Kantor Pusat PT KAI Tempati Gedung Bekas Hotel di Viaduk

KAWASAN Viaduk Bandung menyimpan pesona. Selain tentu saja viaduk yang membentang di atas jalan dan Sungai Kapundung, kemudian dua patung pejuang karya Sunaryo, di sana ada bangunan yang masuk dalam cagar budaya di kota ini. Gedung tersebut kini digunakan untuk Kantor  PT KAI. Kantor tersebut merupakan kantor pusat.

Di depan gedung itu dekat pintu gerabang berdiri monumen Tedi. Tedi adalah nama lokomotif TD 1002. Lokomotif ini sengaja dipajang di sana. Lokomotif ini produksi tahun 1926 dan terakhir digunakan pada 1970.

Kantor PT KAI, Jalan Perintis Kemerdekaan
Kantor Pusat PT KAI, Jalan Perintis Kemerdekaan, Bandung. |Foto serbabandung.com #serbabandung

Monumen ini diresmikan pada 28 september 2009 bertepatan dengan hari ulang tahun ke-64 kereta api. Lokomotif ini diresmikan oleh Komisaris Utama PT KAI Budhi Mulyawan dan Direktur Utama PT KAI Ignasius Jonan. Jonan sekarang menjadi Menteri Perhubungan.

Kantor pusat PT Kereta Api Indonesia pindah dari Jakarta ke Bandung pada 1916. Saat pindah nama perusahaannya masih Staatsspoorwegen (SS) milik pemerintah kolonial. Kantor pusat SS menempati bangunan di Jalan Gereja (sekarang Jalan Perintis Kemerdekaan).

Pemindahan tersebut terkait rencana pengalihan ibu kota dan pusat komando militer Hindia Belanda ke Bandung. Perusahaan milik negara lainnya yang berpusat di Bandung adalah PT. Telkom, PT. Pos Indonesia, PT. DI, dan PT. Perkebunan Nusantara VIII.

Laman fikreatif.com menyebut bangunan yang menjadi Kantor Pusat PT KAI sebelumnya adalah hotel yang bernama Grand National. Fikreatif.com menyebut hotel ini berdiri akhir abad ke-19. Hotel ini tempat menginap para pembesar pemerintah Hindia Belanda ketika berkunjung ke Bandung.

Bangunan ini direbut Angkatan Moeda Kereta Api (AMKA) dari pemerintahan Jepang. Peristiwa pengambilalihan terjadi pada 28 September 1945. Setelah itu terbentuklah Djawatan Kereta Api Republik Indonesia (DKARI). DKARI kemudian menjadi PT Kereta Api Indonesia (PT KAI) setelah sebelumnya beberapa kali berganti nama.

Bangunannya masih kokoh sampai sekarang seperti di bagian tengah yang sebelumnya berfungsi sebagai hotel. Bagian ini merupakan bangunan yang pertama kali dibangun. Ciri khas kontruksinya terbuat dari beton, pintu dan jendela menggunakan besi baja. Di gedung ini juga terdapat bungker yang dalamnya mencapai  7 meter. Bungker ini digunakan untuk  gudang dan tempat perlindungan perang.

Untuk mengenang para pejuang DKARI, di halaman bangunan ini terdapat monumen nama-nama karyawan yang ikut berjuang mempertahankan kemerdekaan. *

Fakta Gedung Kantor  PT KAI

  • Kantor pusat PT Kereta Api Indonesia pindah dari Jakarta ke Bandung pada 1916.
  • Laman fikreatif.com menyebut bangunan yang menjadi Kantor Pusat PT KAI sebelumnya adalah hotel yang bernama Grand National.
  • Bangunan ini direbut Angkatan Moeda Kereta Api (AMKA) dari pemerintah
  • Di gedung ini juga terdapat bungker yang dalamnya mencapai  7 meter. Bungker ini digunakan untuk  gudang dan tempat perlindungan perang.

Bahan Tulisan:  Pikiran Rakyat edisi Minggu 30 September 2012
http://fikreatif.com/2011/12/01/kantor-pusat-pt-kereta-api-edisi-bandung/

Taman Makam Pahlawan Cikutra Dibangun pada 1958

TAMAN Makam Pahlawan Cikutra adalah taman makan pahlawan satu-satunya di Kota Bandung. Taman makam ini terletak di Bandung Utara. Tepatnya berada di kawasan Kelurahan Cikutra, Kabupaten Cibeunying Kidul, Kota Bandung. Taman Makam Pahlawan Cikutra dibangun pada 1958.

Taman makam pahlawan ini dibangun untuk mengenang jasa-jasa para pahlawan yang gugur dalam memperjuangkan kemerdekaan. Di sana makam pahlawan bernisan warna putih berderet rapi berhamparkan rumput hijau. Tampak juga pohon-pohon yang rindang di taman yang cukup luas tersebut.

Taman Makam Pahlawan Cikutra, Bandung. | Foto serbabandung.com #serbabandung

Taman Makam Pahlawan Cikutra, Bandung. | Foto serbabandung.com #serbabandung

Pintu gerbang yang menjulang sudah bisa terlihat dari persimpangan empat Jalan Surapati, Jalan PHH Mustofa dan Jalan Pahlawan. Dua tembok kembar itu kokoh berdiri di gerbang makam tersebut. Terdapat tangga yang mengarah ke kompleks permakaman melewati gerbang itu.

Di depan gerbang yang terpisahkan lahan parkir terdapat sebuah kolam yang di tepinya terdapat relief. Di atas kolam tersebut membentang sebuah jembatan. Lahan parkir di taman makam pahlawan ini cukup luas. Namun, di pingir taman ini, ada jalan yang kadang dibuka, dan kendaraan bisa masuk ke sana, terutama pada hari-hari besar.

Di tengah permakaman terdapat tiang bendera seperti tugu tempat berkibarnya bendera merah putih setengah tiang. Di sini kerap digunakan untuk upacara hari besar nasional, seperti Hari Pahlawan pada 10 November, HUT RI pada 17 Agustus atau pada 5 Oktober.

Tak jauh dari tugu itu terdapat sebuah dinding yang terdapat banyak marmer yang bertuliskan nama-nama pahlawan. Tak jauh dari  sana  terdapat monumen bertertuliskan “Teruskan perjuangan kami telah beri apa yang kami punya, Esa Hilang Dua Terbilang”.

Di antara pahlawan yang dimakamkan terdapat tokoh nasional yang dikebumikan di sini, dua di antaranya adalah Abdul Muis dan Eugene F.E. Douwes Dekker. Dalam laman wikipedia Abdoel Moeis disebutkan merupakan sastrawan, politikus, dan wartawan Indonesia. Abdoel Moeis merupakan pengurus besar Sarekat Islam, dan pernah menjadi anggota Volksraad mewakili organisasi tersebut

Adapun Douwes Dekker yang lebih dikenal dengan nama Danudirja Setiabudi adalah peletak dasar nasionalisme Indonesia pada abad ke-20. Dia adalah penulis yang selalu mengkritik kebijakan pemerintah Hindia Belanda. Douwes Dekker juga merupakan wartawan, aktivis politik, serta penggagas nama Nusantara. Di Bandung untuk mengenang jasanya terdapat Jalan Setiabudi. *

Taman Makam Pahlawan Cikutra

  • Dibangun pada 1958
  • Di sana berdiri monumen nama-nama pahlawan
  • Ada juga monumen yang bertuliskan Esa Hilang Dua Terbilang

Bahan tulisan

https://id.wikipedia.org/wiki/Ernest_Douwes_Dekkerhttps://id.wikipedia.org/wiki/Abdoel_Moeishttp://www.ragamtempatwisata.com/2013/12/taman-makam-pahlawan-cikutra-bandung-kota.html

Monumen Moh Toha Berdiri di Ujung Jalan Moh Toha

JALAN Mohammad Toha adalah salah satu jalan terpanjang di Bandung. Jalan ini membelah kota mulai dari persimpangan empat Jalan Balonggede-Jalan Pungkur-Jalan Moh Toha hingga ke Jalan Raya Dayeuhkolot. Jalan ini menyambungkan dua kota, yakni Kota Bandung dan Kabupaten Bandung.

Jalan ini melewati jalan-jalan penting di kota ini, seperti Jalan Ibu Inggit Garnasih (dulu Jalan Ciateul). Kemudian melewati kawasan Tegallega tempat lapangan Tegallega yang sering digunakan warga Bandung untuk berolahraga. Jalan ini memotong Jalan Soekarno Hatta yang juga menjadi salah satu jalan terpanjang di kota ini.

Monumen Moh Toha, Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung. | Foto serbabandung.com #serbabandung

Monumen Moh Toha, Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung. | Foto serbabandung.com #serbabandung

Sebelum tahun 1990-an ketika belum ada Jalan Soekarno Hatta (by pass) Jalan Moh Toha mulai dari Tegallega hingga kawasan industri sering disebut Jalan Cigereleng. Kawasan itu memang masuk dalam Kelurahan Cigereleng, Kecamatan Regol.

Di tepi jalan ini saat itu masih jarang rumah, hanya kolam dan sawah yang terlihat di sepanjang kawasan itu. Kawasan itu mulai berubah setelah ada Jalan Soekarno Hatta dan kemudian pintu tol Purbaleunyi. Kawasan tersebut menjadi kawasan berikat terutama setelah memasuki wilayah Kabupaten Bandung. Perbatasan Kota dan Kabupaten Bandung berada di jembatan tol Padaleunyi.

Penamaan Jalan Moh Toha ini bukan tanpa alasan. Di ujung jalan ini, di Kawasan Dayeuh Kolot terdapat tempat bekas gedung mesiu sekutu yang dibom oleh Moh Toha. Toha bersama rekan yang lain di antara Ramdan gugur dalam pengeboman tersebut. Peristiwa tersebut masih tekait dengan peristiwa heroik Banding Lautan Api yang terjadi pada 24 Maret 1946.

Untuk mengenang Pahlawan Toha di sana berdiri monumen Moh Toha. Tadinya monumen tersebut dibangun atas swadaya masyarakat pada 1957. Tetapi kemudian pada 1990-an pemerintah setempat merenovasinya dan merawatnya hingga sekarang.

Monumen itu berdiri di tepi kolam. Di sampingnya terdapat plakat yang berisi daftar prajurit yang gugur saat peristiwa Bandung Lautan Api. Di seberang kolam belakang monumen terdapat relief. Monumen itu berdiri kokoh berupa api yang menyala yang didaki oleh orang berseragam tentara. Di atas berdiri seorang berseragam tentara lainnya sambil memegam bom.

Mohammad Toha hingga sekarang belum dinobatkan menjadi pahlawan nasional. Upaya itu terus dilakukan oleh pemerintah, termasuk oleh pemerintah Kabupaten Bandung. Upaya tersebut belum berhasil hingga tahun 2015.

Selain jalan untuk mengenang Moh Toha di Kota Bandung ada sekolah yang bernama SD Moh Toha yang masih di Jalan Moh Toha dekat ITC Kebon Kalapa. Kodam III Siliwangi juga mengabadikan nama Mohammad Toha untuk nama sebuah gedung di Kologdam di Jalan Aceh. *

Jalan Mohammad Toha Bandung

  • Salah satu jalan terpanjang di Bandung
  • Di ujung jalan ini terdapat monumen Moh Toha
  • Melewati beberapa kawasan penting
  • Memanjang dari Jalan Pungkur ke Dayeuhkolot
  • Menjadi perbatasan dua kota, Kabupaten Bandung dan Kota Bandung

Hotel Ibis di Trans Studio, Salah Satu Hotel Terbesar di Asia

HOTEL Ibis Trans Studio adalah milik grup perhotelan Accor yang berpusat di Prancis. Hotel ini sudah menyebar di seluruh dunia. Di kota-kota besar mulai dari Amerika hingga Timur Tengah telah berdiri hotel ini.

Pangsa pasar jaringan hotel ini menyasar para pengusaha/pebisnis. Hotel yang mereka garap kebanyakan merupakan hotel bertaraf internasional dengan bintang dua atau tiga.

Hotel Ibis Trans Studio

Hotel Ibis Trans Studio, Jalan Gatot Subroto, Bandung. | Foto serbabandung.com #serbabandung

Di Indonesia sendiri ada 23 properti dengan brand ibis; yakni ibis Style, ibis, dan ibis Budget. Hetel-hotel tersebut berdiri seperti di Jakarta, Bali, Balikpapan, dan di Bandung. Secara global kelompok ini hingga 2013 telah mengelola 1.500 hotel.

Di Bandung pun ada beberapa Hotel Ibis, satu di antaranya yang berdiri di Jalan Gatot Subroto No 289 . Hotel ini merupakan Hotel Ibis terbesar se-Asia. Hotel ini resmi digunakan pada 8 Maret 2012. Bangunannya berdampingan dengan Trans Luxury Hotel yang juga masih satu kompleks dengan Trans Studio.

Hotel ini terdiri dari 22 lantai dengan memiliki 606 kamar. Sebenyak 222 kamar di antaranya merupakan kamar terhubung. Layanan kamar di sini melayani tamu selama 24 jam.

Di sini juga terdapat restoran dan bar untuk bersantai sekaligus menyantap hidangan. Fasilitas lainnya terdapat ruang pertemuan, dan layanan binatu. Di dalam kamar tersedia AC, TV LCD dan TV Kabel, SLJJ, kulkas, brankas, fasilitas teh dan kopi, pengering rambut, kunci kartu magnetik, dan detektor asap.

Di hotel ini disediakan fasilitas untuk kaum disabilitas agar mendapatkan akses memuaskan, sepertu fasilitas akses jalan, akses kursi roda, dan ada fasilitas untuk orang yang memiliki keterbatasan bersulit gerak dan juga kamarnya.

Akses ke hotel ini relatif tidak sulit. Dari gerbang tol Buahbatu tidak terlalu jauh. Waktu tempuh bisa saja menjadi lama jika di Jalan Buahbatu mengalami kemacetan. Jika lewat Jalan Ibrahim Ajie juga demikian, tergantung kondisi arus lalu lintas.

Adapun dari Bandara Husein Sastranegara bisa ditempuh 30 menit jika arus lalu lintas tidak macet. Sedangkan dari stasiun bisa sampai hanya 25 menit saja jika arus lalu lintas lancar. *

Kamar di Hotel Ibis Trans Studio

  • Kamar Standar Bertempat Tidur Queen
  • Tersedia 606 kamar kontemporer dengan AC, TV LCD dan TV Kabel, SLJJ, kulkas, brankas, fasilitas teh dan kopi, pengering rambut, kunci kartu magnetik, dan detektor asap
  • Kamar Standar dua tempat tidur single
  • Tersedia 606 kamar kontemporer dengan AC, TV LCD dan TV Kabel, SLJJ, kulkas, brankas, fasilitas teh dan kopi, pengering rambut, kunci kartu magnetik, dan detektor asap
  • Fasilitas di Kamar: AC, 220/240 V AC, Brankas di kamar, Telepon,
    Alarm bangun operator, Alarm bangun otomatis, Outlet RJ 11, Fasilitas penyeduh kopi/teh, Internet sangat cepat di kamar, Outlet RJ 45 2

Fasilitas di Kamar Mandi

  • Shower
  • Hair dryer

Lahan Parkir

  • Parkir umum dalam 2
  • Parkiran bus/bus wisata 2

Gedong Sabau, Gedung Heritage di Jalan Kalimantan Bandung

JALAN-jalan di Jalan Kalimantan, Kota Bandung, tak hanya bisa menikmati rimbunnya pepohonan, tetapi juga bisa menyaksikan gedung tua yang masih terurus, dan indah jika dipandang. Gedung tersebut adalah Detasemen Markas Komando Militer (Denma Kodam) III/Siliwangi. Dulu namanya Gedong Sabau.

Tampak depan dan tampak samping gedung ini memang enak dipandang. Cat putih yang dominan di bangunan yang banyak jendelanya ini mempertegas kekokohan gedung ini. Dari kejauhan gedung yang berpagar tinggi ini sangat terlihat seperti bangunan tua di Bandung lainnya yang bergaya Eropa.

Gedong Sabau (Detasemen Markas Komando Militer (Denma Kodam) III/Siliwangi). | Foto serbabandung.com #serbabandung

Gedong Sabau (Detasemen Markas Komando Militer (Denma Kodam) III/Siliwangi). | Foto serbabandung.com #serbabandung

Di kawasan Jalan Kalimantan dan sekitarnya, bagi yang senang melihat gedung-gedung tua (cagar budaya), adalah kawasan yang tepat. Di samping gedung ini tepatnya di Jalan Belitung terdapat bangunan bekas sekolah orang-orang Belanda yang sekarang digunakan oleh SMA Negeri 3 dan 5.

Jalan sedikit ke Jalan Aceh, di sana ada Markas Kodam III Siliwangi yang juga kental dengan gaya Eropanya. Gedung yang berdiri pada 1981 tadinya disebut Paleis van de Legercommandant atau istana panglima tertinggi militer.

Penyelesaian gedung Detasemen Markas Komando Militer (Denma Kodam) III/Siliwangi ini membutuhkan waktu yang cukup lama. Dibangun pada 1908 dan baru bisa rampung pada 1913. Gaeung ini dirancang oleh arsitek VL. Slors. Gedung awalnya berfungsi sebagai gedung markas pusat komando militer Belanda.

Pembangunan gedung itu masih dari bagian pemindahan ibu kota Hindia Belanda dari pesisir ke pedalaman. Pemindahan itu menyusul kekalahan Belanda dari pasukan Inggris pada 1811. Bandung dipilih karena berada di dataran tinggi. Saat itu Bandung akan dijadikan pusat pertahanan militer sekaligus pemerintahan sipil.

Belanda memindahkan Departemen Peperangan/Pertahanan (Departement van Oorlog/DVO) dari Batavia ke gedung Detasemen Markas Komando Militer (Denma Kodam) III/Siliwangi sekarang. Gedung itu oleh masyarakat Bandung disebut Gedong Sabau. Dalam bahasa Sunda, sabau berarti satu bau=7.096 m2. Gedong Sabau dibangun di lahan seluas tujuh hektare.

Jadi jika melewati Jalan Kalimantan jangan lupa menyempatkan diri berhenti di depan gedung itu untuk sekadar menikmati bangunan yang memiliki historis yang panjang. Berjalan kaki lebih baik lagi karena bisa menyaksikan gedung itu dari dekat, meski hanya dari luar pagar yang tinggi. *

Gedong Sabau

  • Gedung ini mulai dibangun pada 1908
  • Baru bisa rampung pada 1913 Gaeung ini dirancang oleh arsitek V L Slors
  • Gedung awalnya berfungsi sebagai gedung markas pusat komando militer Belanda
  • Pembangunan gedung itu masih dari bagian pemindahan ibu kota Hindia Belanda dari pesisir ke pedalaman

Bahan tulisan
Pikiran Rakyat Minggu 7 Oktober 2012
http://archive69blog.blogspot.co.id/2014/03/gedung-detasemen-markas-kodam.html#ixzz3uUcxeF9G