Categories
Belanja

Gitar Allegro, Pabriknya Berada di Arjasari, Kabupaten Bandung

GITAR Allegro adalah gitar lokal buatan Kampung Sirnasari, Desa Batukarut, Kabupaten Arjasari, Kabupaten Bandung.

Pabriknya berada di sebuah gang. Agak sulit mencari gang tersebut, namun toko-toko gitar di tepi jalan bisa menjadi patokan. Warga di sana sudah mengenal pabrik gitar tersebut.

Setelah menelusuri gang, pabrik tersebut tidak terlihat jelas. Hanya saja, ketika memasuki sebuah ruangan suasana pabrik mulai terasa.

Ruangan pertama pabrik tersebut merupakan tempat perapihan dan pengecatan gitar-gitar yang sudah terbentuk. Prosesnya pun membutuhkan ketelitian dan tiga kali proses.

Gitar-gitar tersebut tidak langsung dicat tapi harus didempul di bagian-bagian tertentu seperti disambungan. Kemudian dihampelas untuk merapikan sebelum dicat warna dasar.

Untuk membuat gitar butuh waktu semingguan. Itu pun kalau kayu yang akan digunakan telah kering melalui pengopenan.

Proses pengopenan kayu membutuhkan waktu dua sampai tingga minggu, tergantung basahnya kayu. Kayu yang digunakan untuk membuat gitar Allegro adalah kayu mahoni, sonokeling, dan ada juga rosewood.

Sebelum peroses pengecatan, bodi dan batangnya dibentuk di sebuah ruangan terpisah. Di ruangan itu, tampak gitar-gitar yang sudah terbentuk tapi belum dicat bergelantugan di langit-langit.

Proses pembuatan batang dan bodi merupakan proses yang paling sulit dalam membuat gitar. Orangnya yang membuatnya pun tidak sembarangan karena tidak semua orang bisa melakukan pekerjaan ini.

Ketika memasuki ruangan itu, suara gergaji mesin terdengar memekakakkan telinga. Gergaji digunakan oleh pegawai untuk memotong kayu mahoni yang sudah kering. Serbuk gergaji pun berterbangan di ruangan itu.

Gitar Allegro Sempat Meredup

Gitar Kampung Sirnasari, ini sempat meredup. Namun, gitar-gitar itu tetap diproduksi pemiliknya. Pesanan-pesanan terus berdatangan, meski jumlahnya masih jauh dari jumlah ketika mereka masih berjaya.

Momentumnya setelah Lebaran 2019. Mereka memutuskan untuk menghidupkan gitar Allegro yang mati suri. Mereka pun mencari modal demi sedikit untuk membuat gitar.

Pesanan pun mulai berdatangan. Toko-toko musik di Bandung mulai ada yang pesan dua lusin.

Gitar Allegro sempat booming sebelum krisis moneter pada 1998. Memasuki 2000-an, gitar ini mulai agak tersingkir oleh kehadiran gitar-gitar merek Cina dan Solo. Gitar Solo yang juga disebut gita sayur telah menghancurkan harga pasar gitar tersebut.