Makam Para Bupati Bandung di Karanganyar

JIKA ingin mengetahui sejarah Bandung jangan lupa zaiarah ke makam para bupati kota ini. Letaknya di tengah kota, tak jauh dari Alun-alun Kota Bandung, di Jalan Karanganyar. Tepat di seberang Jalan Kepatihan terlihat gapura yang mengarahkan ke sana.

Di kompleks permakaman ini terdapat sebuah bangunan khusus. Bangunan tersebut tanpa dinding, hanya belasan pilar yang menyangga langi-langit bangunan tersebut. Catnya berwarna kunging. Tepat di atas bangunan tersebut ada tulisan yang berbunyi, “Makam Para Boepati Bandoeng”.

Di sebuah pilar bangunan tersebut ada plakat yang bertuliskan “Januari 2000 dipugar ku Yayasan Komisi Sejarah Timbanganten Bandung. Bandung 5 Januari 2000, Pengurus Yayasan KSTB.

Di bangunan ini terdapat sekitar 40 makam. Tiga di antaranya adalah makam Bupati Bandung keturunan Raden Adipati Wiranatakusumah lengkap dengan potretnya, termasuk di makam R.A Wiranatakusumah III (Dalem Karanganyar).

Makam para Bupati Bandung di Jalan Karanganyar Bandung. | Foto serbabandung.com | #serbabandung
Makam para Bupati Bandung di Jalan Karanganyar Bandung. | Foto serbabandung.com | #serbabandung

Makam Dalem Karanganyar menempati petak yang lebih khusus dari makam lainnya.
Makamnya berkeramik putih. Kedua nisannya bercar kuning keemasan. Di bawah nisan tersebut menempel plakat bertuliskan ukiran yang berbunyi, “RA Wiranatakoesoemah III (Dalem Karanganyar) Bupati Bandung Ka-VII, 1892-1846”.

Di bangunan ini terdapat makam orang tua Pahlawan Nasional Dewi Sartika, Nyi Raden Rajapermas dan Raden Somanegara. Makam Dewi Sartika sendiri berada beberapa meter dari bangunan utama.

Makam Dewi Sartika berkeramik putih. Terdiri dari 4 undakan yang dilingkari rantai. Di tepi makam tersebut terdapat plakat berwarna cokelat bertuliskan warna putih yang menerangkan bahwa makam tersebut adalah makan Pahlawan Nasional Dewi Sartika.

Di kompleks permakaman ini pun terdapat makam dr. Hasan Sadikin. Hasan Sadikin adalah Direktur Rumah Sakit Hasan Sadikin periode 1965-1967. Sebagai penghormatan nama Hasan Sadikin menggantikan nama rumah sakit sebelumnya, yakni RS Rantja Badak.

Hasan Sadikin wafat pada 16 Juli 1967. Menurut blog oenank.tumblr.com Hasan dimakamkan di Kompleks Permakamam Bupati Bandung-Karang Anyar karena merupakan keturunan dari Wiranata Kusumah III melalui ibunya. Hasan adalah kakak dari Ali Sadikin mantan Gubernur Jakarta. *

Sumber: http://news.detik.com/

Titik 0 Km Bandung, Daendles Menancapkan Tongkat di Sini

APA hubungannya pal atau titik 0 Km Bandung dengan stoom walls yang berdiri gagah di belakang pal tersebut? Tidak ada penjelasan yang pasti. Tapi konon stoom walls kuno itu adalah stoom yang digunakan saat Marschalk Herman Willem Daendles, Gubernur Jenderal Hindia Belanda, membangun jalan Anyer-Panarukan pada 1808-1811.

Sebelum melangkah jauh, sebaiknya cari tahu dulu apakah itu pal? Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) dalam jaringan (daring) disebutkan pal adalah tonggak batu sebagai tanda jarak, antara satu tonggak dan tonggak yang lain berjarak 1,5 km.

Pal 0 Km Kota Bandung berada di Jalan Asia Afrika. Depan Kantor Dinas Bina Marga Provinsi Jawa Barat. Tak jauh dari Hotel Savoy Homann dan Prama Grand Preanger. Jalan ini adalah salah satu jalan bersejarah di Kota Bandung.

Pertanyaannya mengapa pal 0 Km Bandung tertancap di sana? Dalam prasasti di monumen KM Bandung 0+00 terdapat catatan yang mengenai asal titik 0 Km tersebut. Catatan itu menjelaskan, di sanalah Daendels menancapkan tongkat kayu sambil berkata “Zorg, Dat Als Ik Terug Kom Hier Een Stad Is Gebouwd“ yang artinya, “Coba usahakan, bila aku datang kembali di tempat ini telah dibangun sebuah kota.”

Penancapan kayu tersebut seusai pembangunan jembatan Sungai Cikapundung pada 1810. Daendels dan Bupati Bandung saat itu R.A.A Wairanatakusumah II adalah yang pertam kali melewati jalan itu. Sesampainya di tempat itu Daendles menancapkan tongkat kayu itu.

Pal 0 Km Bandung di Jalan Asia Afrika | Foto serbabandung.com
Pal 0 Km Bandung di Jalan Asia Afrika | Foto serbabandung.com

Daendels mendapat tugas dari pemerintah Hindia Belanda untuk membangun Jalan Raya Pos (Grote Postweg) dari Anyer (Banten) ke Panarukan (Jawa Timur). Pembangunan jalan tersebut untuk memperlancar komunikasi antardaerah dalam rangka memperkuat pertahanan di Pulau Jawa.

Monumen Titik 0 Km Diresmikan pada 18 Mei 2004

Monumen KM Bandung 0+00 diresmikan 194 tahun kemudian tepatnya pada 18 Mei 2004 oleh Gubernur saat itu Danny Setiawan. Pal tersebut menjadi salah satu tempat yang dikunjungi waisatawan lokal atau mancanegara yang ingin tahu keberadaan titik 0 Km di Kota Bandung.

Pal sudah beberapa kali berubah warna. Pada Senin (30/3/2015) pal tersebut berwarna putih kombinasi kuning, hijau, dan abu-abu. Di situ tertulis “BDG 0”. Sedangkan di bagian bawah pal tersebut tertulis “CLN 18″ yang menunjukkan kota/daerah terdekat ke arah timur, yakni Cileunyi yang berjarak 18 km. Sedangkan “PDL 18″ menunjukkan kota/daerah terdekat ke arah barat, yakni Padalarang yang berjarak 18 km.

Siang itu di sekitar pal 0 Km beberapa pekerja sedang memperbaiki trotoar. Trotoar yang diperbaiki tidak hanya di sana, tapi di sepanjang Jalan Asia Afrika. Perbaikan tersebut untuk menyambut ke-60 tahun Konferensi Asia Afrika (KAA). *

Rumah Inggit Garnasih, Direnovasi Pada 1997

DI tengah keramaian Jalan Oto Iskadardinata. Di dekat persimpangan Jalan Inggit Garnasih (Ciateul) dan Jalan Oto Iskandardinata, terselip sebuah rumah yang menyimpan sejarah. Rumah ini menjadi saksi bisu perjuangan Ibu Inggit Garnasih bersama Presiden I RI Ir Soekarno. Di sanalah Inggit pernah tinggal, dan orang menyebutnya rumah itu Rumah Inggit Garnasih.

Berdasarkan catatan wikipedia mereka menikah pada 24 Maret 1923 di rumah orang tua Inggit di Jalan Javaveem, Bandung. Jalan Javaveem berada di kawasan Stasiun Bandung.

Pernikahan mereka dikukuhkan dengan Soerat Keterangan Kawin No. 1138 tertanggal 24 Maret 1923, bermaterai 15 sen, dan berbahasa Sunda.

Mereka bercerai tahun1942. Meski bercerai Inggit tetap menyimpan perasaan terhadap Soekarno, termasuk melayat ketika Soekarno berpulang.

Rumah bersejarah di Jalan Inggit Garnasih ini dikelola oleh Museum Sribaduga mulai tahun 2015. Sebelumnya rumah ini dikelola oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Barat.

Di Rumah Inggit Garnasih Terdapat Penggilingan Jamu

Menurut Jajang (40), juru pelihara sekaligus guide di rumah tersebut, rumah ini dijual oleh ahli waris ke Pemerintah Provinsi Jabat pada 1996. Kemudian direnovasi pada 1997.

“Dulu tidak begini. Karena lama tidak dihuni rumah ini terbengkalai. Banyak perubahan tapi tetap tidak mengubah tata letak rumah ini,” kata Jajang, Sabtu (14/2).

Rumah teraebut terdiri dari beberapa ruangan. Di setiap ruangan menempel foto Ibu Inggit dan juga Soekarno. Di sebuah ruangan terdapat alat penggilingan jamu terbuat dari batu. Alat tersebut disimpan dalam kaca seperti akuarium.

Pengunjung yang datang ke sini  kata Jajang tidak tetap. Tapi kalau per bulan bisa mencapai 100 orang. “Yang datang ke sini tidak hanya dari Bandung, tapi dari daerah lain di Indonesia,” katanya.

Inggit Garnasih lahir di Desa Kamasan, Kecamatan Banjaran, Kabupaten Bandung, 17 Februari 1888. *

Sel Bekas Soekarno, Masih Berdiri di Jalan Banceuy

DI Jalan Banceuy pernah ada penjara.Tepatnya di perempatan Jalan Banceuy dan Jalan ABC. Sekarang lahan bekas penjara digunakan untuk pusat bisnis yang bernama Banceuy Permai. Penjara Banceuy sendiri dipindah ke Jalan Soekarno Hatta No 187A pada 1983. Kepindahan lembaga permasyarakatan (lapas) tersebut tidak membuat hilang sejarah yang pernah terjadi di penjara tersebut. Nama penjara Banceuy tetap dipertahankan meski dipindahkan ke Jalan Soekarno Hatta. Kemudian sel bekas Soekarno dan salah satu bagian menara pengawas dari bangunan penjara ini masih berdiri hingga sekarang.

Soekarno pernah ditahan di penjara karena dianggap memberontak oleh pemerintah Belanda. Soekarno dijerat pasal-pasal karet haatzai artikelen. Soekarno ditahan bersama  tiga rekan dari PNI, Maskoen, Soepriadinata, dan Gatot Mangkoepraja. Mereka ditangkap di Yogyakarta pada  29 Desember 1929.

Soekarno ditahan di penjara Banceuy selama kurang lebih 8 bulan. Presiden Indonesia pertama itu  menempati sel nomor 5 yang hanya berukuran 2,5 x 1,5 meter dan berisi kasur lipat, dan  toilet nonpermanen.

Selama di penjara Soekarno menyusun pledoi yang sangat terkenal yang kemudian diberi nama Indonesia Menggugat. Pledoi fenomenal tersebut dibacakan di sidang pengadilan di Gedung Landraad  yang sekarang bernama Gedung Indonesia Menggugat di Jalan Perintis Kemerdekaan.

Penjara ini dibangun pemerintah Belanda pada 1877. Awalnya penjara ini diperuntukkan bagi tahanan politik tingkat rendah dan kriminal. Di penjara ini ada 2 macam sel yaitu sel untuk tahanan politik di lantai atas dan sel untuk tahanan rakyat jelata di lantai bawah.

Setelah pindah ke Jalan Soekarno Hatta Lapas Klas II A Banceuy Bandung ini khusus untuk menampung narapidana kasus narkotika dari Kantor Wilayah Departemen Kehakiman DKI Jakarta dan Jawa Barat. Hak tersebut  Berdasarkan Surat Menteri Kehakiman RI No. W8.UM.01.06.245 A tanggal 30 september 1999 tentang Pembentukan Lapas Khusus Napi Narkoba. *

Sumber: http://id.m.wikipedia.org/wiki/Penjara_Banceuy