Hotel Istana, Tak Jauh dari Jalan Braga

HOTEL yang satu ini sudah lama berdiri di Kota Bandung. Ketika Kota Bandung masih bisa terbilang hotelnya, hotel ini telah memberikan pelayanan pada wisatawan. Hotel tersebut namanya Hotel Istana.

Hotel ini berada di Jalan Lembong No 20. Tidak jauh dari Patung Persib, dan Museum Mandala Wangsit. Di depannya ada Hotel Royel Palace yang persis berhadap-hadapan terpisahkan oleh Jalan Lembong.

Hotel berbintang tiga ini berada di pusat kota Bandung. Sangat mudah diakses. Bila ingin ke Jalan Braga bisa ditempuh dengan berjalan kaki. Ke pusat perbelanjaan Bandung Indah Plaza pun tidak jauh.

Hotel ini awalnya bernama Hotel Pension van Rhijn II. Kemudian namanya berubah menjadi  Gedung Astoria Hotel Istana I. Sedangkan Hotel Royal Palace dulunya bernama Hotel Pension van Rhijn. Oleh pemiliknya diubah lagi menjadi Hotel Pension van Rhijn I, dan Hotel Istana II.

Dulunya hotel ini di miliki oleh satu orang dan merupakan hotel kembar. Tetapi sekarang kedua hotel ini sudah dimiliki oleh orang yang berbeda. Hotel Royal Palace sebelumnya  merupakan percetakan yang cukup terkenal di Bandung.

Hotel Royel Palace bangunannya masih dipertahankan. Berbeda dengan Hotel Istana yang mengalami perubahan yang cukup banyak. Hotel itu kini memiliki bangunan tiga lantai, dan lahan parkir yang cukup luas.

Hotel ini memiliki kualitas pelayanan yang terpadu, dengan menyediakan ruang rapat, kamar dengan berbagai pilihan dan harga terjangkau, serta pelayanan hotel 24 jam. Hotel Istana menjajikan pada tamunya menjadikan perjalanan bisnis dan liburan lebih menyenangkan.

Fasilitas Kamar yang diberikan Hotel Istana adalah Air Conditioner (AC), TV, Hot or Cold Water, Laundry, Room Service 24 jam, Complimentary Breakfast, dan Swimming Pool. Sedangkan tipe kamar yang ditawarkan adalah Type of Room Weekday Weekend, Deluxe, Super Deluxe, Superior, dan Suite. *

Hotel Istana Bandung
Jl. Lembong No. 24 Braga Sumurbandung Bandung Jawa Barat, 40181, Indonesia
Telepon : +62 22 4233025

Fasilitas Kamar

  • Air Conditioner (AC)
  • TV,
  • Hot or Cold Water
  • Laundry
  • Room Service 24 jam
  • Complimentary Breakfast
  • Swimming Pool

Brownies Amanda, Kini Jadi Oleh-oleh Khas Bandung

PULANG dari Bandung tanpa membawa buah tangan seperti sayur tanpa garam. Padahal di kota ini banjyak sekali jenis oleh-oleh yang bisa dibawa. Mulai dari kuliner, pakaian, hingga kerajinan. Harganya juga sangat terjangkau.  Salah satu buah tangan yang populer adalah brownies kukus. Banyak bermunculan merek-merek brownies ini di Bandung. Namun yang paling banyak dikenal wisatawan maupun warga lokal adalah Brownies Amanda.

Banyak pilihan yang bisa dibawa oleh para wisatawan seperti brownies original, sarikaya pandan, blueberry, choco marble, pink marble, green marble, tiramisu, dan varian lainnya.

Selain brownies tersaji juga beragam pastry, seperti pisang bolen keju, pisang bolen nanas, cheese stick, sweet stick, cheese roll, dan aneka keripik pisang serta kentang. Harganya bervasriasi  mulai dari Rp 25.000 hingga Rop 60.000.

Amanda Brownies Jalan Lengkong Bandung | Foto serbabandung.com
Amanda Brownies Jalan Lengkong Bandung | Foto serbabandung.com #serbabandung

Brownies Amanda lahir dari home industri. Pada 1999 Sumiwiludjeng dan suaminya H. Sjukur Bc.AP mencoba resep kue bolu kukus yang didapatkan dari salah seorang saudaranya. Tidak dinyana resep tersebut membawa kesuksesan pada keluarga tersebut,

Sepasang suami istri ini dibantu oleh anak dan menantunya membuat dan memasarkan brownies sehingga terkenal ke seluruh Indonesia. Merek Amanda sendiri merupakan singkatan dari Anda Mantu Damai. Artinya keukarga ini mengharapkan anak dan menantu bisa selalu hidup rukun dan damai.

Sempat berkali-kali pindah gerai, Amanda Brownies akhirnya menetap di Jl Rancabolang No 29 Kecamatan Rancasari, Kota Bandung. Berawal dari sinilah Amanda Brownies jadi semakin banyak dicari orang.

Amanda Brownies melebarkan sayap. Gerai-gerainya tidak hanya ada di Kota Bandung tapi sudah menyebar ke kota-kota lain, bahkan ke luar jawa. Pada akhir 2014,  Amanda meresmikan tiga outlet baru, di Jl Tentara Pelajar No 42A Magelang, Jateng; di Jl Basuki Rahmat No 43 Palembang, Sumsel; dan di Jl Raya Rancaekek No 131 (Dangdeur), Kecamatan Rancaekek, Kabupaten Bandung.

Menurut Humas Amanda Brownies, dalam laman resmi Amanda, pembukaan tiga outlet baru tersebut untuk memenuhi permintaan pasar. Menurut dia dengan penambahan tiga outlet tersebut, maka total outlet resmi Amanda Brownies di seluruh Indonesia sebanyak 46.*

Brownies Amanda

Laman Resmi: http://amandabrownies.co.id
HEAD OFFICE
Jl. Rancabolang No. 29 Bandung
Telp. 022 – 7514657, 022 – 92754190
Fax. 022 – 7504291

Outlet Amanda di Bandung
Jl. Rancabolang No. 29Tlp. 022 – 92754191
Jl. Cikawao No. 1 – 3 Tlp. 022 – 92754192
Jl. Terusan Jakarta No.6 Tlp. 022 – 92754193
Jl. Pasir Kaliki Ruko Paskal Hyper Square Blok A 43 Tlp. 022 – 92754194
Jl. Ir. H. Djuanda No. 167 Tlp. 022 – 92754195
Jl. Dr. Setiabudi No. 164 Tlp. 022 – 92278246
Jl. Raya Kopo Sayati No.155 Tlp. 022 – 92201822, 022 – 91752108 *)
Jl. Kopo Jaya No.527 Bandung ikon outlet baru small *) Relokasi dari Jl. Raya Kopo Sayati No.155
Jl. A. H. Nasution No. 45 Ujung Berung Tlp.  022 – 93883830
Jl. Raya Cibabat No.452 Cimahi Tlp. 022 – 93605099
Jl. Raya Jatinangor No.105 Tlp. 022 – 93883832
Jl. Raya Rancaekek No.131 (Dangdeur) ikon outlet baru small Tlp. 022 – 91437740

 

Command Center Ala Bandung di Balai Kota

KOTA Bandung kini memiliki ruang khusus Command Center. Dari sinilah para petugas bisa memantau lalu lintas, atau kermaian kota. Apapun bisa terpantau, termasuk melanggar lalu lintas di trafic light.

Command Center berada di Kompleks Balai Kota. Anggaran untuk membangun fasilitas ini Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung menghabiskan anggaran Rp 27 miliar. Pembangunan fasilitas ini akan dilakukan dalam tiga tahap.

Yang baru ditinjau Wali Kota Bandung Ridwan Kamil, Senin (19/1) adalah hasil kerja tahap pertama. Emil, sapaan Ridwan Kamil, mengaku puas melihat hasil pengerjaan tahap pertama. Emil mengaku ide membangun commond center tersebut saat mengadakan kunjungan ke Korea dan Jepang.

Command Center Kota Bandung. | Akun youtube DiskominfoBdg
Command Center Kota Bandung. | Akun youtube DiskominfoBdg

Command Center itu dilengkapi tiga layar monitor jumbo yang terkoneksi dengan internet dan kamera CCTV. Terpasang di sejumlah titik. Tiga layar monitor layar sentuh juga tersimpan di meja khusus untyuk komandan Command Center. Di sana juga tersedia sejumlah komputer, ratusan tombol, dan masih banyak lagi.

Menurut Emil, seperti dikutip Tribun Jabar, Senin, 19 Januari 2015, ada 68 unit kamera CCTV yang tersebar di sejumlah titik di Kota Bandung. Dari jumlah tersebut baru 20 kamera yang langsung bisa diaksen oleh Command Center.

“Kejadian di jalanan akan termonitor dari sini. Jika ada pelanggaran, petugas di sini akan menghubungi petugas di lapangan. Di lapangan, petugas terdekat bisa segera mengambil tindakan,” ujar Emil dikutip Tribun.

Dalam peninjauan itu orang nomor satu Kota Bandun ini sempat memperhatikan monitor yang tersambung kamera CCTV yang berada di perempatan Jalan Buahbatu-Jalan Soekarno Hatta.

Disebutkan markas Command Center itu nantinya akan digawangi 15 orang yang berstatus non-PNS. Para petugas ini masih dalam tahap seleksi. Menurut Emil, seleksi harus dilakukan karena orang yang bertugas nanti harus orang yang pintar.*

Sumber: Tribun Jabar

Museum Monumen Perjuangan, Ruangan Bawah Dilengkapi AC

DI antara monumen yang menjulang di Monumen Perjuangan ada pintu yang menuju ke bawah. Di bawah tersebut terdapat Museum Monumen Perjuangan masyarakat Jawa Barat masa penjajahan hingga mempertahankan kemerdekaan.

Arah ke ruangan bawah harus melalui sebuah pintu kecil yang dijaga oleh seorang petugas. Pintu tersebut diapit relief dan prasasti Bahasa Sunda, yang melukiskan heroiknya perjuangan masyarakat Jawa Barat mengusir penjajah di Bumi Pertiwi.

Pengunjung oleh petugas dipersilakan menandatangani buku tamu. Kemudian dibawa ke sebuah ruangan, dan diantar oleh petugas lainnya masuk ke Museum Monumen Perjuangan yang penerangannya remang-remang. Pengunjung mendapatkan arahan dari pertugas ketika berkunjung ke Museum Monumen Perjuangan.

Di ruangan tersebut terdapat diorama perjuangan masyarakat Jawa Barat. Pengunjung bisa menyaksikannya dari balik kaca yang dibatasi pagar besi. Di depan ada alat multimedia yang bisa digunakan untuk pengunjung untuk mendengarkan audio, melihat video, dan membaca sejarah diorama yang sedang disaksikan pengunjung.

Diorama paling baru di museum itu adalah seputar perjuangan Dewi Sartika memperjuangkan penyetaraan hak mendapatkan pendidikan buat perempuan. Dalam diorama tersebut digambarkan Dewi Sartika sedang mengajar anak didik di sekolah Kautamaan Istri.

Di museum itu juga terdapat boneka-boneka berukuran manusia yang menggunakan seragam tentara pada masa lalu. Di etalase lainnya terdapat pajangan foto, dan peta jejak para pejuang pada masa penjajahan dulu.

Di Museum Monumen Perjuangan Ada Perpustakaan

Di bawah Monumen Perjuangan selain museum, terdapat perpustakaan dan auditorium. Di perpustakaan tersebut tersedia ruang baca, ruang duplikat, dan ruang microfilm. Sedangkan auditorium biasa dipergunakan untuk memberikan ceramah, diskusi, pemutaran film, dan pemutaran lagu-lagu perjuangan.

Untuk menjaga keawetan dari pengaruh kelembapan udara semua ruang di bawah monumen menggunakan AC dan penerangan buatan kecuali ruang hall dan lobi. Demi kenyamanan, semua ruangan bebas hama, pencahayaan cukup, keamanan dari bahaya kebakaran dan gangguan dari pengunjung.

Para pengunjung bisa menikmati fasilitas tersebut gratis alias tidak dipungut biaya. Menurut petugas di monumen itu untuk hal tersebut memang belum ada perdanya. Sejak April 2010 monumen ini dikelola oleh Balai Pengelolaan Kepurbakalaan, Sejarah dan Nilai  Tradisional (BPKSNT), Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Barat. *

Lapangan Gasibu, Namanya Merupakan Nama Klub Sepak Bola

LAPANGAN Gasibu adalah lapangan di kawasan Bandung Utara yang dipertahankan keberadaannya. Diapit Jalan Diponegoro dan Surapati, lapangan ini tepat berada di depan Gedung Sate, kantor pemerintahan Provinsi Jawa Barat.

Selain Lapangan Tegallega, Sabuga, dan Pajajaran, Gasibu  menjadi pilihan warga untuk berolahraga. Lintasan lari yang melingkari lapangan ini sangat bermanfaat bagi warga yang ingin joging di sana. Sedangkan lapangannya digunakan warga untuk sepak bola, atau olahraga lainnya.

Salah satu tempat favorit di lapangan tersebut adalah tangga yang menuju ke lapangan dari Jalan Diponegoro. Di tangga ini warga bisa bersantai duduk-duduk di tangga sambil melihat Gedung Sate. Selain itu  juga bisa berfoto-foto dengan latar berlakang gedung pemerintahan Provinsi Jawa Barat ini.

Di Jalan Gasibu ada jajaran pedagang kuliner yang siap menunggu siapapun yang telah lelah berolahraga. Di jalan ini pula kendaraan bisa diparkir. Di kawasan Gasibu kini lebih tertib setelah Pemerintah Kota Bandung  mengembalikan fungsi lapangan ini sebagai sarana berkumpul masyarakat.

Sebelum ada penertiban, tiap Minggu, kawasan ini menjadi pasar kaget. Namun setelah ada penertiban  16 Maret 2014 sedikit demi sedikit mulai berkurang, dan akhirnya berkurang secara drastis. Hanya beberapa pedagang kaki lima yang berdagang di kawasan Jalan Diponegoro dengan menggunakan mobil.

Di lapangan yang memiliki luas kurang lebih 6.000 m2 ini sering digunakan untuk even-even seperti konser musik, dan acara yang mengundang banyak orang untuk menyaksikannya. Namun sekarang acara-acara termasuk konser sudah jarang digelar. Kini Lapangan Tegallega banyak dipilih untuk mengadakan konser atau acara lainnya.

Sebalum Menjadi Lapangan Gasibu, Namanya Wilhelmina

Sekadar kilas balik, dikutip dari m.detik.com, 25 November 2008, Lapangan Gasibu pada jaman Belanda bernama Wilhelmina Plein (lapangan Wilhelmina). Nama ini diambil dari ratu Belanda. Kemudian pada 1950-an berganti nama menjadi Lapangan Diponegoro. Pasa 1955 berubah lagi menjadi lapangan Gasibu.

Disebutkan nama Gasibu berasal dari klub sepakbola  Gasibu yang memiliki kepanjangan Gabungan Sepakbola Indonesia Bandung Utara. Klub tersebut harus pindah ke lapangan di Jalan Diponegoro karena lapangan  sebelumnya di Jalan Badak Singa dijadikan kantor PDAM. *