Wisata Kuda di Bandung yang Relatif Murah Berada di Tengah Kota

SUKA naik kuda? Bagi yang tidak punya kuda sebaiknya jangan mengurungkan niat untuk  menunggangi kuda karena di Bandung ada beberapa wisata berkuda. Sekali tunggang  harganya relatif murah. Tetapi tentu saja waktu dan medannya terbatas.

Mau tahu di mana saja? Yang pertama di kawasan Cilaki. Di sini ada beberapa joki yang menyewakan kudanya. Biasanya beroperasi pada hari libur. Namun ada juga yang menyewakan kuda  pada hari-hari biasa. Apalagi setelah revitalisasi taman di kawasan tersebut, banyak  pengunjung datang ke sana.

Penyewa kuda-kuda di sana biasanya anak-anak. Jarang sekali orang dewasa yang menunggang kuda.  Rutenya mengelilingi taman Lansia yang berada di Jalan Cilaki. Ada juga yang mengelilingi  Taman Pustaka Bunga. Rutenya memang hanya di sekitar sana. Sekali jalan penunggang harus bayar  kisaran Rp 20.000-30.000.

Pangkalan delman dan kuda sewaan di Terusan Buahbatu Bandung. | Foto serbabandung.com #serbabandung
Pangkalan delman dan kuda sewaan di Terusan Buahbatu Bandung. | Foto serbabandung.com #serbabandung

Tempat lainnya ada di Taman Ganesha, kawasan Jalan Ganeca, dekat kampus ITB. Selain bisa  menikmati taman yang rindang di sini biasanya ada joki yang menawarkan kuda sewaan. Bahkan di  sini juga tersedia penyewaan delman. Namun ramainya biasanya pada hari libur saja. Harga sewanya Rp 20.000-30.000.

Taman Ganesha adalah area konservasi. Taman tersebut banyak pepohonan lebat dan rindang.  Udaranya relatif masih bersih dan sehat. Kicauan burung di taman bisa membuat pengunjung  kerasan di sana.

Tak jauh dari Taman Ganesha, ada Kebun Binatang Bandung di Jalan Tamansari. Wisata alam ini  selain tempat untuk melihat-lihat koleksi satwa, juga ada tempat penyewaan hewan tunggangan,  di antaranya kuda, gajah, dan unta. Penyewa bisa menunggang kuda di kawasan Kebun Binatang  dipandu seorang guide. Harga sewa tunggangan kisaran Rp. 20.000-30.000.

Salah satu pangkalan kuda dan delman yang biasa disewakan berada tak jauh dari kolong  jembantan tol Padaleunyi, Jalan Terusan Buahbatu. Di sini tersedia beberapa ekor kuda dan  delman untuk disewakan. Delman biasanya disewa untuk acara-acara budaya, dan hajatan.

Adapun beberapa ekor kuda yang berada di sini biasanya untuk disewakan pada yang berminat  untuk menungganginya. Biasanya selain di tempat wisata, kuda-kuda itu dibawa ke kompleks-kompleks perumahan untuk disewakan pada warga di sana. Biasanya peyewanya adalah anak-anak. *

Wisata Berkuda di Kota Bandung

  • Kawasan Cilaki
  • Taman Ganesha
  • Kebun Binatang
  • Salah satu pangkalannya di Jalan Terusan Buahbatu

Caringing Tilu, Kawasan yang Berada di Ketinggian Bandung

CARINGIN Tilu (Cartil) adalah sebuah kawasan di Kampung Cisayur, Desa Cimenyan, Kecamatan Cimenyan, Kabupaten Bandung. Tempatnya yang berada di dataran tinggi menjadikan tempat ini favorit bagi yang ingin memanjakan matanya dengan pemandangan kota Bandung. Jaraknya tidak terlalu jauh dari Jalan PHH Mustofa, atau yang lebih dikenal dengan kawasan Suci.

Nama Caringin Tilu yang berarti tiga beringin itu diambil dari keberadaan tiga pohon tersebut. Pohon yang berumur ratusan tahun itu hanya tersisa satu pohon. Satu pohon tumbang. Satu pohon lagi mati kering. Kemudian masyarakat di sekitar Cartil menanam dua pohon beringin sebagai pohon pengganti.

Yang berminat ke sana tinggal masuk ke Jalan Padasuka yang tak tak jauh dari Terminal Cicaheum. Masuk ke jalan itu tinggal lurus. Awalnya jalannya biasa saja, tapi memasuki pertengahan perjalanan, jalannya mulai menanjak hingga ke Cartil. Pengendara harus hati-hati karena jalan ke sana sempit hanya cukup dua mobil dari kedua arah saja. Bahkan ada beberapa ruas yang hanya cukup untuk satu mobil.

Caringin Tilu di Bandung. | Foto serbabandung.com #serbabandung
Caringin Tilu di Bandung. | Foto serbabandung.com #serbabandung

Ketika sampai di kawasan Cartil banyak warung-warung yang menjajakan dagangan sederhana. Menjelang sore, motor berjejer di depan warung. Sementara para pengendaranya bercengkrama di dalam warung sambil menikmati pemandangan.

Memasuki senja gemerlap lampu dari kota Bandung mulai terlihat. Pesona ini menjadi jualan kafe dan restoran yang berdiri di sana. Pemandangan itu sangat eksotis. Gemerlap lampu yang menawan menawarkan keindahan bagi pelancong yang datang ke sana.

Sabtu (22/8/2015), banyak muda-mudi yang rela berdingin-dingin di atas bukit untuk menyaksikan itu semua. Sebuah lapangan tak jauh dari warung-warung yang berjejer bisa menjadi alternatif tempat untuk menikmati keindahan tersebut.

Jika belum puas memadang kota Bandung dari sana, para pengunjung bisa melanjutkan perjalanan lebih ke atas lagi. Di sana terdapat Puncak Bintang. Tempat wisata alam tergolong masih baru yang menawarkan pesona alam. Kawasan wisata yang memiliki luas 11 hektare ini tidak jauh dari Warung Daweung atau Moko.

Puncak Bintang yang di puncaknya terdapat patung bintang besar memiliki ketinggian 1.442 meter dari permukaan laut. Dari sinilah para wisatawan bisa melihat panorama Bandung dan Lembang yang terhampar indah. *

Ada Apa di Caringin Tilu

  • Melihat pemandangan eksotis Bandung
  • Banyak warung berjejer yang menjual makanan
  • Ada kafe dan restoran juga
  • Tempat wisata alam Puncak Bintang
  • Warung Daweung

Curug Dago yang Menyimpan Prasasti Eja Thailand

KOTA Bandung juga memiliki air terjun –orang sunda menyebutnya curug. Namanya Curug Dago. Tingginya hanya sekitar 12 m. Berada di ketinggian sekitar 800 m di atas permukaan laut. Tak jauh dari Taman Budaya Ganesha Dago(Dago Tea House).

Curug ini terbentuk dari aliran sungai Cikapundung yang mengalir dari Maribaya memasuki kota Bandung. Kondisi sekiling curug masih dihuni berbagai flora trofis dengan pemandangan hijau. Curug ini  masih masuk dalam kawasan Taman Hutan Raya Juanda. Selain Curug Dago di kawasan Taman Hutan Raya Juanda, juga terdapat dua curug lainnya, yakni Curug Lalay dan Curug Omas.

Curug yang sebetulnya tidak terlalu jauh dari Jalan Ir Djuanda ini bisa ditempuh dari dua jalur. Jalur yang pertama bisa melewati Taman Budaya Ganesha Dago (Dago Tea House). Kemudian jalur yang kedua melalui jalan di seberang Terminal Dago.

curug dago
Curug Dago

Dari taman budaya pengunjung hanya bisa mencapainya dengan berjalan kaki melalui jalan beton ukuran 1 meter sejauh kira-kira setengah kilo dari jalan besar. Kemudian harus menuruni tangga beton sekitar 100 m.

Di kawasan curug terdapat prasasti dalam bongkahan batu andesit beraksara Thai. Prasasti pertama berukuran 122x46x56 cm, berbentuk bulat memanjang. Pada prasasti yang pertama ini tulisan hanya terdapat pada satu bidang permukaan batu, dan tersusun dalam dua baris.

Raja dari Thailand Pernah Berkunjung ke Curug Dago

Dalam laman info.pikiran-rakyat.com disebutkan, baris atas merupakan pahatan inisial, sementara pada  baris bawah adalah nama Raja Chulalongkorn II (Rama V) dari Thailand, yang mengunjungi Curug Dago pertama kali pada 1896. Ia berkunjung untuk kedua kali pada 1901, dan menorehkan paraf yang dilengkapi dengan tahun Rattanakosin (Bangkok) Era 120 di atas batu.

Laman info.pikiran-rakyat.com mengungkapkan, pada prasasti kedua terukir nama Raja Prajadipok (Rama VII) yang mengunjungi Curug Dago pada 1929, untuk melihat prasasti yang diukir oleh ayahandanya. Ia pun kemudian ikut menorehkan paraf yang dilengkapi tahun.

Di sana juga tersedia dua buah bangunan dan sebuah warung untuk beristirahat. Pengunjung melepas lelah sambil menikmati udara sejuk. Di sana juga terdapat bangku-bangku beton yang bisa digunkan untuk duduk-duduk samabil menyaksikan air terjun. *

Sumber:
http://www.wisatakan.com/2013/11/wisata-di-bandung-keindahan-curug-dago.html
http://info.pikiran-rakyat.com/data/situs/prasasti-curug-dago

Bioskop-bioskop yang Pernah dan Ada di Bandung

PADA 1980-an, bioskop di Bandung di antaranya ada di Alun-alun. Saat itu,  ada empat bioskop yang menghadap ke Alun-alun. Satu di antaranya  Bioskop Dian.   Yang pertama adalah Bioskop Dian yang berdiri sendiri yang menghadap ke Jalan Dalem Kaum. Kemudian berderet Bioskop Aneka, Nusantara, dan Elita.

Ketiga bioskop yang disebutkan terakhir sudah rahib tergerus pembangunan Gedung Palaguna Nusantara. Di gedung tersebut masih dibangun dua bioskop, salah satunya masih bernama Nusantara, sedangkan satu lagi bernama Palaguna. Namun nasib kedua bioskop tersebut tanpa jejak lagi setelah Gedung Palaguna Nusantara dibongkar.

Menurut catatan trihariwidodo.blogspot.com, pada 1970 ada sekitar 30 gedung bioskop di Bandung. Bioskop itu mulai dari kelas bawah hingga kelas elite, seperti Elita (Puspita), Aneka (Oriental), Nusantara (Varia), Dian (Radio City), di Jalan Braga ada Majestic (Dewi), Braga Sky, Presiden, Pop dll.

Bisokop di Bandung tersebut mulai tergerus taknologi baru saat memasuki tahun 1980-an. Bioskop cineplex yang berkonsep tidak membutuhkan ruangan besar, dan berteknologi semi digital mulai digandrungi masyarakat. Satu-satu bioskop yang masih berkonsep lama gulung tikar, atau dimodifikasi menjadi cineplex.

Beberapa gedung bioskop berubah fungsi, atau bahkan dibongkar. Bioskop Dian kini menjadi lapangan Futsal, Majestik menjadi gedung New Majestic. Yang lainnya menjadi pertokoan, diskotek dan gedung Bank, seperti sejumlah biskop di Jalan Kebonjati seperti Orion, Luxor, dan Nirmala sudah menjadi hotel dan diskotek.

Bioskop di Bandung di Pasar Kosambi

Bandung Theater di Kosambi pun sudah menjadi pasar. Tak ada lagi warga yang berbondong- bondong ke sana ingin menyaksikan film Warkop DKI (Dono, Kasino, Indro), atau film horor ala Indonesia seperti “Nyi Blorong”, dan “Ratu Pantai Selatan”.

Jaringan yang membangun bioskop berkonsep cineplex adalah Cineplex 21.  Group  ini membuka jaringan bioskop di seluruh Indonesia. Grup ini tidak membangun bioskop berdiri sendiri tapi biasanya di mal-mal. Di Bandung, bioskop milik Cineplex 21 di antaranya ada di Trans Studio Mall, Bandung Indah Plaza, Ciwalk, dan Braga Walk.

Konsep cineplex tidak hanya membutuhkan ruangan yang tidak besar, tapi teknologinya masih relatif baru untuk Indonesia, seperti tata suara Dolby Digital dan THX.  Cineplex 21 Group biasanya lebih sering menayangkan film-film buatan Hollywood. (*)

Tower Kembar Masjid Raya Bandung Ramai Saat Ramadan

MENARA Masjid Raya Bandung kini menjadi primadona wisata di Kota Bandung. Menara setinggi 86 meter lebih banyak dikunjungi saat  bulan suci Ramadan. Para orang tua hingga anak-anak menghabiskan waktu di sini untuk ngabuburit.

Para pengunjung harus menggunakan lift agar bisa mencapai lantai 19.  Untuk menikmati tingginya menara kembar tersebut pengunjung harus merogoh kocek Rp 1000 untuk anak-anak, serta Rp 2000 bagi orang dewasa. Di puncak menara para pengunjung bisa melihat pemandangan Kota Bandung.

Menara kembar dibuka setiap hari sejak siang. Mampu menampung sampai 80 orang. Pengunjung tak hanya datang dari Kota Bandung  tapi juga yang datang dari daerah lain.

Menara Masjid Raya Bandung. | Foto serbabandung.com #serbabandung
Menara  Masjid Raya Bandung. | Foto serbabandung.com #serbabandung

Menara kembar mulai berdiri ketika masjid ini direnovasi pada 2001. Di menara kembar  itu ada dua kubah berukuran kecil yang di atasnya terdapat lambang tusuk satai. Terdapat juga kubah induk. Ukurannya lima kali lebih besar dari kubah yang kecil. Di kubah itu terdapat tulisan Allah setinggi 7 m.

Menara itu berdiri di bekas jalan tembus  Jalan Dewi Sartika ke Jalan Asia Afrika. Jembatan yang menghubungkan Alun-alun juga dirobohkan. Hasilnya Alun-alun dan masjid hampir tidak ada sekat.

Menara yang berdiri di samping kanan dan kiri masjid itu rencananya akan dibangun  setinggi 99 meter. Namun berubah hanya menjadi  81 meter saja. Perubahan  terkait dengan keselamatan penerbangan sebagaimana masukan dari pengelola Bandara Husein Sastranegara – Bandung.

Sebetulnya pada 1930, saat masjid ini direnovasi dibangun dua buah menara di kiri dan kanan bangunan. Di  puncak menara yang berbentuk persis seperti bentuk atap masjid. Konon bentuk seperti ini merupakan bentuk terakhir Masjid Agung Bandung dengan kekhasan atap berbentuk nyungcung.

Masjid ini dibangun pada 1810. Dalam sejarahnya masjid ini telah mengalami delapan kali perombakan. Pada abad ke-19, dan kemudian lima kali pada abad 20. Renovasi terakhir dilakukan pada  2001. Sejak diresmikan pada 4 Juni 2003 masjid ini belum berubah bentuk lagi. Hanya saja Alun-alun kini dipercantik rumput sintetis di lantainya. *

Menara Masjid Raya Bandung

  • Para pengunjung harus menggunakan lift agar bisa mencapai lantai 19.
  • Untuk menikmati tingginya menara kembar tersebut pengunjung harus merogoh kocek Rp 1000 untuk anak-anak, serta Rp 2000 bagi orang dewasa.
  • Di puncak menara para pengunjung bisa melihat pemandangan Kota Bandung.
  • Menara kembar dibuka setiap hari sejak siang.
  • Mampu menampung sampai 80 orang.
  • Menara kembar mulai berdiri ketika masjid ini direnovasi pada 2001.
  • Di menara kembar  itu ada dua kubah berukuran kecil yang di atasnya terdapat lambang tusuk satai.
  • Terdapat juga kubah induk. Ukurannya lima kali lebih besar dari kubah yang kecil. Di kubah itu terdapat tulisan Allah setinggi 7 m.