SLB Cicendo, SLB Tunarungu Tertua di Indonesia

SLB  Cicendo merupakan sekolah luar biasa negeri tertua  bagi kalangan tunarungu  di Indonesia. SLB Cicendo didirikan oleh pemerintah kolonial Belanda pada 3 Januari 1930. Pendirian tersebut merupakan inisiatif Ny. CM. Roeslfsema Wesselink istri dokter HL. Roeslfsema seorang ahli THT di Indonesia.

Gedung SLB Cicendo merupakan cagar budaya yang dilindungi Perda nomor 19 tahun 2009. Gedung ini berada di belakang Gedung Pakuan, tempat kediaman resmi Gubernur Jawa Barat. Atap dan tembok gedung menunjukkan  bahwa gedung itu merupakan gedung yang sudah berumur.

slb cicendo
SLB Negeri Cicendo di Jalan Cicendo, Bandung. | Foto serbabandung.com #serbabandung

Jumat (3/6/2016) sore di sekolah itu sepi karena tidak ada kegiatan. Kendaraan di Jalan Cicendo hilir mudik di depan sekolah tersebut. Sebuah taman kecil lengkap dengan sarana permainan tersedia di kompleks sekolah ini.

Di tengah bangunan itu terdapat batu prasasti peresmian sekolah ini menjadi SLB Negeri Cicendo. Batu prasasti ini ditandatangani Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan. Penandatanganan seperti tercantum dalam prasasti tersebut dilaksanakan pada 2 Februari 2009.

Sebelumnya SLB Cicendo dibagi dua menjadi SLB I untuk anak tunarungu murni dan SLB II untuk tunarungu yang mengalami kelainan ganda. Pembagian ini dilakukan pada 1996, sebelum akhirnya pada Desember 2008 dilebur menjadai SLB Negeri Cicendo.

Peletakan batu pertama bangunan tersebut dilakukan oleh HoogedelGeboren istri Gouveneur Generaal Van Neaderland disch Indie pada  18 Desember 1933. Sekolah dan Asrama dibuka secara resmi dengan mendatangkan 2 orang Guru Ahli dari Neaderlan yaitu Dw Bloemink dan Nn. E.Gudberg, Tuan Bloemink yang diangkat menjadi direktur.

SLB Cicendo Pernah Dikuasai Jepang

Pada 1942-1945. Ketika Jepang berkuasa, sekolah dan asrama ini beralih fungsi menjadi klinik bersalin. Bersamaan dengan kekekalahan Jepang, bangunan itu pada 1 Juni 1949 dikembalikan kepada Kementerian dan Pendidikan Pengajaran.

Untuk melanjutkan fungsi gedung tersebut, kementerian mengundang guru ahli asal Belanda Jivan Dooran dan Vanderbeek. Jivan Dooran diangkat menjadi Direktur Lembaga LPATB, dan pada 1952 diteruskan Vanderbeek.

SLB Negeri Cicendo sempat dikelola swasta pada 1954. Saat itu namanya menjadi SLB B P3ATR. Pada 1977-1986 kepengurusan P3ATR yang diketuai oleh Gubernur Jendral  Belanda  diserahkan pada Republik Indonesia dan dipegang oleh Gubernur  Jawa Barat  R Moch. Sanusi Harja Dinata.  *

Sumber: http://asepyana666.blogspot.co.id/2013/02/sejarah-slb-di-indonesia.html

Bagikan kalau Anda menyukai informasi ini!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.