Mie Naripan, Mi yang Melegenda di Bandung

SIAPA yang tidak kenal Mie Naripan. Bagi pemburu kuliner tabu bila belum merasakan lezatnya mi legendaris ini. Mi ini sudah ada sejak 1965. Selain cocok untuk kamu muda, kedai mi ini cocok juga untuk sekadar nostalgia bagi yang tahun kelahirannya pada 1970-an.

Kedai Mi Naripan tepat berada di persimpangan Jalan Naripan dan Jalan Sunda. Kedainya tidak terlalu luas, namun memiliki halaman parkir yang refresentatif. Bangunannya pun tidak pernah berubah dari tahun ke tahun. Hanya warna kedai itu kadang berubah, kadang putih kadang juga hijau.

“Beberapa pengunjung menganjurkan tidak diubah bangunan dan interiornya, supaya ketika kembali makan di sini terasa bernostalgia,” kata jelas Supervisor Mie Naripan, Lala seperti dikutip detik.com, Kamis (21/02/2008).

Awalnya kedai ini memiliki ukuran 25 meter persegi. Namun karena pengunjung yang ingin menikmati mi ini semakin banyak,  pemilik kedai ini memperluasnya hingga berukuran  100 meter per segi. Kapasitas tempat duduknya jug ditambah mencapai 90 orang.

Menu favorit di kadai ini adalah mi yamin dan mi kuah naripan.  Untuk yamin ada yamin asin dan yamin manis. Kombinasinya bisa yamin plus baso, pangsit, babat atau yamin spesial yang mencampur semuanya.

Satu porsi di sini terkenal banyak, mentung kata orang Sunda. Jika tidak kuat sebaiknya tidak tambah lagi agar tidak kekenyangan.

Mi Spesial dari Mie Naripan

Mi di sini spesial karena buatan sendiri. Minya kenyal tapi tidak mudah dikunyah.  “Dengan adonan telur yang lebih banyak, rasa dan kekenyalan mie jadi berbeda dari mie lainnya,” jelas Lala seperti dikuip detik.com, Kamis (21/02/2008).

Mi Naripan yang semakin berkembang membuka beberapa cabang di Kota Bandung, yakni  di Riau Junction, Jalan RE Martadinata, Kota Baru Parahyangan Bandung Barat. Mereka juga membuka cabang di Jakarta Utara,  yakni di Kelapa Gading Square. *

Sentra Rajut Binongjati, Sudah Ada Sejak 1960-an

DI Jalan Gatot Subroto ada sebuah perkampungan yang warganya kebanyakan memproduksi rajutan, seperti sweater, jaket, cardigan, syal, baju hangat dll. Lokasinya tidak jauh dari persimpangan Jalan Ibrahim Ajie dan Terusan Kiaracondong. Di depan perkampungan tersebut terdapat gapura Selamat Datang di  Sentra Industri Rajut Binong Jati.

Untuk mencari setra rajut ini tidak sulit. Jaraknya hanya beberapa meter dari persimpangan Jalan Ibrahim Ajie dan Terusan Kiaracondong. Jalan seukuran kuarang lebih dua meteran bisa terlihat  tepat berada di tepi Jalan Gatot Subroto. Di antara toko-toko yang berjejer itulah jalan tersebut berada.

Sentra rajut Binongjati sudah ada sejak   tahun 60-an. Saat itu warga Tionghoa dengan warga sekitar membangun industri rajutan di sana. Mereka mengunakan  mesin tradisonal untuk memproduksi rajutan.

Pada 1970-an, warga lainnya turut  membuka usaha ini. Sehingga pengusaha rajutan bertambah delapan hingga sepuluh orang. Usaha ini terus berkembang dari tahun ke tahun.

Pada 1998  mencapai puncaknya. Sekitar 250 orang mencoba peruntungannya di usaha rajutan ini. Mereka sudah menggunakan mesin modern.

Warga kemudian berinisiatif  menamai kawasannya dengan sebutan “Sentra Industri Rajutan Binongjati”. Sebutan sentra diperkenalkan warga melalui gapura yang terpampang di pintu masuk kawasan Binongjati, Jalan Gatot Subroto, Bandung.

Dinas Koperasi UKM dan Perindustrian, Perdagangan Kota Bandung kemudian menyatakan Binongjati sebagai kawasan industri tekstil.

Hingga kini, usaha rajutan di Binongjati terus berkembang dan semakin dikenal waistawan. Menurut catatan laman sentraindustribandung.com, terdapat kurang lebih 293 pengrajin rajut di sana.

Adapun  kapasitas produksi per tahunnya sebanyak 852.200 lusin dengan nilai investasi Rp. 31,366 miliar. Sentra rajut Binongjati diperkirakan bisa  menyerap tenaga pekerja sebanyak 2.143 orang. *

 

Tahu Cibuntu Memproduksi Tahu Putih dan Kuning

DI Bandung ada beberapa sentra produksi yang tersebar di seluruh kora ini. Di Cihampelas ada sentra jins, di Cibaduyut ada sentra  sepatu, di Binong ada sentra rajut, dan di Cibuntu ada sentra tahu Cibuntu.

Sentra tahu Cibuntu terletak di Jalan Babakan Ciparay, Kecamatan Bandung Kulon, Bandung. Tak jauh dari pintul Tol Pasirkoja, dan Jalan Holis. Mayoritas penduduknya berprofesi sebagai perajin atau produsen tahu. Warga menyebut kawasan tersebut blok tahu.

Sekitar 50 rumah di kampung tersebut memproduksi tahu putih dan kuning. Mereka memproduksi tahu sejak 1970-an. Namun, di mobile.kontan.co.id disebutkan warga Kampung Cibuntu mengenal produksi tahu dari seorang imigran Tionghoa  pada 1937.

Pabrik Tahu di Cibuntu Bandung. |Foto serbabandung.com #serbabandung
Pabrik Tahu di Cibuntu Bandung. |Foto serbabandung.com #serbabandung

Imigran Tionghoa itu mendirikan pabrik tahu rumahan di Kampung Cibuntu. Orang Cibuntu menyebut imigran Tionghoa tersebut Babah Mpe. Ketika Babah Mpe kembali ke negaranya karyawan dan warga meneruskan industri tahu tersebut.

Dalam laman sentraindustribandung.com disebutkan terdapat kurang lebih 408 produsen tahu di Cibuntu. Kapasitas produksi per tahunnya sebanyak 2.161 juta potong. Nilai investasinya mencapai Rp. 13,472 miliar. Bisa menyerap tenaga pekerja sebanyak 1.518 orang.

Untuk mendapatkan tahu Cibuntu tidak harus ke sana karena di pasar-pasar banyak pedagang yang menjajakan makanan yang terbuat dari kacang kedelai ini. Tahu ini juga didagangkan secara langsung ke rumah-rumah warga oleh pedagang sayur, atau ada juga yang menggunakan sepeda.

Tahu Cibuntu tetap menjadi pilihan meski sudah banyak produk tahu yang bermunculan. Keunggulan tahu Cibuntu  tidak berbau, dan gurih alami. Rasa dan kualitasnya bisa bertahan hingga sekarang membuat tahu ini tetap menjadi pilihan.

Tahu Cibuntu cara membuatnya manual melalui pengawasan ketat. Air yang digunakan berasal dari air sumur/artesis yang berkualitas baik. Tahu ini menggunakan pengawet alami kunyit. *

Tahu Cibuntu

  • Terletak di  Jalan Babakan Ciparay, Kecamatan Bandung Kulon, Bandung
  •  Mereka memproduksi tahu sejak 1970-an
  • Di mobile.kontan.co.id disebutkan warga Kampung Cibuntu mengenal produksi tahu dari seorang imigran Tionghoa  pada 1937
  • Tahu Cibuntu cara membuatnya manual melalui pengawasan ketat
  • Air yang digunakan berasal dari air sumur/artesis yang berkualitas baik
  • Tahu ini menggunakan pengawet alami kunyit

Toserba Borma, Hadir Pertama Kali di Dakota Pasteur

TOSERBA Borma cukup familiar di telinga warga Bandung. Toserba milik PT Harja Gunatama Lestari sudah merambah ke mana-mana. Di Kota Bandung saja lebih dari 20 toserba tersebar di daearah-daerah kota ini. Belum lagi dengan toserba yang berada di Kabupaten Bandung, Kabupaten Bandung Barat, dan Cimahi.

Toserba Borma pertama hadir di Kota Bandung di Dakota Pasteur pada Oktober 1977. Kehadiran toserba ini disambut antusias warga di kawasan tersebut.

Borma membuka superstore Borobudur Market di Dago pada 1989.  Namun pada  1991, Toserba Borma dan Borobudur Market digabungkan agar semua kegiatan usaha ritel di seluruh daerah menjadi satu dengan nama Toserba Borma.

Toserba Borma. | Foto serbabandung.com #serbabandung
Toserba Borma. | Foto serbabandung.com #serbabandung

Borma merupakan toserba yang memperkenalkan konsep hipermarket, alternatif belanja baru di Indonesia bagi pelanggannya.

Toserba ini menawarkan konsep “One-Stop Shopping”. Konsep yang menawarkan tempat pilihan dengan produk yang beragam, harga murah, dan juga memberikan pelayanan terbaik sehingga melebihi harapan pelanggan.

Borma sudah beroperasi di 83 gerai, 22 di antaranya berada di Kota Bandung. Selain di Kota Bandung Borma tersebar di 28 kota/kabupaten di Indonesia.

Borma mengklaim 72 juta pelanggan telah mengunjungi Toserba Borma pada  2012, naik dari 62 juta pelanggan di tahun sebelumnya. Pelanggan bisa memilih satu dari  40.000 produk yanh ditawarkan.

 

Berikut Toserba Borma yang berada di Kota Bandung:

  • Borma Dakota Pasteur Bandung (dibuka pada 15 Desember 1977)
  • Borma Dago Bandung (dibuka pada 28 Maret 1989)
  • Borma Cijerah Bandung (dibuka pada 22 Juni 1989)
  • Borma Antapani Bandung (dibuka pada 25 Juni 1992)
  • Borma Setiabudi Bandung (dibuka pada 23 November 1992)
  • Borma Cikutra Bandung (dibuka pada 15 Desember 1995)
  • Borma Ujung Berung Bandung (dibuka pada 15 Maret 1996)
  • Borma Cipadung Sadang Serang Bandung (dibuka pada 25 Maret 1996)
  • Borma Cipamolokan Riung Bandung (dibuka pada 26 April 1996)
  • Borma Kiara Condong Bandung (dibuka pada 4 April 1997)
  • Borma Garuda Bandung (dibuka pada 8 Agustus 1997)
  • Borma Buah Batu Bandung (dibuka pada 30 April 1999)
  • Borma Rancabolang Bandung (dibuka pada 29 September 2000)
  • Borma Sukajadi Bandung (dibuka pada 20 Oktober 2000)
  • Borma Cibeureum Bandung (dibuka pada 24 Oktober 2001)
  • Borma Express Dipatiukur Bandung (dibuka pada 22 November 2002)
  • Borma Pasir Impun Bandung (dibuka pada 31 Januari 2003)
  • Borma Express Ciuhumbeulit Bandung (dibuka pada 14 Februari 2003)
  • Borma Cibaduyut Bandung (dibuka pada 5 Maret 2004)
  • Borma Cisitu Bandung (dibuka pada 11 Juni 2004)
  • Borma Kopo Sayati Bandung (dibuka pada 23 September 2005)
  • Borma Gempolsari Regency Bandung (dibuka pada 28 Juli 2006). *

Kantor Pusat Toserba Borma:
Jl. Dakota Raya No.109, Gunung Batu, Jawa Barat 40175
Telp: (022) 6027624

Rumah Makan Ganefo, Berdirinya Pada 1960

RUMAH makan ini salah satu rumah makan yang sudah lama berdiri. Berdirinya pada 1960-an, dan sudah mulai terkenal pada 1970-an. Namanya Rumah Makan Ganefo. Terletak di Jalan Naripan No 147. Tak jauh dari mi Naripan

Rumah makan ini berada di ujung Jalan Naripan, dekat dengan Jalan Ahmad Yani. Dari arah Jalan Naripan tingal lurus menyebarang Jalan Sunda. Bangunannya tidak terlalu besar. Kekhasan gedung yang berarsitektur lama ini  membuat tidak sulit untuk mencarinya.

Di gedung lama itu tersedia meja panjang dari kayu. Suasana ke zaman dulu memberikan kenyamanan pada para pengunjungnya. Lalu lintas di Jalan Naripan yang ramai tidak membuat selera makan berkurang.

Rumah Makan Ganefo. | Foto serbabandung.com #serbabandung
Rumah Makan Ganefo. | Foto serbabandung.com #serbabandung

Menu andalah Rumah Makan Ganefo adalah Soto Bandung, Pindang, dan  Ikan Mas. Ketiga menu itu memang yang paling dicari terutama sotonya. Orang makan ke sana biasanya untuk menikmati soto.

Selain  menu andalan tersebut  tersedia juga  makanan lain seperti soto ayam, gepuk, tongkol balado. Harga makanan di sini termasuk murah. Sedangkan rasanya tidak berubah hingga sekarang tetap lezat, menjadikan rumah makan ini bisa bertahan sampai lebih dari 40 tahun.

Pengunjung Rumah Makan Genefo adalah warga yang berkantor di sekitar sana. Selain itu ada juga yang menghabiskan waktu untuk menunggu servis sepeda. Rumah makan ini memang tidak jauh dari Jalan Veteran tempat toko dan servis sepeda.

Rumah makan Genefo juga tidak jauh dari Jalan Ahmad Yani. Jika berkenan bisa langsung ke sini setelah berbelanja di Pasar Kosambi, atau setelah menelusuri jalan yang di tepinya berjejer toko-toko menjual berbagai macam keperluan.

Dari Jalan Braga pun rumah makan ini tidak terlalu jauh. Jika menggunakan kendaraan tinggal lurus saja. Bahkan dengan jalan kaki, jika mau, takkan memakan waktu banyak. *

Rumah Makan Ganefo

Jalan. Naripan No. 147 (Dekat toko dan bengkel sepeda)
Buka pukul 08.00-18.00 WIB setiap hari kecuali hari Minggu

Menu Favorit

  • Soto ayam
  • Gepuk
  • Tongkol balado