Barongsai Selalu Semarak di Jalan Cibadak Saat Perayaan Imlek

BULAN Februari identik dengan Imlek. Imlek adalah perayaan tahun baru orang Tionghoa. Dalam perayaan tersebut identik pula dengan pementasan barongsai. Barongsai adalah tarian tradisional Cina dengan menggunakan sarung yang menyerupai singa. Tarian ini sangat disukai tak hanya oleh orang Tionghoa tapi juga oleh semua warga.

Di Bandung, barongsai pun menjadi primadona saat perayaan Imlek hingga Cap Go Meh. Satu di antara perkumpulan barongsai di Bandung terdapat di Jalan Cibadak. Perkumpulan ini pun sudah bersiap-siap menyambut Imlek. Mereka bersiap untuk merayakan Imlek dan Cap Go Meh di kota tersebut

Menurut Roni (60), salah seorang pengurus perkumpulan barongsai tersebut, mereka sudah memiliki jadwal untuk tampil. Saat malam Imlek, katanya, akan tampil di sebuah hotel di Jalan Braga. “Kalau pas hari Imleknya tampil di sebuah hotel di Lembang,” kata Roni di toko barongsainya di Jalan Cibadak, Jumat (2/2/2017).

Roni mengatakan perkumpulannya sudah berdiri lima tahun yang lalu. Mereka sering tampil di kota-kota besar di seluruh Indonesia. Agar supaya prima saat tampil, mereka melakukan latihan pada Senin dan Rabu. “Kami berlatih bada Isya di halaman saja,” katanya.

barongsai
Kostum barongsai yang dijual di toko Roni di Jalan Cibadak, Bandung. | serbabandung.com

Toko barongsai Roni berada di belokan Jalan Cibadak, samping sebuah bengkel mobil. Di sana juga terdapat sebuah vihara. Masih di deretan toko  Roni terdapat toko yang menjual perlengkapan untuk ritual orang Tionghoa.

Roni di tokonya tersebut menjual kostum barongsai dan liong. Kostum tersebut dipajang bergelantungan di depan toko. Harganya Rp 500.000 yang ukuranya besar dan Rp 200.000 yang ukurannya lebih kecil.

Perkembangan Barongsai

Tarian tradisional orang Tionghoa ini  sudah ada sejak ribuan tahun. Dalam wikipedia disebutkan tarian ini mulai berkembang pada masa Dinasti Chin, abad ketiga sebelum Masehi. Masuk ke Indonesia kesenian ini diperkirakan pada abad-17, ketika terjadi migrasi besar dari Tiongkok Selatan.

Perkembangan tarian ini di Indonesia mengalami pasang surut. Sempat marak pada zaman masih adanya perkumpulan Tiong Hoa Hwe Koan, kemudian terhenti pada 1965 setelah meletusnya Gerakan 30 S/PKI. Saat itu segala macam bentuk kebudayaan Tionghoa di Indonesia dibungkam.

Tarian tersebut dan semua yang berbau Tionghoa kembali menggeliat ketika terjadi reformasi pada 1998. Saat Soeharto lengser, perubahan politik sangat cepat, dan Gus Dur menjadi presiden, semua kebudayaan Tionghoa mulai bisa ditampilkan lagi dan terus berkembang hingga sekarang.

Bagikan kalau Anda menyukai informasi ini!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.