Gang Aljabri, Sisi Kelam Bandung Jaman Dahulu

GANG Aljabri merupakan gang sisi kelam Kota Bandung pada zaman baheula (dahulu). Gang yang terletak di Jalan Alkateri ini merupakan kawasan yang terdapat tempat khusus untuk pemadat (pengisap opium). Di gang inilah para pecandu melampiaskan hasratnya mengisap barang terlarang tersebut.

Adalah Us Tiarsa R dalam bukunya “Basa Bandung Halimunan (Ketika Bandung Masih Berembun)” yang menyebut kawasan  tersebut merupakan surga bagi para pemadat.

Dalam bukunya tersebut  Us Tiarsa R menceritakan masa kecilnya saat pulang bermain bola di Tegallega, saat melewati Gang Aljabri, di suatu  rumah yang dipagar terlihat  ada encek bertiga sedang duduk di balai-balai. Badannya kiris kering seperti yang sedang   sakit parah.

Gang Aljabri Jalan Alkateri Kota Bandung. | Foto serbabandung.com #serbabandung
Gang Aljabri Jalan Alkateri Kota Bandung. | Foto serbabandung.com #serbabandung

Dalam blognya sepanjangjk.wordpress.com pada artikel Madat Baheula di Gang Aljabri Bandung yang diunduh pada 10 Oktober 2012, Eman Sudinta menyebutkan  tempat yang disediakan untuk pemadat masih bisa ditemukan sampai tahun 1970-an.

Eman menyebutkan pada 1970-an banyak pasien yang sudah tua dikirim ke Rumah Sakit Immanuel di Jalan Kopo. Badannya dilukiskan  Eman kurus kering kebetulan dari etnis Tiongho yang kecanduan madat. Ketika ditanya alamatnya pada pengantar pasien tersebut, mereka mengaku berasal dari Pecinan Bandung.

Gang Aljabri Bukan Tempat Para Pemadat Lagi

Sekarang Gang Aljabri bukan tempat untuk para pemadat lagi. Gang ini kini telah berubah menjadi sentra barang antik. Pada malam hari tepat di mulut gang ini ada penjual ronde jahe. Ronde ini terkenal ke mana-mana. Para pemburu kuliner pasti menyempatkan mencicipi minuman menghangatkan ini.

Jalan Alkateri sendiri diambil dari nama tuan tanah berkebangsaan Arab yang hidup pada awal abad 20-an. Alkateri juga memiliki pabrik roti dan susu. Di kawasan pecinan ini  terdapat empat keluarga Arab, yaitu Alkateri, Alatas, Al Jufri, dan Al Weni.

Dalam artikel  Menyusuri Pecinan di Kota Kembang  di republika.co.id  pada 11 November 2011 disebutkan pada jaman penjajahan para bule baik dari Belanda maupun bangsa Eropa di tempatkan di sebelah utara alun-alun. Sedangkan warga dari bangsa Asia timur seperti Tionghoa, Arab, India, ditempatkan di sebelah barat. Bangsa pribumi di tempatkan di sebelah selatan, dan bagi warga keturunan Indo di sediakan tempat di sekitar Jalan Lengkong dan Malabar. *

Bagikan kalau Anda menyukai informasi ini!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.