengaja dipasang di sana menikmati lalu-lalang kendaraan yang lewat ke sana. Ada juga yang bercengkerama dengan teman atau dengan keluarganya.

Salah satu yang favorit adalah huruf raksasa “Braga” di perempatan Jalan Braga-Naripan persis di depan bank bjb. Warga bergiliran berfoto di huruf-huruf tersebut. Meski pada Minggu (3/5/2015) hujan menguyur Kota Bandung tak menyurutkan warga untuk tetap  berfoto di sana.

image
Huruf Braga berukuran raksasa di Jalan Braga di depan bank bjb Bandung menjadi tempat favorit untuk berfoto | Foto serbabandung.com

Tak hanya di sana, warga juga banyak yang berfoto di seberang huruf itu. Kursi-kursi yang dipasang di trotoar menjadi tempat favorit untuk berfoto. Mulai dari perempatan Braga-Naripan, depan New Majestic hingga Jalan Asia Afrika diramaikan  orang yang sengaja berfoto di sana.

Kemudian banner yang menutupi gedung Sarinah di Jalan Braga  yang masih dalam proses pembongkaran juga tak luput menjadi background warga untuk berfoto. Banner yang di antaranya bergambar logo Persib itu menjadi tempat favorit, selain gambar bandros yang menghiasi banner itu. Bandros adalah bus pariwisata khas Bandung.

Gedung Merdeka di Jalan Asia Afrika Bandung Masih Jadi Pilihan

Di depan Gedung Merdeka juga tak luput dari warga yang berfoto.  Mulai dari pintu ke museum Asia Afrika hingga pintu utama gedung bersejarah itu menjadi objek berfoto. Di seberangnya, gedung bernuansa Eropa,  toko de Vries (sekarang Bank OCBC Nisp) juga menjadi background yang menarik. Apalagi pada malam hari lampu-lampu dari jendela itu memberikan warna tersendiri.

Foto-foto berukuran besar di sisi barat Gedung Merdeka pun menjadi sasaran  warga untuk berfoto. Tugu Dasasila Bandung yang baru dipindahkan dari Simpang Lima ke dekat Gedung Merdeka digunakan warga secara bergiliran menjadi background untuk berfoto. Jalan Cikapundung Timur sore itu tampak ramai oleh warga yang sekadar jalan-jalan.

Di ujung jalan itu, warga bisa menikmati air mancur yang dibangun berbarengan dengan persiapan peringatan ke-60 Asia Afrika. Air mancur yang bisa mengikuti irama lagu itu semakin indah disoroti lampu-lampu berwarna warni. Taman ini dilengkapi meja dan kursi panjang berwarna merah dan amphitheater. Taman ini nyaman untuk bersantai. Tertarik ke sana? *

Asia Afrika, Kota Tua yang Terletak di Jantung Kota Bandung

JALAN Asia Afrika sudah terkenal di seantero dunia. Maklum jalan ini merupakan tempat berdirinya Gedung Merdeka yang sarat menyimpan sejarah negara-negara Asia Afrika. Di gedung inilah konferesi Asia Afrika berlangsung pada 18 April-24 April 1955 yang menggugah para pemimpin kawasan ini dengan menelorkan Dasasila Bandung. (Baca “Monumen Dasasila Bandung”).

Di jalan inilah  Marschalk Herman Willem Daendles, Gubernur Jenderal Hindia Belanda, yang  membangun jalan Anyer-Panarukan pada 1808-1811, menancapkan tongkatnya. Jalan Asia Afrika adalah bagian dari Grote Postweg (Jalan Raya Pos) yang membentang 1.000 km mulai dari Anyer ke Panarukan. (Baca “Titik 0 Km Bandung”)

Pal 0 Km tak jauh dari Hotel Prama Grand Preanger Hotel. Hotel ini  sudah bediri pada 1884.  Grand Hotel Preanger yang berarsitektur gaya Indische Empire direnovasi dan didesain ulang pada 1929 oleh Prof. Charles Prosper Wolff Schoemaker dibantu oleh mantan muridnya, Presiden RI pertama Ir. Soekarno (Baca “Prama Grand Preanger Hotel”).

Kantor Pos Besar Bandung Jalan Asia Afrika Bandung | FOTO serbabandung.com
Kantor Pos Besar Bandung Jalan Asia Afrika Bandung | FOTO serbabandung.com

Di Jalan Asia Afrika Berdiri Savoy Homann

Di jalan ini juga berdiri Savoy Homann Bidakara Hotel. Hotel ini  dibangun pada 1871. Awalnya dimiliki oleh seorang imigran asal Jerman, Mr. A. Homann, yang tiba di Tatar Priangan sekitar tahun 1870. Hotel ini semakin terkenal karena  kelezatan  rijsttafel Ny Homann. Hotel ini menjadi tempat menginap tamu-tamu terhormat Konferensi Asia Afrika pada 18 April-24 April 1955. Konon aktor komedi jaman dulu Charlie Chaplin pernah menginap di sini. (Baca “Savoy Homann Bidakara Hotel”)

Di samping Savoy Homann Bidakara Hotel terdapat gedung toko serba ada jaman dulu. Namanya  Toko de Vries. Sekarang gedung itu dimiliki Bank OCBC NISP. Gedung itu dibangun pada 1899. Bangunan tersebut bergaya arsitektur Oud Indisch Stijl (Klasik Indis), yang memiliki kekhasan berupa tiang-tiang kolom besar. (Baca “Toko de Vries”).

Di depan toko ini berdiri Gedung Merdeka. Gedung ini sarat sejarah. Gedung yang dulunya bernama  Sociëteit Concordia. Bangunan ini didirikan pada 1895. Pada 1926 bangunan ini direnovasi seluruhnya oleh Wolff Schoemacher, Aalbers dan Van Gallen. Gedung ini dulunya merupakan  tempat rekreasi orang Belanda. (Baca “Gedung Meredeka”)

Gedung Heritage di Sepanjang Asia Afrika

Di samping Gedung Merdeka, hanya terpisah Jalan Cikapundung Timur, terdapat Kantor PLN yang juga merupakan cagar budaya. Di deretan mulai dari Kantor PLN hingga pertigaan Jalan Banceuy terpadat gedung-gedung lama yang masih terpelihara seperti Gedung Nedhandel NV, Gedung Jiwasaraya, dan Gedung yang sekarang ditempati oleh Bank Mandiri. (Baca “Gedung Nedhandel NV”)

Gedung bergaya Eropa di Jalan Asia Afrika belum habis. Di sebrang gedung yang ditempati Bank Mandiri sekarang, terpisah Jalan Banceuy ada Gedung Kantor Pos. Gedung ini bergaya arsitektur art deco dan selesai dibangun pada 1928. Berajalan sedikit ke arah Jalan Sudirman di sana ada toko jaman dulu, namanya Dezon (Baca “Kantor Pos Besar”).

Di kawasan simpang lima juga terdapat gedung yang arsitekturnya bergaya Eropa. Sebuah gedung yang tepat di belokan Jalan Karapitan ke Jalan Asia Afrika terdapat gedung yang diarsiteki de Cuypers pada 1912. Dahulu gedung ini  digunakan sebagai apotik ‘De Voor Zorg’. Di sini juga dulu terdapat gedung Singer (Baca “Simpang Lima”). *

Toko de Vries, Toko Serba Ada Pertama

JAUH sebelum mengenal Yogya Departmen Store, atau Borma, Kota Bandung sudah berdiri toko serba ada. Lokasinya di Jalan Asia Afrika. Dekat dengan Hotel Homann, dan Gedung Merdeka. Namanya Toko de Vries.

Pemiliknya adalah Klaas de Vries. Dia adalah orang asing ke-1.500 yang tinggal di kota ini. Sebelum berada di lokasi sekarang toko ini berada di Alun-alun Utara tempat berdirinya BRI Tower.

Gedung ini jadi tempat kongko-kongko orang-orang Belanda ngopi sekitar tahun 1879. Mereka memiliki perkumpulan yang disebut Societeit Concordia. Kemudian mereka pindah  ke sebuah gedung masih di Jalan Asia Afrika,  yang bernama Societeit Concordia –sekarang bernama Gedung Merdeka

Baru  pada 1895 Toko de Vries diresmikan. Empat tahun kemudian, tepatnya pada 1899, pemilik toko tersebut membangun  gedung baru di lokasi sekarang. Bangunan tersebut bergaya arsitektur Oud Indisch Stijl (Klasik Indis), yang memiliki kekhasan berupa tiang-tiang kolom besar.

Toko ini disebut toko serba ada karena menjual berbagai kebutuhan bagi warga Bandung saat itu. Mulai dari peralatan dapur, makanan dan minuman, kain, sepatu, alat-alat tulis dan buku hingga obat-obatan.

Toko de Vries Dipugar Pada 2010

Seperti ditulis Pikiran Rakyat (PR), Senin (02/05/2011),  pada 1909 dan 1920, toko ini  dipugar oleh biro arsitek Edward Cuypers Hulswitt. Hasil pugarannya bergaya arsitektur Klasik Eropa dengan menara di pojok utara sisi timur bangunan atau sisi yang dekat dengan Hotel Savoy Homann.

Disebutkan pula pada 1990-an, gedung ini dikabarkan pernah dipakai sebagai toko yang menjual pakaian, rokok, rumah makan padang hingga disebut Toko Padang. Sekitar tahun 1960-an pernah dipakai studio foto, toko mebel dan diskotek. Pada era 1990-an, bangunan tersebut dibiarkan kosong.

Pada 2010, disebutkan PR, gedung ini kembali dipugar oleh arsitek Ir. David Bambang Soediono. Pemugaran ini menggunakan konsep rekonstruksi semi-restorasi karena ingin mengembalikan tampilan bangunan pada 1955.*