TOKO jamu ini tak lekang di makan waktu. Ketika semua produsen obat-obat berpaling pada peralatan modern dan bahan kimia, toko yang berada di Jalan Pasar Baru Selatan Bandung ini tetap mempertahankan identitasnya. Toko yang bernama Toko Jamu Babah Kuya ini berusaha melestarikan jamu berbahan dari alam, seperti dari tumbuh-tumbuhan.

Saat ini toko jamu ini dikelola oleh generasi keempat, yakni oleh Sie Tjoe Liong yang namanya diubah menjadi Iwan Setiadi. Generasi pertamanya adalah Tan Siob Haow yang  mendirikan toko jamu akhir tahun 1800-an. Jauh sebelum bangunan toko di Pasar Baru direnovasi tahun 1910.

Toko ini bernama Toko Jamu Babah Kuya karena warga sekitar memanggil Tan Siob Haow  dengan sebutan Babah Kuya. Disebut demikian karena Tan Siob Haow  seneng memelihara kuya (kura-kura). Nama itu tidak berubah hingga sekarang. Bahkan di plang toko terdapat gambar dua ekor kuya berwarna hijau yang mengapit nama toko tersebut “Toko Jamu Babah Kuya” yang berwarna merah.

Toko itu kini masih tetap didatangi konsumen setianya. Bermacam jamu yang disediakan Toko Babah Kuya menjadi pilihan para konsumen. Jenisnya macam-macam tergantug untuk menyembuhkan penyakit apa. Untuk darah tinggi (hipertensi) misalnya disediaka  jamu khusus yang harganya Rp 30.000. Di sini juga tersedia kunyit putih, dan jati cina.

Bahan Jamu Toko Jamu Babah Kuya Didatangkan dari Seluruh Indonesia

Sebelum memasuki toko itu bau jamu meruap menyengat hidung. Ramuan-ramuan, dan bahan untuk jamu disimpan dalam drum-drum kecil. Di etalase, toples berisi bahan jamu berjejer rapi. Sementara pekerja di sana melayani konsumen,  mengilo ramuan atau bahan yag akan dibeli konsumen.

“Bahan-bahan ini didatangkan dari seluruh Indonesia. Pembelinya juga bukan hanya  datang dari Indonesia  tapi juga dari luar negeri, seperti dari  Malaysia, Swiss, Jerman, Belanda bahkan Jepang dan Republik Ceko,” kata Memey Maria Heryati, pengelola Jamu Babah Kuya, Kamis (13/3/2015).

Di salah satu bagian dinding toko itu terdapat potongan-potongan koran berisi artikel tentang Toko Jamu Babah Kuya. Koran-koran tersebut di antaranya Tribun Jabar, dan Pikiran Rakyat. “Kami sudah banyak yang meliputnya. Bahkan ada televisi yang dari luar negeri ke sini lengkap dengan krunya. Di internet juga sudah banyak yang menulis tentang kami,” kata Memey bangga.

Sudah 200 tahun, toko jamu dan rempah-rempah ini melayani konsumen. Selama itu pula pemilik toko ini mempertahankan eksistensi. Mereka tidak pernah mencoba untuk menbuat jamu atau obat yang berbahan kimia. “Kami jamin jamu di sini terbebas dari unsur kimia,” kata Meymey. *

Bagikan kalau Anda menyukai informasi ini!

Join the Conversation

20 Comments

    1. Saya tidak tahu persis ada atau tidak ada. Tapi sebaiknya datang dan tanyakan kepada pemiliknya. Biasanya mereka memberikan informasi bermanfaat kalau pun yang kita cari tidak ada. Terima kasih telah berkunjung ke serbabandung.com, Mas Eka. Semoga web ini bermanfaat.

    1. Terima kasih telah membuka serbabandung.com. Coba telepon ke nomor ini Mas (022) 4238517. Kalau boleh tahu posisi Mas di mana?

    1. Terima kasih telah membuka serbabandung.com. Coba telepon ke nomor ini Mas (022) 4238517.

    1. Mas Boris, sebaiknya datang langsung ke Toko Jamu Babah Kuya. Terima kasih sudah berkunjung ke serbabandung.com.

    1. Coba saja datang langsung ke Pasar Baru. Btw terimakasih udah berkunjung ke serbabandung.com

  1. Toko jamu Babah Kuya ada dua…
    1. Jl. Pasar barat
    2. Jl. Pasar selatan.
    Yg asli yang mana, tolong di jelaskan. Terima kasih…

    1. Memang Pak ada dua, tapi saya nggak tahu mana yang asli atau yang palsu.

  2. Toko jamu Babah Kuya yg ramai pengunjung yg jl. Pasar Barat apa jl. Pasar Selatan ya, trims

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.