Main Catur Mengasyikkan di Teras Toko di Kawasan Tegallega

TENGAH malam Jalan Oto Iskandardinata di kawasan Tegallega masih menyisakan keramaian. Beberapa pria berusia 50 tahunan ke atas tengah asyik main catur. Mereka memasang meja catur di teras sebuah toko yang sudah tutup.

Selasa (19/12) dini hari itu, sudah tak banyak orang yang melakukan kegiatan. Lapangan Tegallega di seberang tempat mereka main catur hanya bercahaya lampu temaram. Pedagang kaki lima sudah membereskan lapaknya masing-masing.

Di Terminal Tegallega juga sama. Tak ada lagi angkutan umum yang mengetem di sana. Kendaraan pun hanya satu dua yang lewat ke jalan yang biasanya mengalami kemacetan pada pagi, siang, dan sore.

Mereka serius menjalankan bidak-bidak catur untuk mengalahkan sang lawan. Macam-macam tingkah mereka. Ada yang selalu memegang kening, memainkan rokok hingga abunya bertebaran ke mana-mana, mengisap rokok terus menerus, menyilangkan tangannya di dada sambil memperhatikan lawan saat menjalankan bidak catur. Di antara mereka ada yang sekali-kali menyeruput kopi, teh, atau susu, dan ada juga yang bersenandung pelan menyanyikan sebuah lagu.

main catur
Warga sedang bermain catur di teras toko di Jalan Tegallega. | Foto serbabandung.com

Para pemain catur ini tergabung dalam Benteng Tegallega Club. Meraka dari pukul 14.00 hingga pukul 03.00 selalu memasang lima hingga tujuh papan catur di teras toko. Hebatnya kebiasaan itu sudah dilakukan sejak lama, yakni sejak 1987, berbarengan dengan terbentuknya klub catur Benteng Tegallega Club.

Siapapun Boleh Ikut Main Catur di Sana

Siapapun boleh ikut bermain catur di sana. Kadang ada yang lewat ke jalan itu sengaja berhenti untuk melihat permainan catur. Kalau ada yang berani, orang yang lewat itu ikut bermain. Untuk itu, orang yang ikutan bermain harus membayar Rp 2.000 untuk sekali main. Uang itu nantinya untuk membayar listrik yang telah digunakan di lapak catur tersebut.

Klub catur Benteng Tegallega Club pun membuka pendaftaran buat para anggotanya. Untuk masuk ke klub tersebut calon anggota harus membayar Rp 15.000. Anggota klub tersebut tak hanya orang-orang yang tempat tinggalnya di kawasan Tegallega. Dari Soreang pun ada yang mejadi klub catur tersebut.

Pada Ramadan, mereka tak menghentikan kegiatan untuk bercatur. Mereka tetap memasang papan-papan catur di teras toko. Pada Ramadan, pehobi catur ini menghabiskan waktu malam untuk menunggu sahur.

Bagikan kalau Anda menyukai informasi ini!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.