Toko Buku Toga Mas, Diskonnya Seumur Hidup

Semakin banyak pilihan bagi warga Kota Bandung untuk membeli buku. Selain di Toko Buku Gramedia, bursa buku Pasar Palasari, Toko Buku Kharisma, dan Toko Buku Gunung Agung kini hadir Toko Buku Toga Mas di Jalan Supratman  dan Jalan Buahbatu.

toko buku toga mas
Toko Buku Toga Mas di Jalan Buahbatu, Bandung. | Foto serbabandung.com #serbabandung

Toko Buku Toga Mas konsepnya hampir sama dengan Toko Gramedia yang mempersilakan pengunjung untuk membaca buku di sana. Namun ada perbedaan dari segi diskon, Toko Buku Toga Mas menyediakan harga diskon 15 persen semua untuk semua jenis buku. Sesuai dengan konsep mereka yakni diskon seumur hidup.

Selain itu di toko ini juga memberikan pelayanan gratis bungkus buku dengan plastik.

Buku yang dipajang bedasarkan kategori memberi kemudahan bagi pembeli untuk menemukan  buku pilihannya. Toko yang hanya satu lantai ini memberikan layanan ramah dari petugasnya. Toga Mas siap bersaing dengan toko buku yang lain.

Toko Buku  Toga Mas Berdiri  pada 15 Desember 1990

Toko Buku Diskon Toga Mas didirikan pada 15 Desember 1990. Pendirinya adalah suami istri Johan Budhie Sava dan Swandayani. Dibangun dengan konsep discount store (diskon seumur hidup), harga buku yang ditawarkan setelah diskon jauh lebih murah dari toko buku modern pada umumnya.

Dalam laman togamas.co.id di halaman about us, disebutkan Toga Mas mulai dibangun dari toko buku kecil dengan jumlah item sekitar 10.00 judul buku dan luas toko 50 meter persegi dengan memanfaatkan ruang tamu, rumah tinggal di kota Malang, Jawa Timur. Usaha Toko Buku Diskon ini berkembang dengan pesat, tumbuh dan menjadi besar.

Johan Budhie Sava membuka kesempatan kepada investor lain untuk ikut mengembangkan usaha toko buku dengan konsep partnership (kemitraan). Program ini membidik pasar di wilayah kota tingkat 2 (kabupaten) selain terus mengembangkan toko mandiri.

Saat ini Togamas sudah membuka lebih dari 20 gerai di seluruh Jawa dan Bali, tahun depan dipastikan akan merambah pulau-pulau di luar Jawa, gerai di Sorong sudah beroperasi akhir tahun 2010. *

Pasar Kosambi, Wali Kota Berniat Mengubah Pasar Ini

Pasar Kosambi adalah satu di antara pasar-pasar yang ada di Kota Bandung yang  sudah lama berdiri. Pasar ini banyak memberikan kenangan pada warga di sekitarnya, dan warga Kota Bandung yang berbelanja di sana.

Pasar Kosambi  terletak  di Jalan Jenderal  Ahmad Yani, KM 3 ke arah timur Alun-Alun Kota Bandung. Jalan ini sering disebut warga sebagai kawasan Kosambi. Ketika orang akan berkunjung ke jalan ini pasti menyebutnya bukan ke Jalan Jenderal Ahmad Yani tapi ke Kosambi.

pasar kosambi
Dulu di Pasar Kosambi ada bioskop namanya Bandung Theater. | Foto serbabandung,com #serbabandung

Sebelum seperti sekarang di Pasar Kosambi terdapat bioskop yang sering dikunjungi para penikmat film. Terutama sekali ketika memutar film-film Indonesia seperti film Warkop DKI Dono Kasino Indro. Bioskop itu bernama Bandung Theater.

Seperti pasar tradisional lainnya di pasar ini banyak pedagang yang menjual bahan kebutuhan pokok. Ada juga yang menjual sandang seperti pakaian dan kain. Yang menarik sejak dulu di Kosambi banyak pedagang yang menjual oleh-oleh khas Bandung seperti goreng  tempe, sale pisang, oncom goreng, dan banyak lagi. Di depan pasar ini ada toko olahraga Matahari yang sampai sekarang masih tetap ada meski pasar ini telah direnovasi.

Dulu sebelum kawasan bisnis di Kota Bandung menjamur, sepanjang Kosambi berdiri toko-toko yang banyak memberikan pilihan pada warga. Mulai dari toko pakaian, baha  kimia, toko olahraga, toko kaset, hingga toko kue. Sepanjang Jalan Ahmad Yani saat itu menjadi primadona warga Bandung.

Pasar Kosambi Direnovasi Menjadi 6 Lantai

Kemudian ini  direnovasi  menjadi 6 lantai. Tak ada lagi Bandung Theater. Semuanya dipermak. Alih-alih ingin mendatangkan pengunjung, justru pasar ini semakin sepi pembeli. Pasar Kosambi kalah bersaing dengan pasar-pasar lainnya. Bangunan enam lantai pasar ini  terbengkalai. Hanya dua lantai yang terpakai. Selebihnya menjadi sarang hantu.

Wali Kota Bandung Ridwan Kamil berencana mengubah Pasar Kosambi yang terbengkalai menjadi pasar kerajinan sehingga bisa mengundang turis lokal maupun mancanegara.

Ketika tulisan ini dibuat rencana tersebut belum terlaksana. Tapi Wali Kota yakin itu bisa terlaksana.

“Bandung pasar-pasarnya banyak, lokasinya juga bagus, tapi kondisinya jelek. Ini ada upara renovasi (oleh PD Pasar), untuk dijadikan pusat kerajinan seperti Inacraft,” ujar Emil, panggilan akrab Ridwan Kamil kepada detik.com, di sela-sela peninjauan pasar Kosambi, Jalan Ahmad Yani, Kamis (14/8/2014). *

Museum Mandala Wangsit, Tak Jauh dari Jalan Braga

Museum ini adalah salah satu museum yang berada ditengah Kota Bandung. Namanya museum Mandala Wangsit. Terletak di Jalan Lembong tak jauh dari Jalan Braga, dan  Hotel Grand Panghegar.  Jalan Lembong diambil dari nama Letkol Lembong. Prajurit Siliwangi yang menjadi korban dalam Peristiwa Kudeta Angkatan Perang Ratu Adil. Sebelumnya jalan itu bernama Oude Hospitaalweg.

Arti Mandala Wangsit sendiri adalah sebuah tempat untuk menyimpan amanat, petuah atau nasihat dari pejuang masa lalu kepada generasi penerus melalui benda-benda yang ditinggalkannya. Di halaman museum tersebut terdapat relief dan meriam yang mengingatkan pengunjung pada para pahlawan yang berjuang untuk negeri ini.

Di Museum Mandala Wangsit Terdapat Senjata Saat Perang Melawan Jepang

Di Museum Mandala Wangsit terdapat alat-alat  yang digunakan pada saat perang antara Jepang dan Indonesia. Di antaranya adalah  bedug simarame, senjata laras panjang dan pistol.

Di antara senjata-senjata itu ada hasil rampasan dan pernah digunakan oleh TNI, seperti  ada beberapa meriam yang masih dipajang di sana. Meriam-meriam tersebut adalah meriam gunung, meriam psp, meriam 25 pdr/88mm, meriam 40 mm l 60 bofors.

Meriam-merian tersebut memiliki fungsi masing-masing dan tahun pengeluaran yang berbeda. Meriam gunung misalnya. Meraim ini berhasi direbut dari Jepang pada 1941. Kemudian digunakan untuk melawan tentara Inggris dan Belanda di  Ambarawa, Banyu Biru dan Semarang pada 1942-1949.

Meriam gunung masih terus digunakan hingga 1955. Pada 1950 meriam ini sempat digunakan Yon Artileri Lap. IV untuk menumpas APRA di Cikadut. Adapun pada 1950- 1954 digunakan untuk menumpas gerombolan  di Jabar dan Jateng, dan pada 1955  Armed 4 menggunakannya untuk menumpas Kahar Muzakar di Sulsel.

Terdapat juga kisah-kisah yang pernah terjadi di Kota Bandung, seperti Peristiwa Bandung Lautan Api pada  24 Maret 1946 dan Peristiwa peracunan pada 17 Februari 1949.

Bangunan ini bergaya arsitektur Late Romanticism. Pembangunannya berlangsung pada  1910 sampai 1915. Pada masa kolonial Belanda  tempat tinggal perwira Belanda. Tempat ini  diambil alih oleh pasukan Siliwangi pada 1949. Digunakan sebagai markas Divisi Siliwangi (Militaire Akademi Bandung) hingga1950. *

Sumber: http://id.m.wikipedia.org/wiki/Museum_Wangsit_Mandala_Siliwangi

Museum Sri Baduga, Gedung Bekas Kawedanaan Tegallega

Museum Sri Baduga terletak di Jalan BKR No 185 tidak jauh dari Lapangan Tegallega. Museum yang dibangun terdiri dari tiga lantai ini menawarkan pesona masa lalu yang sayang untuk dilewatkan.

Sebelum bernama Sri Baduga, museum ini bernama Museum Negeri Jawa Barat. Pembangunan museum ini berlangsung sejak 1974 dengan menggunakan gedung pemerintah, yaitu bekas Kawedanaan Tegallega. Bangunan asli gedung tersebut tetap hingga kini masih dipelihara kelestariannya dan digunakan sebagai kantor administrasi.

Museum Sri  Baduga
Museum Sri Baduga di Jalan BKR No.185, Bandung. | Foto serbabandung.com #serbabandung

Museum Negeri ini diresmikan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI, Dr. Daud Joesoef didampingi oleh Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Propinsi Jawa Barat H. Aang Kunaefi pada 5 Juni 1980.

Pada 1 April 1990, sepuluh tahun setelah peresmian nama “Sri Baduga” mulai diginakan. Sri Baduga adalah raja yang memerintah di Pajajaran. Pada era Otonomi Daerah (OTDA) berdasarkan Perda No.5 Tahun 2002 sebagai Unit Pelaksana Teknis (UPT) bergabung dengan Dinas Kebudayaan Propisi Jawa Barat dengan nama Balai Pengelolaan Museum Negeri Sri Baduga hingga sekarang.

Museum Sri Baduga Terdiri dari Tiga Lantai

Museum Sri Baduga terdir dari tiga lantai, di lantai 1, terdiri dari batuan (geologi), flora, fauna, manusia purba (Homo Erectus) dan prasejarah (Homo Sapiens), cekungan danau Bandung Purba, dan religi masyarakat dari masa Prasejarah sampai Hindu-Budha

Di lantai 2 menawarkan pesona religi masyarakat (masa Islam, Kong Hu Cu, Teoisme dan Kristen), sistem pengetahuan, bahasa, dan peralatan hidup.

Adapun di lantai 3, terdiri dari mata pencaharian, teknologi, kesenian, pojok sejarah perjuangan bangsa, pojok wawasan Nusantara dan pojok Bandung tempo dulu.

Museum Sri Baduga telah dilengkapi lima unit alat pamer koleksi multimedia digital. Alat ini bisa lebih banyak memberikan informasi kepada pengunjung tentang benda-benda yang tersedia di museum ini.

Penyediaan lima multimedia digital itu, dipersiapkan untuk program layanan baru di Museum Sri Baduga Bandung, yakni Museum Night, yang mulai berjalan tahun 2016. Museum night sebagai terobosan baru untuk antisipasi para pengunjung ke museum yang datang kemalaman, terutama dari luar daerah.

“Kasus ini sering terjadi, sehingga kami harus buka hingga larut malam. Atas dasar itu, kami berencana membuka museum night,” kata Kepala Balai Pengelolaan Museum Sri Baduga Bandung, Sajidin Aries, sesuai rilis yang dikutip Tribun Jabar, Selasa (5/1/2016). *

Hotel Novotel Bandung, Hotel yang Lokasinya di Jalan Cihampelas

Hotel Novotel Bandung adalah Hotel Internasional bintang empat. Berlokasi strategis di Jalan Cihampelas.  Kira-kira  15  menit dari Bandara Husein Sastranegara, atau dari stasiun kereta api. Hotel Novotel  sangat dekat pusat perbelanjaan serta tempat favorit wisatawan, seperti Jalan Cihampelas yang masih terkenal dengan sentra jinsnya.

Tak hanya ke Jalan Cihampelas, ke Jalan Setiabudi atau ke kawasan Dago pun tidak terlalu jauh. Jika ingin berbelanja gadget terbaru di Jalan Purnawarman ada BEC yang jaraknya kurang 10 menitan dari hotel ini.

Hotel Ini memiliki 156 kamar, juga menawarkan fasilitas konferensi kapasitas (500 orang). Kamar bebas-rokok, cocok untuk tamu penyandang cacat. Setiap kamar dilengkapi dengan TV kabel/satelit, minibar, dan brankas pribadi.

hotel novotel bandung
Hotel Novotel di Jalan Cihampelas, Bandung. | Foto serbabandung.com #serbabandung

Beragam kamar didekorasi dengan indah menampilkan jendela besar, sehingga banyak cahaya alami yang masuk – menjadikan kamar-kamar ber-AC ini cerah dan sejuk.

Untuk kenyamanan tamu, hotel ini memiliki kolam renang, pusat kebugaran & spa, serta the Square Restaurant utk menikmati hidangan atau minuman bersahabat di Bar Lounge.

Hotel Novotel Bandung Milik Accor Goup

Di hotel ini juga tersedia Wi-Fi di area umum hotel dan tidak dikenai biaya. Sedangkan internet kabel tersedia di kamar hotel, juga tidak dikenai biaya. Fasilitas lain di hotel ini adalah kolam renang.

Di Hotel Novotel ada restoran The Square. Konsep restoan ini mengajak pengunjung untuk menikmati pengalaman baru saat sarapan, makan siang, dan makan malam. Restoran ini enyajikan masakan Indonesia asli, masakan khas Asia dan Barat. The Square menawarkan opsi prasmanan dan a la carte serba lengkap. Buka mulai pukul 06.00 s.d 23.00.

Novotel adalah sebuah merek hotel berskala menengah milik grup Accor. Novotel memiliki sekitar 400 hotel dan resor di 60 negara yang terletak di distrik-distrik keuangan dan destinasi pariwisata di sejumlah kota ternama dunia.  Total kamar mencapai 71.872 bua, dan memperkerjakan 30.000 karyawan.

Anda  ingin menginap di Bandung? Silakan lihat informasinya di Agoda*

 

Sumber tulisan: http://id.m.wikipedia.org/wiki/Novotel
http://www.booking.com/hotel/id/novotel-bandung-bandung.id.html
http://www.accorhotels.com/id/hotel-6181-novotel-bandung/index.shtml