Air Mineral Ternyata Sudah Ada Sejak Zaman Dulu

JAUH sebelum Tirto Utomo   memulai bisnis air mineral di Indonesia  1973,  di Bandung ternyata sudah ada beberapa merek air mineral di pasaran. Merek yang beredar pada masa  penjajahan Belanda tersebut adalah Air mineral Malabar,   Preanger, Buddha, dan Nova.

Fakta tersebut terungkap dalam buku “Produsen Ontbijt Walanda Bandoeng”  karya Sudarsono Katam.  Dalam buku tersebut  dikatakan  Pabrik Air  Malabar di Jl. Naripan 61 berdiri pada 1923. Bekas bangunan pabrik itu  kini  ditempati oleh Toko Buku Rohani Kalam Hidup.

Di Wikipedia disebutkan air mineral adalah air yang mengandung mineral atau bahan-bahan larut lain yang mengubah rasa atau memberi nilai-nilai terapi. Banyak kandungan Garam, sulfur, dan gas-gas yang larut di dalam air ini. Air mineral biasanya masih memiliki buih. Air mineral bersumber dari mata air yang berada di alam.

Mineral juga merupakan sumber minuman kepada atlet. Mineral dapat menggantikan dan memulihkan sel-sel badan yang lama kepada sel yang baru. Namun hakikatnya air mineral adalah lebih mahal daripada air minuman.

Toko Buku Kalam Hidup di Jalan Naripan Bandung disebutkan dalam buku "Produsen Ontbijt Walanda Bandoeng" karya Sudarsono Katam sebagai bekas pabrik air mineral bermerek Malabar | FOTO serbabandung.com.
Toko Buku Kalam Hidup di Jalan Naripan Bandung disebutkan dalam buku “Produsen Ontbijt Walanda Bandoeng” karya Sudarsono Katam sebagai bekas pabrik air mineral bermerek Malabar | FOTO serbabandung.com.

Di Indonesia, bisnis air ini dimulai pada 1973. Saat itu Tirto Utomo, warga asli Wonosobo mendirikan usaha air minum dalam kemasan (AMDK) bermerek Aqua. Sekarang Aqua telah diakuisisi oleh perusahaan makanan asal Prancis Danone.

Penyediaan Air Mineral Sudah Ada Sejak Zaman Belanda

Sejarah penyediaan air bersih  sudah ada sejak zaman penjajahan Belanda di Indonesia. Pada 1916 – 1928 pemerintah Hindia Belanda mendirikan  Stadsgemente Water Leiding Bandung. Pada 1928 – 1943 perusahaan air minum itu berubah menjadi Technische Ambtenaar.

Ketika Jepang menjajah Indonesia perusahaan air minum diubah namanya menjadi Sui Doko. Perubahan nama itu terjadi pada 1943 – 1945. Setelah Indonesia merdeka pada 17 Agustus 1945 namanya berubah lagi menjadi Perusahaan Air.

Pada  1953 – 1965 namanya berganti lagi menjadi Dinas Perusahaan Bagian B (DPB).  Tahun 1965 – 1974 menjadi  Dinas Teknik Penyehatan (DTP). Pada 1974  namanya menjadi Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM)  Kota Bandung.

Pembentukan PDAM Kota Bandung sebagai Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) berdasarkan peraturan Daerah (Perda) Kotamadya Bandung Nomor 7/PD/1974 jo Perda Nomor 22/1981 jo Perda Nomor 08/1987 yang telah diubah untuk terakhir kalinya dengan Perda nomor 15 Tahun 2009.  PDAM Kota Bandung pun berganti nama menjadi Perusahaan Daerah Air Minum Tirtawening Kota Bandung. *

Sumber:  http://www.pambdg.co.id/new/index.php?option=com_content&view=article&id=48:sejarah&catid=1:latest-news&Itemid=34

http://id.m.wikipedia.org/wiki/Aqua_%28air_mineral%29

Buku “Produsen Ontbijt Walanda Bandoeng”  karya Sudarsono Katam.

Ceu Mar, Warung Nasi Nikmat di Cikapundung

MASIH suka begadang, kemudian perut keroncongan? Ini solusinya, makan di warung makan Ceu Mar di Jalan ABC, dekat Sungai Cikapundung. Dijamin, makan di sini nikmat dan mengenyangkan. Warung ini memang buka pada pukul 18.00 hingga 04.00.

Menu andalan warung ini adalah gulai sapi. Pengunjung bisa merasakan dagingnya yang empuk serta bumbu gulainya terasa begitu nikmat.

Ada juga menu pilihan lainnya yang rasanya tak kalah lezat, seperti  nasi rames perpaduan aneka macam sayur dan lauk pauk. Lauk pauk yang disediakan tergolong sangat lengkap dan komplet.

Warung Nasi Ceu Mar , Jalan Terusan ABC, tepi Sungai Cikapundung, Bandung. | Foto serbabandung.com #serbabandung
Warung Nasi Ceu Mar , Jalan Terusan ABC, tepi Sungai Cikapundung, Bandung. | Foto serbabandung.com #serbabandung

Jangan lupakan  semur jengkol, bihun, telur kecap, oseng-oseng usus, bihun, babat, bakwan, tempe dan tahu, lalapan dan sebagainya, untuk menemani masi putih. Untuk variasi di sini juga tersedia beberapa jenis kerupuk.

Di warung Ceu Mar tidak ada bandrol  harga di dekat makanan. Tidak ada patokan khusus.  Hanya  Ceu Mar yang tahu berapa harga menu yang disajikan Satu porsi plus minuman biasanya harganya berada di kisaran Rp 10.000-15.000.

Warung Ceu Mar biasanya mulai ramai  sekitar pukul sembilan malam sampai jam sebelas. Kemudian antara jam dua hingga tiga dini hari, bertepatan dengan tutupnya tempat-tempat hiburan malam, seperti night club, cafe dan lainnya.

Untuk menikmati kelezatan menu Ceu Mar harus rela antre. Konsep warung ini memang prasmanan atau bufet. Pengunjung bisa memilih menu apa saja yang tersaji di meja. Jika sudah, tinggal bayar di ujung meja prasmanan. Nah di sini ada sapaan yang khas pada pelanggannya di sini, yakni  kasep dan geulis (ganteng dan cantik).

Selesai membayar tinggal pilih meja yang berada di halaman warung tersebut. Ada beberapa meja di sana. Di sini pengunjung bisa menikmati angin malam di kawasan Cikapundung sambil tentu saja menikmati kelezatan sajian warung tersebut. Mau Coba? *

Warung Ceu Mar

Di Jalan ABC, dekat Sungai Cikapundung.

Buka pada pukul 18.00 hingga 04.00.

Menu Andalan

  • Gulai sapi
  • Nasi rames perpaduan aneka macam sayur dan lauk pauk
  • Semur jengkol
  • Bihun
  • Telur kecap
  • Oseng-oseng usus
  • Babat
  • Bakwan
  • Tempe
  • Tahu
  • Lalapan

Colenak Murdi Putra, Dicocol Enak Kakoncara Sabuana

COLENAK adalah makanan khas Bandung. Makanan ini terbuat dari peuyeum singkong (tapai) yang dibakar yang di atasnya diberi gula dan serutan kelapa. Cara makannya mencoelkan tapai bakar pada gula tersebut.  Colenak sendiri merupakan singkatan dari cara memakan penganan tersebut, yakni dicoel-coel enak.

Penganan ini  diperkenalkan Aki Murdi pada 1930.  Awalnya Murdi membuka kedai di Jalan Ahmad Yani,  Cicadas, Bandung. Toko yang tadinya hanya sebuah gerobak dorong itu dikelola istrinya, Hj Supiah.

Aki Murdi telah mewariskan kuliner ini pada tiga generasi keturunannya. Berkat anak cucunya rasa peganan ini semakin berkembang dengan  memiliki variasi yaitu  rasa durian dan nangka. Tapi tentu saja mereka masih menjual colenak rasa originalnya.

Colenak Murdi Putra Jalan Ahmad Yani (Cicadas) | Foto serbabandung.com #serbabandung
Colenak Murdi Putra Jalan Ahmad Yani (Cicadas) | Foto serbabandung.com #serbabandung

Kini penganan buatan Aki Murdi  banyak dijual di supermarket.

Dalam teknik memasaknya kandungan gula dalam tapai yang membuat tapai tersebut mudah gosong. Namun justru bagian ini yang paling disuka. Bagian ini oleh beberapa orang dianggap merupakan bagian yang terenak.

Saking populernya colenak, maestro tembang Sunda Nano S menceritakan bagaimana lezatnya makanan ringan berbahan baku singkong itu dalam tembangnyaa.

Lagu tentang peganan ini  dilantunkan dalam  kawih degung Sunda hingga menjadi nyanyian anak-anak bermain, “Colenak beuleum peuyeum digulaan”.

Colenak, dicocol enak
Kakoncara sabuana
Kaolahan urang Sunda
Warisan kolot baheula

Penganan buatan  Murdi juga menjadi salah satu makanan yang disajikan kepada tamu Konferensi Asia Afrika pada 1955.

Penganan buatan  Murdi enak dinikmati kapan saja terutama disantap dengan menyeruput segelas teh pahit hangat dan cemilan kerupuk. *

Alamat Colenak Murdi Putra

Jl. Jendral Ahmad Yani No.733
Bandung – 40125
Tlp. 022 – 7275037
Fax. 022 – 7106014
Buka setiap hari mulai pukul 07.00-18.00 WIB

Pecel Lele di Bandung yang Sedap Banyak Pilihannya

MAKANAN ini sebetulnya bukan asli dari Bandung. Namun jongko-jongko yang menjajakannya hampir ada di tiap jalan di seluruh Kota Bandung. Nama makanan ini adalah pecel lele. Bagi yang senang mencicipi kuliner jalanan pasti mengenal makanan ini.

Makanan ini  berasal dari Jawa Tengah. Di tempat aslinya makanan ini disebut pecak lele. Makanan ini terdiri dari ikan lele yang digoreng dan sambal pecak. Untuk menambah rasa biasanya dalam penyajiannya disertai lalapan seperti kemangi, kubis, mentimun, dan kacang panjang.

Jongko-jongko makanan ini  di Bandung biasanya tidak permanen. Pedagang baru membangun jongkonya setelah memasuki waktu sore. Mereka berdagang di pinggir  jalan. Kemudian setelah dagangan habis, mereka membongkar kembali tenda tersebut.

Jongko Pecel Lele di Bandung | Foto serbabandung.com
Jongko Pecel Lele di Bandung | Foto serbabandung.com #serbabandung

Jongko atau tenda yang mereka pasang memiliki ciri khas. Agar yang makan tidak terlalu terlihat dari luar tenda itu dipasangi layar yang terbuat dari kain, biasanya warna putih,  bergambar lele, ayam, bebek dengan tulisan besar-besar, seperti “pecel lele”, “ayam goreng”, atau “bebek goreng”.  Warnanya ada yang berwarna hijau, merah, kuning dan hitam.

Mereka juga tak hanya menjual pecel lele  tapi juga menjual lauk lainnya. Di sini pembeli bisa memilih yang disukai, di sini ada juga soto ayam, soto babat, ayam goreng, bebek goreng, bahkan ada juga burung dara goreng. Harganya relatif murah dibanding makanan yang dijual di tempat lain.

Kedai Pecel Lele Enak Ada di Dipatiukur

Kedai Lela yang berada di Jalan Dipatiukur Bandung, merupakan kedai yang banyak dikunjungi. Di sini ada beberapa menu pilihan seperti Original Lele Super Besar, Lele Fillet Saus Lada Hitam, Lele Saus Padang, Lele Fillet Goreng Tepung dan juga Lele Goreng Tepung.

Kedai lainnya yang diburu penyuka lele adalah di Mc Darmo. Kedai Mc Darmo  tidak pernah sepi setiap malamnya.  Berlokasi di depan pintu masuk Taman Lalu Lintas.  Mc Darmo hanya buka pada  malam hari.

Pecel Lele Metro juga menjadi pilihan penggemar lele  di kawasa  MTC Margahayu. Tak kalah nikmatnya pecel lele di depan SMP 12. Di Tamansari, juga ada  tempat makan pecel lele yang  berbeda dari warung tenda. Namanya kedai lele. *

Toko Osin, Menyediakan Menu Sarapan Ala Tionghoa

PASAR Baru yang merupakan jalur China Town di Kota Bandung menyimpan budaya Tionghoa yang sampai sekarang masih  terasa. Tengok saja bangunan yang ada di belakang pasar tersebut. Bangunan bergaya Tiongkok masih banyak yang dipertahankan. Tak hanya bangunan, kuliner Tiongkok pun masih mewarnai masih banyak yang tersaji, atau telah pindah ke tempat lain. Salah satu yang terkenal dan banyak dicari orang adalah  Toko Osin. Toko ini berada di Jalan Babatan No 64a. Toko ini sudah  ada sejak tahun 1920.

Proses pembuatan cakue di Toko cakue Osin di Jalan Babatan Bandung. | Foto serbabandung.com #serbabandung
Proses pembuatan cakue di Toko Osin di Jalan Babatan Bandung. | Foto serbabandung.com #serbabandung

Makanan khas Tiongkok menjadi menu di toko ini. Menu tersebut antara lain cakue, bakpia, kompia, kompia isi, bubur ayam, bubur kacang, pangsit kuah, kue tambang, dan kue cinsoko. Harganya juga bervariasi antara menu satu dan menu yang lainnya.

Yang unik di toko ini adalah menu bubur kacangnya. Kacangnya  adalah  kacang tanah, bukan kacang hijau seperti biasanya. Kacang yang dikupas bersih tersebut direbus hingga empuk. Bubur yang terasa manis disebut bubur kacamg Hokkian.

Bubur tersebut dibawa orang  Hokkian atau orang Hoklo ke Indonesia. Di wikipedia disebutkan, mereka adalah penduduk dari provinsi Fujian bagian selatan di Republik Rakyat Tiongkok. Banyak orang Hokkian menjadi perantau dan tinggal di berbagai negara, terutama di Asia Tenggara. Di Indonesia mereka merupakan salah satu kelompok terbesar salain Tiochiu, Konghu dan Hakka.

Bubur Hokkian cocok bila dimakan dengan cakue.  Cakue adalah makanan asal Tiongkok. Cahkwe (cakue) adalah dialek Hokkian yang berarti hantu yang digoreng.

Cakue terbuat dari tepung terigu, ragi, soda, ammonium bicarbonat dan garam.  Adonan tersebut dicampur. Tunggu adonan itu sampai mengembang. Lalu dibentuk seperti tongkat  yang ukurannya tergantung selera. Tapi biasanya ukurannya  15-20 cm. Adonan yang sudah dibentuk dilekatkan pada adonan yang lain.

Cakue di Toko Osin bukan cakue biasa. Ukurannya tidak lazim, super jumbo. Cakue di sini terasa lezat untuk melengkapi bubur kacang tanah, atau bubur ayam yang dijual di sana. Yummy….! Mau coba? *

Menu Cakue Toko Osin

  • Cakue
  • Bakpia
  • Kompia
  • Kompia isi
  • Bubur ayam
  • Bubur kacang
  • Pangsit kuah
  • Kue tambang
  • Kue cinsoko