Jalan Alkateri, Ada Kopi, Wedang, dan Lotek

JALAN Alkateri adalah jalan tembus dari Jalan Asia Afrika ke Jalan ABC. Jalanya tidak terlalu lebar dan dan tidak terlalu panjang. Tidak seperti jalan-jalan lain di kawasan ini, yang sering disebut Pecinan, Jalan Alkateri merupakan Kampung Arab.

Di sepanjang jalan berjejer toko yang berjualan tekstil seperti gorden. Sedangkan dekat dengan Jalan Asia Afrika berjejer pedagang pigura. Sekaligus juga jasa melukis. Para pelukis jalanan ini menawarkan jasa sesuai dengan keinginan konsumennya. Biasanya melukis diri konsumennya.

Selain terkenal karena toko tekstil dan pedagang piguranya di sini ada tempat kuliner yang cukup terkenal yakni Warung Kopi Purnama. Warung yang berdiri sejak 1930-an ini tepatnya berada di Jalan Alkateri No 22. Dari berbagai referensi yang diperoleh menerangkan bahwa warung ini didirikan oleh orang Medan yang merantau ke Bandung.

Kopi yang ditawarkan warung ini adalah  Kopi Aroma yang punya cita rasa khas. Pabrik kopi Aroma tidak jauh dari warung itu yakni di Jalan Banceuy, yang termasuk kawasan Pecinan. Tak hanya kopi,  di sini tersedia menu roti kukus dan bakar yang terdiri dari  25 macam rasa. Ada juga sajian  sop buntut, timbel, dan  nasi goreng.

Di warung yang buka pukul 06.30 dan tutup pukul 18.00 ini menenjual bubur ayam yang agak encer dengan topping kerupuk aci merah, suwiran ayam, cakwe lengkap dengan taburan lainnya.

1980-an, Jalan Alkateri Termasuk Kawasan Hiburan  Teramai

Di Jalan Alkateri juga ada penjual wedang ronde. Paduan jahe dan gula merahnya terkenal sangat  pas. Kekenyalan  rondenya dengan isi bubuk kacang tanah yang manis menjadi ciri khas Wedang Ronde Alkateri.  Wedang ronde ini dari sudah ada sejak  1984, dulu berdagang di pinggir jalan. Sekarang wedang itu pindah ke  sebuah  gang masih di jalan itu.

Kuliner lainnya yang ada di Alkateri  adalah lotek yang khas. Lotek ini pun sudah terkenal. Banyak orang Jakarta yang tak bisa melewatkan khasnya lotek Alkateri. Penjual lotek ini berjualan di trotoar.  Yang unik kemasan loteknya berbentuk kerucut seperti cone es krim.

Satu porsinya hanya Rp 10 ribu (harga ini belum tentu sama karena bisa saja penjualnyan sudah mengubah harganya) plus lontong. Lotek di sini ada dua pilihan, yang pahit dan yang tidak. Lotek pahit biasanya ditambahkan daun pepaya dan paria.

Pada 1980-an kawasan ini setiap malam selalu ramai karena ada sarana hiburan di mal Asia Afrika Plaza. Sekarang mal itu sudah berubah menjadi hotel milik Kagum Group yakni Golden Flower Hotel. *

Bagikan kalau Anda menyukai informasi ini!