Sejarah Kalipah Apo, Jalan yang Sudah Ada Sejak Zaman Kolonial

kuliner dan sejarah kalipah apo lotek
Kuliner Kalipah Apo, Lotek Kalipah Apo 42 Bandung | Foto serbabandung.com #serbabandung

PERNAH ke Jalan Kalipah Apo, Bandung? Tahu tidak siapa Kalipah Apo itu? IKuti sejarah Kalipah Apo di bawah ini.

Dalam sejarah Kalipah Apo, jalan ini sudah ada lebih dari tiga dekade.

Kawasan Kalipah Apo merupakan kawasan penjual perlengkapan rumah tangga dengan harga murah.

Di Pikiran Rakyat, diceritakan sejarah Kalipah Apo, bahwa sejak akhir 1980-an, mulai muncul toko perabot rumah tangga di sana.

Disebutkan, hingga sekarang, ada delapan toko di jalan sepanjang 450 meter dan lebar 6,67 meter itu. Toko-toko ini bercampur denga toko lainnya.

Jalan Kalipah Apo juga tersohor karena terdapat kuliner lotek yang sudah ada sejak 1953. Namanya Lotek Kalipah Apo.

Dalam laman Pikiran Rakyat, Kalipah Apo memiliki riwayat penting bagi Kota Bandung.

Disebutkan, Kalipah Apo merupakan julukan wakil penghulu Bandung, Raden Haji Moehamad Soe’eb. Kalipah berarti khalifah.

Julukan tersebut disematkan kepada Moehamad Soe’eb setelah dia diangkat sebagai penghulu Kabupaten Bandung.

Saat itu, Kota Bandung masih berstatus kabupaten, tepatnya pada 1890. Hal itu diberitakan media Eropa, De Locomotief, edisi 21 November 1890.

Penghulu besar saat itu disandang oleh PHH Mustofa yang kini namanya juga diabadikan sebagai nama jalan di Kota Bandung.

Kalipah Apo juga dikenal sebagai mertua dari C Snouck Hurgronye, sarjana teologi Belanda yang mendalami Islam, tetapi kemudian dianggap sebagai pengkhianat karena merupakan mata-mata kolonial.

Kalipah Apo merupakan keturunan Penghulu Bandung. Bapaknya, Raden Haji Muhammad Nasir adalah Penghulu Besar Bandung, sedangkan ibundanya merupakan anak Raden Haji Abdurrachman yang juga Penghulu Besar Bandung.

Kiprah Kalipah Apo, yang kala itu disebut berasal dari golongan menak kaum, tidak hanya sebatas sebagai wakil penghulu, tetapi sebagai ulama.

Kalipah Apo juga berperan tidak hanya dalam pengajaran ilmu agama, tetapi juga hal-hal teknis seperti cara bertani.

Sejarah Kalipah Apo Berdasarkan Penelitian

Dalam laman Pikiran Rakyat mengutip penelitian yang dilakukan oleh PSJ van Koningsveld dalam buku Snouck Hurgronje dan Islam yang terbit pada 1989.

Penelitian itu menyebutkan bahwa Kalipah Apo dianggap sebagai juru tembang Sunda terbaik.

Ia bertakbir di Masjid Agung Bandung pada saat Lebaran.

Di samping itu, ia merupakan pengungkap lagu rakyat Sunda termasuk lagu-lagu percintaan.

Kalipah Apo adalah guru seni tembang Sunda. Anak-anak perempuan datang ke rumahnya minta diajarkan nembang.

Setelah Kalipah Apo meninggal dunia, dalam siaran radio NIROM antara 1935-1936, karya-karya Kalipah Apo masuk dalam jadwal untuk disiarkan.

Dalam jadwal NIROM yang dimuat Bataviaasch Nieuwsblad edisi 24 November 1935 disebutkan beberapa karya dari Kalipah Apo, yaitu “Laut Kidul”, “Guguritan Kaduhung Pipisahan”, dan “Guguritan Tangkal Cau” yang sempat dimuat dalam Volksalmanak Soenda 1920.

Dalam catatan jalan itu sudah bernama Kalipah Apoweg sejak zaman kolonial.

Sumber Tulisan: pikiran-rakyat.com

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *