Categories
Gedung

GOR Saparua, Pernah Jadi Tempat Konser Fariz RM dan Koill

GELANGGANG Olahraga atau GOR Saparua adalah gedung yang diperuntukkan kegiatan berolahraga, seperti bulu tangkis, Voli Indoor, dan Basket. Namun dalam perjalanannya gedung ini sering berubah fungsi menjadi tempat konser musik.

Pada era 80-an, nama-nama beken seperti Fariz RM, Vina Panduwinata, Cockpit pernah manggung di sana. Cockpit  yang membawakan repertoire Genesis pernah konser di sini pada 15 Januari 1984. Nama-nama  beken saat itu, Freddy Tamaela, Oding Nasution, Yaya Moektio,  Roni Harahap, dan Harry Minggoes, membuat gempar penggemar Genesis.

Genesis adalah grup band asal Inggris yang mengusung aliran British Rock. Grup Band ini digawangi Peter Gabriel (kemudian keluar), Tony Bank, Steve Hacket,  Mike Rutherford, dan Phil Collins. Lagu beken dari Genesis di antaranya adalah  A Trick of the Tail (1976), Wind & Wuthering (1976), dan And Then There Were Three (1978).

Pada era ini juga, Saparua menjadi salah satu tempat bergengsi untuk mengadakan acara pentas seni sekolah, seperti perpisahan. Tempat ini menjadi favorit sebelum bermunculan hotel-hotel yang menyediakan convention hall.

Berlanjut ke era 90-an, giliran band musik cadas mengingarbingarkan kawasan tersebut. Konser yang pernah sukses di gedung ini adalah Hollabalo (1994), Bandung Berisik (1995), Bandung Underground (1996), dan Gorong-gorong (1997).

Saparua disebut-sebut sebagai home base band underground Kota Bandung. Mereka yang terbiasa bermain musik aliran musik cadas bergenre punk, hardcore, grindcore, metal sangat kenal dengan gedung ini. Nama-nama seperti Koil, dan Burgerkill sempat merasakan panasnya Saparua.

GOR Saparua Berkapasitas 4.000 Orang

GOR yang berkapasitas 4.000 rang ini terletak  di Jalan Ambon No. 9 Bandung. Dekat Taman Maluku dan Markas Kodam III Siliwangi di Jalan Seram No. 9a. Masih di kompleks Saparua terdapat saran olahgara seperti lapangan sepak bola, trek lari, sepatu roda, basket, dan lain-lain.

Dikutip dari wisatamistis.com, GOR Saparua dibangun sekitar tahun 1969. Awalnya gedung ini untuk pertandingan tinju. Disebutkan di sini juga pernah menjadi tempat latihan militer pada jaman Belanda. *

Categories
Monumen

Monumen Bandung Lautan Api di Lapangan Tegallega

TINGGI menjulang membelah langit Lapangan Tegallega. Itulah yang terkesan dari Monumen Bandung Lautan Api. Monumen ini memang untuk mengenang peristiwa heroik pembumihangusan Bandung pada zaman perang kemerdekaan. Peristiwa yang terjadi pada 23 Maret 1946 lebih terkenal dengan sebutan Bandung Lautan Api.

Monumen yang memiliki ketinggian 45 meter ini dibangun pada 1981. Memiliki sisi sebanyak 9 bidang. Di puncaknya sengaja dibuat jilatan api yang mengarah ke atas. Monumen itu berwarna kuning keemasan layaknya api yang menyala. Di bawah tugu itu tiga penyangganya disangga sebuah kolam.

Sekarang monumen itu dikelilingi pagar besi setinggi kira-kira satu meter. Temboknya tampak kusam menghitam.  Sedangkan lantainya di beberapa bagian tumbuh lumut, dan rumput.  Meaki begitu tetap saja monumen ini menjadi tempat favorit pengunjung Lapangan Tegallega untuk sekadar nongkrong dan berfoto ria.

Minggu (4/1/2015) sore ketika mendung memayungi Lapangan Tegallega, beberapa orang tampak sedang menikmati kesejukan  udara di sore itu. Udara dingin, dan angin yang cukup kencang tidak  membuat mereka beranjak. Mereka terus berfoto tepat di kaki monumen itu. Keceriaan mereka sangat tergambar, dan sesekali terdengar samar suara ketawa mereka.

Di depan monumen itu anak-anak, remaja, dan orang tua sedang berolahraga. Ada yang bermain sepak bola, bulu tangkis, dan hanya yang sekadar joging. Lapangan Tegallega sudah sejak lama menjadi tempat warga untuk berolahraga, atau hanya sekadar berjalan-jalan.

Monumen Bandung Lautan Api Dirancang Sunaryo

Monumen ini dirancang Sunaryo, seniman kontemporer sekaligus mantan dosen seni rupa Institut Teknologi Bandung. Sunaryo juga merupakan penggagas beberapa patung dan monumen yang berada di kota-kota besar Indonesia.

“Pada  1984, saya pernah mengikuti sebuah kompetisi untuk membuat monumen Bandung Lautan Api dan akhirnya saya memenangkan,” kata Sunaryo seperti dikutip detik.com pada 27 Februari 2009.

Sayangnya ketika malam datang kegagahan monumen ini terganggu oleh kegiatan orang-orang yang bertransaksi seks. Kegiatan itu sudah lama berlangsung. Pada tahun 80-an praktek ini pun telah berlangsung. Razia sering dilakukan perintah kota tapi tetap saja praktek itu bercokol di sana. *

Categories
Taman

Lapangan Tegallega, di Sini Bisa Bermain Bermain Bulutangkis

ADA yang unik di Lapangan Tegallega. Sekarang siapa pun bisa bermain bulu tangkis di sana. Jika tak punya raket ada jasa penyewaan. Lengkap dengan shuttlecock-nya. Beberap buah net tampak terbentang di sana. Tempatnya persis di depan Tugu Bandung Lautan api yang menjulang di lapangan tersebut.

Minggu (4/1/2015) sore anak-anak, remaja, ibu-ibu, dan bapak-bapak asyik memainkan raketnya. Langit yang mendung tak menyurutkan semangat mereka. Raket mereka mainkan untuk memukul shuttlecock. Angin yang besar sesekali menerpa dan mengubah arah shuttlecock.

“Harga sewa raketnya Rp 2.500,” kata seorang anak yang menenteng kaleng aibon. “Kalau sendirian mainnya sama saya. Bisa berdua,” katanya lagi.

Di setengah lapangan lagi, di lapangan yang berlapiskan paving block yang sebagian di antaranya sudah ditumbuhi rumput, dan kubangan cilencang, para lelaki tengah bermain sepak bola. Mereka sangat menikmatinya meski ukuran lapangannya jauh dari standar.

Jika terasa haus atau  perut merasa lapar di tepi jalan di lapangan tersebut ada  pedagang air, atau makanan.

Bung di Lapangan Tegallega
Bunga di Lapangan Tegallega

Mbak penjual sate juga ada. Yang berolahraga, atau yang sekadar jalan-jalan disana bisa beristirahat sambil menikmati minuman dan makanan.  “Te, sate, dek,” kata si Mbak menawarkan satenya dengan logat Madura.

Di seberang yang bermain bulu tangkis terhampar bunga-bunga kuning, kombinasi merah dan hijau. Tembok di tepi tempat bunga-bunga tersebut diduduki para remaja yang tengah santai di sore itu. Mereka tentu saja berpasangan. Sayang di sekitar itu pula banyak berserakan sampah plastik. Tidak hanya di kawasan itu saja, tapi hampir merata berserakan di lapangan tersebut.

Di sana juga terdapat pohon-pohon yang rimbun, membuat sejuk kawasan tersebut. Apalagi pada sore itu embun sedang menggelayut di kawasan lapangan itu. Hiruk piruk lalu lintas di jalan yang mengelilingi  Tegallega seperti tak terasa, meski suara klakson dan suara mesin masih terdengar samar-samar.

Di Lapangan Tegallega Terdapat Lapangan Sepak Bola

Jika ingin bermain sepak bola lebih serius di lapangan ini pun tersedia lapangan yang ukurannya mendekati standar. Sore itu pun di lapangan itu ada yang sedang bermain. Mereka tak peduli lapangan tersebut becek sekali. Sekilas lapangan tersebut seperti kubangan lumpur. Untuk masuk ke lapangan ini harus bayar Rp 3.000 pada hari biasa, sedangkan pada hari libur Rp 5.000. Harga tersebut yang tertulis dalam sebuah kain putih yang terbentang disebutkan sesuai dengan Perda No 21 Tahun 2012.

Seorang bapak tak menghiraukan tempat sekitarnya. Dia terus berjoging di lintasan lari yang mengitari lapangan tersebut. Bercelana training biru strip putih, dan berjaket hitam dengan bertutup kepala, dia terus berlari.

Sore hampir menjelang malam, dan Lapangan Tegallega akan tetap menyimpan cerita. Kisahnya akan terus berbeda mulai dari pagi, siang, sore, dan apa yang akan terjadi pada malam hari.*

Categories
Taman

Taman Maluku, Dulu Bernama Molluken Park

TAMAN Maluku adalah salah satu taman di Kota Bandung yang sudah ada sejak jaman penjajahan. Taman ini dibangun pada 1919 oleh pemerintah Hindia Belanda. Nama aslinya adalah Molluken Park. Tadinya taman ini tanah kosong yang berada di Jalan Maluku.

Pada 1950-an, Molluken Park berubah nama menjadi Taman Maluku untuk menyesuaikan dengan pelarangan menggunakan Bahasa Belanda oleh Presiden I RI, Ir Soekarno.

Mengapa Taman Malaku? Taman ini memang berada di pertemuan Jalan Maluku dan Jalan Aceh. Selain itu taman ini juga berada di antara Ambon Straat (Jalan Ambon), Menado Straat (Jalan Menado), Celebes Straat (Jalan Sulawesi yang sekarang digabung dengan Jalan Ambon dan Jalan Saparua).

Di taman ini  pohon-pohon besar Yang rimbun  mendominasi.  Pepohonan yang tumbuh di sana antara lain pohon ki angsret (Spathodea campanulata) dan bungur (Lagerstroemia speciosa). Bau khas hutan tropis sangat terasa di sini. Deru kendaraan yang melewati kawasan ini tak menghilangkan kesan tengah berada di dalam hutan.

Taman Maluku termasuk salah satu taman di Kota Bandung yang masih asri meski berada di tengah kota. Dekat pusat perbelanjaan di Jalan LLRE Mardinata atau Jalan Riau, tempat berjejernya Factory Outlet, dan Jalan Merdeka tak membuat luntur kesan taman kota.

Di Taman Maluku Ada Patung Perunggu Pastor H.O. Verbraak, S.J

Di dalam taman ada jalan setapak terbuat dari paving blok. Di sisi-sisinya terdapat kursi bercat merah. Papan pengumuman anjuran membuang sampah di tempatnya berdampingn dengan plang pemberitahuan bahwa di sana ada fasilitas wifi gratis terpasang di beberapa tempat.

Kolam besar pun masih menghiasi taman itu. Jangan lupa patung   perunggu Pastor H.O. Verbraak, S.J yang masih tegak berdiri. Verbraak adalah seorang imam tentara Hindia Belanda yang bertugas saat perang Aceh (1835-1907). Kisah-kisah seram mengenai keberadaan patung ini banyak beredar di internet.

Berbeda dengan ketika masih 80-an, taman ini tanpa pagar setinggi dua meteran seperti sekarang. Dulu siapa pun bebas untuk menikmati asrinya taman ini tanpa harus melewati pintu pagar yang tergembok. Alasan dipasangnya pagar ini karena Taman Maluku sering digunakan PSK, dan tempat singgah para tuna wisma. *

Categories
Pasar

Pasar Ikan Jalan Peta, Jual Piranha Langsung Dirajia

JIKA butuh ikah hias jangan ragu datang ke Jalan Peta. Tidak jauh dari Lapangan Tegallega. Mencarinya tidak akan sulit karena lokasinya persis di tepi jalan. Ada sekitar 100-an jongko di sini yang menawarkan berbagai ikan hias. Orang Bandung menyebut pasar ikan ini Pasar Ikan Jalan Peta, atau Pasar Ikan Muara.

Ikan-ikan hias yang dijual di sini harganya bervariasi tergantung jenis ikan, dan ukuran ikannya. Para penjual ada yang menawarkan ikan yang masih kecil dalam kantung plastik. Jumlahnya ada tiga ikan yang dijual hanya Rp 10.000 saja. Ikan yang dijual di sini harganya sekitar Rp 10.000-Rp 100.000.

Menurut Alit, pedagan ikan di sana, memang menjual ikan yang harganya terjangkau oleh kebanyakan masyatakat. “Ada juga yang mahal seperti ikan arwana tapi itu tidak banyak,” kata pria berusia 32 tahun ini, ditemui di Pasar Ikan Jalan Peta, Minggu (4/1/2015).

Menurut Alit para pedagang menjual berbagai jenis ikan. Namun yang paling dicari pembeli adalah ikan koi, kemudian ikan koki. Ada juga yang menjual ikan arwana, dan lain-lain. “Tapi kalau ikan piranha mah tidak ada. Tidak ada yang berani menjualnya. Kalau pun ada pasti dirajia,” kata Alit.

Ikan yang dijual di sini juga terdiri dari dua jenis tempat di mana ikan itu akan disimpan, yakni ikan untuk di akuarium, dan ikan yang akan disimpan di kolam. Oleh penjual ikan-ikan tersebut sengaja dipisah untuk memudahkan para pembeli. Ikan-ikan tersebut ada yang disimpan dalam kantung plastik  dan ada yang disimpin dalam kolam buatan.

Untuk memastikan keberadaan pasar ini  sebaiknya datang antara pukul 08.00-18.00. Dari Lapangan Tegallega hanya beberapa meter saja. Kalau dari arah lapangan itu ada di sebelah kiri. Sedangkan dari perempatan Kopo lokasinya  di sebelah kanan. Tidak terlalu jauh hanya beberapa meter saja.

Pasar ikan ini ternyata sudah lama berdiri. Menurut Alit sejak kecil orang tuanya sudaha berdagang di sini. Dia mengaku para pedagang di sini turun temurun meneruskan para orang tuanya. “Kalau tidak salah dari 1982 pasar ini sudah ada. Dulu mah nama jalan ini bukan Jalan Peta, tapi Jalan Lingkar Selatan,” katanya.

Para padagang di sini bukan orang jauh tapi masih di sekitar Jalan Peta. Menurut Alit berdagang ikan hias sangat membantunya. Seharinya bisa menghasilkan Rp 300.000. Kalau lagi penglaris bisa mencapai Rp 1 juta. “Kalau pas hari libur penghasilan bisa mencapai sejuta,” katanya. *