Kampung Wisata Jelekong Tetap Menarik untuk Dikunjungi Pecinta Seni

Kampung Wisata Jelekong sudah lama ada di Giriharja, Kelurahan Jelekong, Kecamatan Baleendah, Kabupaten Bandung. Para pelukis ini mulai mengenal lukisan sejak 1969. Namun, komunitas pelukis ini sudah mulai dikenal sejak 1980-an.

Ketika memasuki kawasan tersebut, akan terlihat lukisan-lukisan yang dipajang di galeri di sepanjang jalan. Berbagai aliran dan jenis lukisan bisa dinikmati di sini. Lukisan-lukisan tersebut merupakan jualan para pelukis warga di Kampung Wisata Jelekong.

Sesekali juga, pengunjung bisa melihat pelukis yang mengerjakan karya seni di media kanvas di sanggar-sanggar yang ada di sana. Lukisan-lukisan itu tak hanya dijual ke pengunjung yang datang ke sana. Para pelukis menjualnya bahkan hingga ke Medan dan luar negeri. Karya pelukis perajin di Jelekong pun bisa diperoleh di Jalan Braga.

Di Kampung Wisata Jelekong pun terdapat padepokan seni wayang golek. Tak hanya cara membuat wayang yang diperagakan di sana, beberapa kesenian seperti wayang golek, jaipong, pencak silat, dan lain-lain kerap digelar di sini.

Di Kampung Wisata Jelekong juga memiliki tempat wisata 3D mini. Lokasinya masih berada di jalan tersebut. Sebuah komunitas bernama Komunitas Gurat membangun tempat wisata tempat wisata kekinian yang menawarkan spot foto berupa lukisan 3D karya pelukis dari komunitas tersebut. Berbeda dengan tempat wisata sejenis, di sini pengunjung bisa mendapatkan workshop singkat melukis di atas kanvas.

Kampung Wisata Jelekong dan 3D

kampung wisata jelekong
Pelukis di Jelekong. | Foto serbabandung.com

Cara itu dilakukan untuk mempertahankan kampung tersebut yang mau tidak mau meredup oleh kehadiran tempat wisata kenian. Sebanyak 600 pelukis bergabung dalam komunitas tersebut yang memiliki niat sama untuk memperjuangkan keberadaan pelukis-pelukis di kampung tersebut.

Kampung ini didirikan oleh Asep Sunandar Sunarya. Dulunya Kampung Jelekong bisa di bilang kampung yang tidak terkenal namun ketika Abah Asep Sunandar tinggal di kampung ini semuanya berubah. Kampung Jelekong berubah nama menjadi Kampung Giri Harja Endah, lalu dikenal sebagai kampung seni yang terletak di Bandung selatan.

Kampung Jelekong hanya berjarak 12 Km dari Kota Bandung terdiri dari empat RW dengan jumlah penduduk kurang lebih 4.800 jiwa ini tak jauh dari Jalan Laswi yang mengarah ke Ciparay. Untuk ke san bisa ditempuh melalui Jalan Buahbatu terus ke Bojongsoang dan belok ke kanan ketika menemui simpang Jalan Siliwangi di Baleendah. Alternatif lainnya bisa lewat Jalan Mohamad Toha menuju Dayeuhkolot, Baleendah, kemudian ke Jalan Laswi.

Wahana di Kampung Batu yang Menarik untuk Dikunjungi Pelancong

BERBAGAI wahana menarik tersaji di Kampung Batu Malakasari di Jalan Raya Banjaran (Rencong), Desa Malakasari, Kecamatan Baleendah. Banyak pelancong yang datang ke sana untuk menikmati keindahan alam sekaligus wahana di Kampung Batu.

Keramaian pun terlihat pada Sabtu (17/3/2019). Para wisatawan antusias menikmati wahanan di Kampung Batu. Arena permainan anak-anak menjadi salah satu yang teramai hari itu. Hal yang sama terlihat di bukit batu yang cocok untuk berfoto-foto.

Kampung Batu adalah ekowisata yang menawarkan wahana yang berkaitan dengan alam. Di kawasan luas 50.000 meter persegi ini terdapat gunung batu yang di tengahnya terhampar danau yang bisa digunakan oleh pengunjung untuk berperahu. Gunung batu itulah yang merupakan bentukan alam yang menjadi wahana di Kampung Batu

Gunung batu yang terlihat indah merupakan bekas penambangan batu alam yang digarap masyarakat setempat sejak tahun 1900-an. Batu-batu di tepi danau tersebut memiliki formasi geologi yang indah. Pada 2002 kawasan tersebut direklamasi dan diubah menjadi sebuah lokasi wisata yang menarik.

Wahana di kampung batu
Kampung Batu Malakasari di Jalan Raya Banjaran (Rencong), Desa Malakasari, Kecamatan Baleendah.

Kampung Batu Malakasari menawarkan wahana menarik bagi pengunjungnya. Berperahu di danau merupakan wahana yang banyak penggemarnya. Pengunjung bisa menjelajah sambil melihat bukit batu yang berada di tepi danau. Untuk menikmati wahana perahu ini pengunjung harus membeli tiket seharga Rp 5.000.

Di danau tersebut merupakan habitat berbagai jenis ikan air tawar. Pengunjung bisa memancing di tepian danau atau gazebo yang tersedia. Pemancingan di sini memberlakukan sistem catch and release untuk menjaga kelestarian ikan.

Wahana yang menantang pun tersedia, yakni flying fox. Flying fox di Kampung Batu Ecopark ini memiliki panjang 120 Meter yang melintas di atas danau. Untuk bermain wahana ini dibutuhkan keberanian. Bagi yang berani silakan membayar Rp 15.000. Fasilitas outbound lainnya ada burma bridge, loop bridge, jaring laba-laba, rumah pohon, panjat dinding, kukuyaan, dan jembatan goyang.

Wahana Di Kampung Batu Ada Area Bermain Anak-anak

Untuk anak-anak Kampung Batu Ecopark menyediakan area tempat bermain. Permainan yang disajikan oleh para instruktur dibuat menyenangkan untuk melatih kekompakan, kerja sama, membangun etos kerja, disiplin dan lain-lain. Kegiatan tersebut di antaranya adalah lomba bakiak, kukuyaan, ngala tutut, tangkap belut, tangkap kelinci, kereta mini, trampolin anak, dan sepeda roda tiga.

Di Kampung Batu Ecopark pengunjung bisa mengenal kesenian dan kultur kebudayaan Sunda. Mereka bisa memainkan berbagai jenis permainan khas melalui kegiatan kaulinan Sunda. Di area ini juga pengunjung bisa lebih mengenal berbagai macam rumah adat Sunda dan bagian-bagiannya, seperti tepas, leuit, pawon, songsong, seeng, aseupan, lisung, halu, dan sebagainya.

Pengunjung yang senang berternak tersedia area untuk mempelajari cara beternak unggas seperti bebek, itik, ayam, kalkun dan angsa. Mereka bisa merasakan menggembala dan mengumpulkan telur bebek untuk diolah menjadi telur asin. Telur-telur itu dihias dan bisa dibawa pulang sebagai buah tangan Kampung Batu Malakasari Ecopark.
Selain berternak tersedia area untuk berkebun, pembibitan, dan penyemaian secara tradisional. Para pengunjung dapat menikmati proses bertani dan membajak sawah serta menaiki kerbau untuk membajak sawah.

Kampung Batu Malakasari Ecopark buka Senin-Jumat 08.00-16.00 WIB dan Sabtu/Minggu/Hari Libur 08.00-17.00 WIB. Harga tiket ke tempat wisata ini untuk dewasa Rp.10.000 dan anak-anak Rp 5.000. Parkir Motor Rp 2.000 sedangkan untuk mobil Rp 5.000.

Pacet, Kawasan yang Ada Tempat Wisata Alam yang Indah

PACET adalah sebuah kecamatan di Bandung Selatan. Wilayahnya masuk ke dalam Kabupaten Bandung. Daereh ini tidak kalah dengan Pangalenan atau Ciwidey yang memiliki tempat wisata menarik. Beberapa tempat wisata di sana bahkan sudah ada yang populer.

Tempat wisata di Pacet yang pertama adalah Warung Alam Cibutak. Warung ini terletak di Jalan Raya Pacet, Kabupaten Bandung. Di sini suasana cafe outdoor sangat kental terasa. Warung ini memberikan nuansa lain karena berada di dataran tinggi di sebuah pedesaan.

Panorama di kawasan kafe ini sangat menarik menjadi objek foto. Suasana khas pedesaan, persawahaan, dan aliran Sungai Citarum menjadi daya tarik tersendiri. Warung Alam Cibutak menyediakan wahana wisata keluarga seperti wahana River Tubing, wahana bermain anak, taman baca, dan tempat untuk berkemah.

Gunung Rakutak di Desa Sukarame, Kecamatan Pacet, Kabupaten Bandung, ini pun menjadi tempat wisata di Pacet yang sering dikunjungi pecinta alam. Rakutak memiliki ketinggian 1922 meter di atas permukaan laut. Untuk menuju ke sana bisa diakses dari Kota Bandung melalui Jalan Bojongsoang kemudian ke Baleendah, Jalan Siliwangi mengarah ke Ciparay. Dari Alun-alun Ciparay belok kanan menuju Kecamatan Pacet. Dari Kecamatan Pacet menuju Desa Sukarame.

Sebelum mendaki, pengunjung harus mendaftarkan diri di pos resgitrasi beruap warung yang terdapat spanduk bertuliskan Himpala Rakutak. Himpala Rakutak adalah Himpunan Pelestarian Alam Rakutak. Mereka para relawan yang terdiri dari masyarakat sekitar yang peduli akan pelestarian alam Gunung Rakutak.

gunung rakutak di pacet
Gunung Rakutak. | Foto serbabandung.com

Dalam wikipedia dijelaskan untuk menuju puncak Gunung Rakutak terbilang cukup berat. Medan dari pos 1 ke puncak Rakutak melalui 2 medan yang berat.

Pertama adalah medan menanjak yang sangat licin dan medan kedua yaitu jembatan sempit yang di kanan kirinya terdapat jurang yang sangat curam. Jembatan ini pun sering tertutup kabut. Dalam wikipidia jembatan tersebut disebut jembatan setan.

Di Pacet Ada Kolam Renang

Bagi yang ingin berenang sekaligus menikmati indahnya pemandangan sebaiknya datang ke AW Strawberry Water Park. Tempat wisata yang menawarkan indahnya persawahan dan pegunungan ini lokasinya berada di Jalan Raya Pacet KM. 15, Kertasari, Sukapura, Kabupaten Bandung.

Untuk menikmati kolam renang tersebut pengunjung harus memabayar Rp 30.000. Harga tersebut belum dengan wahana yang tersedia seperti flying fox dan sepeda air berbentuk angsa.

Kolam renang yang tersedia ada waterboom lengkap dengan air jatuh dari ember. Tempat ini anak-anak sangat menyukai. Kemudian ada kolam renang untuk berolahraga yang memiliki kedalaman bervariasi. Asyiknya berenang di sini bisa sambil menikmati pemandangan terutama Gunung Rakutak dan sawah-sawah.

Bagi umat Islam jangan khawatir di sini tersedia musala refersentatif dan nyaman untuk beribadah. Tersedia juga warung yang menjual makanan ringan, minuman, dan menu khas Sunda. Di areal kolam renang terdapat saung-saung yang bisa digunakan pengunjung untuk bersantai, bersantap makanan yang telah disediakan oleh warung tersebut.

Gunung Artapela adalah nama gunung yang mulai nge-hits di antara para pendaki di Pacet. Berada di ketinggian 2.194 mdpl, Artapela merupakan gunung tropis yang sudah tidak aktif lagi. Lokasinya berada di Kertasari berbatasan dengan Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung.

Untuk ke gunung ini bisa ditempuh dari Pangalengan. Namun rute termudah, jika dari Bandung, bisa lewat Jalan Buahbatu, terus melewati Bojongsoang, dan Baleendah. Tiba di persimpangan Beleendah belok kiri ke arah Ciparay.

Pos Pendakian Artapela terdapat di Kampung Argasari RT. 001 RW. 014 Desa Sukapura, Kecamatan Kertasari, Kabupaten Bandung.

Gunung Artapela memiliki pemandangan indah, cuaca sejuk, dan kabut yang seolah tak mau pergi di sekitar gunung. Keindahan itu menjadikan tempat ini digemari para pecinta alam. Dari sini juga pengunjung bisa menikmati momen matahari terbit dan tenggelam.

Cileunca, Danau Buatan yang Mempesona di Pangalengan

BANDUNG memiliki danau yang menjadi tempat wisata. Satu di antaranya ada di Warnasari, Pangalengan, Kabupaten Bandung. Namanya Situ Cileunca. Danau ini merupakan danau buatan. Lokasinya berada di ketinggian 1.100 DPL (di atas permukaan laut).

Situ Cileunca memiliki luas sekitar 1.400 hektare. Kedalaman danaunya mencapai 17 meter. Airnya berasal dari Sungai Palayangan. Sungai ini pula yang sering dijadikan sebagai arena ber-arung jeram.

Danau ini dibuat sekitar 1918. Sebelumnya lahan untuk danau ini merupakan hutan belantara. Situ ini berfungsi untuk memenuhi kebutuhan air masyarakat, termasuk untuk menggerakkan pembangkit listrik tenaga air (PLTA).

Situ ini sejak zaman Belanda sudah menjadi tempat wisata. Hal tersebut dibuktikan dengan penemuan sebuah bangkai perahu besi di danau tersebut. Perahu besi itu diduga merupakan perahu pembawa rombongan warga Belanda yang karam di Situ Cileunca, awal tahun 1900-an.

Perahu besi itu ditemukan warga di dasar Situ Cileunca pada 19 November 2015. Saat itu danau sedang surut karena ada perbaikan di beberapa titik.

Pesona Situ Cileunca

Wisata Bandung Selatan situ cileunca
Situ Cilenca di Desa Wrnasari. Pangalengan, Kabupaten Bandung. | Foto serbabandung

Situ ini merupakan salah satu destinasi wisata di Pangalengan yang banyak dikunjungi. Pesona alam yang mengelilingi situ itu menjadi daya tarik tersendiri. Situ ini diapit oleh beberapa tebing dan gunung yaitu Papandayan, Malabar, dan Sepuh.

Pemandangan yang indah kawasan di situ ini sering digunakan para fotografer untuk objek foto. Foto Pre Wedding juga sering dilakukan di sini berlatar belakang Situ Cileunca.

Lokasi situ ini pun menjadi lokasi favorit berkemah oleh rombongan siswa sekolah, karyawan perusahaan, keluarga, atau rombongan lainnya. Suhu udara yang bisa mencapai di bawah 15 derajat celsius tak menghalangi para pecandu wisata alam ini. Di wilayah Situ Cileunca terdapat camping ground di sisi danau.

Bagi yang hobi memancing di tempat ini terdapat penyewaan perahu yang harganya kisaran Rp 100.000. Di sini terdapat beberapa jenis ikan air tawar seperti Mujair, Tawes dan Sepat yang bisa dipancing.

Pengelola tempat wisata ini menyediakan penyewaan perahu untuk mengelilingi danau dan menyebrang ke pulau yang terdapat kebun stroberi. Di sana juga terdapat situ yang tersembunyi, namanya Situ Cipanunjang.

Jembatan Cinta

Jembatan Cinta menjadi primadona tempat wisata Situ Cileunca. Setiap hari jembatan yang dibangun pada 2014 ini banyak dikunjungi wisatawan dari Bandung maupun luar Bandung.

Jembatan Cinta dibangun untuk menyatukan dua buah desa yang terpisah sejak lama oleh adanya Situ Cileunca. Kedua desa tersebut adalah Desa Wanasari dan Desa Pulosari. Warga kedua desa tersebut harus berputar untuk mengunjungi satu sama lain. Jarak yang sangat jauh tersebut bisa dipersingkat oleh jembatan tersebut.

Jembatan Cinta dibangun atas inisitif warga. Warga membangunnya membelah Situ Cileunca. Jembatan bisa dilalui dua sepeda motor yang saling berlawanan. Terbuat dari beton yang kokoh. Pilar-pilar di pinggirnya dicat merah, sedangkan besi pegangannya dibiarkan berwarna asli besinya.

Pendirian jembatan tersebut sangat membantu warga kedua desa. Selain, sering bertemu antarwarga desa, dari segi ekonomi pun sangat membantu karena perjalanan yang ditempuh warga bisa dipersingkat. Kalau kemudian jembatan ini disebut Jembatan Cinta karena jembatan ini sering dijadikan tempat berkumpul muda mudi dari kedua desa.

Patenggang, Situ atau Danau di Tengah Perkebunan Teh Rancabali

Perkebunan teh Rancabali tak hanya menghadirkan pesona hamparan hijaunya tanaman teh, tapi juga sebuah danau yang eksotis dan penuh misteri. Namanya Situ Patenggang. Dari kawasan Tapal Kuda hanya beberapa kilo saja. Setelah melewati gapura selamat datang PT Perkebunan Nusantara VIII, terdapat jalan yang lurus menuju ke situ tersebut.

Sebelum memasuki kawasan Situ Patenggang, pengunjung harus melalui pintu penjagaan. Pengunjung harus membayar tiket Rp 20.000 perorang dan untuk parkir sepeda motor Rp 3.000. Adapun untuk yang membawa kendaraan roda empat tiket parkirnya Rp 5.000. Dari pintu gerbang ke situ jaraknya tinggak beberapa ratus meter saja. Harga tiket bisa saja telah berubah karena kebijakan pengelola.

Tempat wisata alam ini berada di ketinggian 1.600 meter di atas permukaan laut. Situ Patenggang memiliki luas 45.000 hektare. Total luas cagar alamnya mencapai 123.077,15 hektare.

Situ ini memang memiliki pemandangan yang sangat eksotik. Hamparan kebun teh Rancabali milik PT Perkebunan Nusantara VIII menjadi daya tarik tersendiri. Di kawasan situ terdpat tempat menginap dan banyak gazebo yang bisa digunakan untuk beristirahat pelancong untuk menikmati segarnya udara pegunungan.

Kendaraan umum yang bisa mengantar ke Situ Patenggang adalah bus jurusan Ciwidey. Naiknya dari Terminal Leuwipanjang. Bisa juga naik angkot ke Soreang. Kemudian dari Soreang disambung kendaraan umum yang menuju Ciwidey. Dari Ciwidey bisa naik angkutan desa ke Patenggang. Jika menggunakan pribadi, bisa melalui jalur Jalan Kopo – Soreang – Ciwidey – Situ Patenggang.

situ patenggang
Siti Patenggang, Ranca Bali, Kabupaten Bandung. | Foto serbabandung.com

Mitos di Situ Patenggang

Bila tertarik untuk mengarungi danau, banyak perahu yang bisa disewa oleh pengujung. Harganya Rp 25.000 untuk seorang pulang pergi. Pengunjung bisa berkunjung ke pulau asmara dan singgah di batu cinta. Ada mitos kalau pengunjung berhasil mengitari pulau dan batu itu cintanya akan abadi seperti kisah cinta Dewi Rengganis dan Ki Santang.

Situ ini menyimpan mitos kisah asmara tentang kesetiaan yang abadi antara Ki Santang dan Dewi Rengganis. Mereka yang telah terpisahkan tak bisa menahan rindu untuk saling mencari (pateang-teangan). Di sini lah mereka bertemu. Patenggang sendiri berasal dari kata pateang-teangan.

Pertemuan mereka tepatnya di sebuah batu. Tempat itu sekarang dinamakan “Batu Cinta”. Di sini Dewi Rengganis menguji kesetian kekasihnya dengan meminta dibuatkan danau dan sebuah perahu untuk berlayar bersama.

Menurut mitos yang beredar perahu itu adalah sebuah pulau yang berbentuk hati, dan diberi nama Pulau Asmara /Pulau Sasaka. Bagi yang menyempatkan singgah di batu cinta dan mengelilingi pulau asmara, cintanya akan abadi seperti tali kasih Dewi Rengganis dan Ki Santang. Danau, batu, dan pulau di Situ Patenggang ini masih tetap menjadi favorit para pelancong.

Sekadar saran, jika sedang musim hujan sebaiknya berkunjung ke situ ini pada pagi hari menuju siang. Pada siang hari, biasanya selepas Zuhur, hujan akan mengguyur kawasan tersebut dan kabut mulai turun menutupi kawasan danau.