Lotek Kalipah Apo 42 Hari Selasa Tutup

KULINER seperti tidak habisnya di Kota Bandung. Mulai dari menu modern hingga yang tradisional semuanya tersaji di kota ini. Bahkan di sini banyak sekali makanan yang sudah lama dikenal, seperti lotek di Jalan Kalipahapo. Di jalan yang berada di kawasan Astanaanyar ini terdapat warung lotek Kalipah Apo 42. Lotek ini sudah termasyur ke mana-mana. Tidak hanya di Bandung tapi namanya telah tersebar ke luar kota. Lotek ini sudah beroperasi sejak 1953.

Awal berdirinya lotek Kalipah Apo berawal dari seorang ibu yang senamg membikin lotek. Ibu ini membuat lotek di cobek besar dengan cara diulek. Rupanya lotek buata  ibu banyak yang menyukainya. Ketika lotek ini dijual banyak peminat yang antre.

Lotek Kalipah Apo 42 Bandung | Foto serbabandung.com #serbabandung
Lotek Kalipah Apo 42 Bandung | Foto serbabandung.com #serbabandung

Lotek ini terus berkembang hingga membuka gerai di Jalan Kalipahapo. Kekhasan membuat lotek di cobek besar tadinya bisa dilihat oleh peminat. Namun sekarang tidak lagi. Gerai itu semakin modern, dibuat seperti restoran cepat saji. Pembeli tinggal memilih menu yang dipilih kemudian bayar di kasir.

Namun di luar  bangunan itu berpintu besi. Bangunan ini tidak memiliki lahan  parkir. Pembeli yang memakai kendaraan harus memarkirnya di tepi Jalan Kalipahaapo. Apalagi kala  menjelang siang, saat orang-orang ingin makan siang, mobil terlihat berjejer di sana. Lotek Kalipah Apo 42 buka setiap hari kecuali hari Selasa.

Lotek Kalipah Apo 42 terlihat seperti lotek biasa. Namun setelah dicicipi terasa lezatnya bumbu kacang berbalut bau kencur dalam campuran kol, tauge, kacang panjang, bayam, kangkung, dan nangka muda. Belum lagi tempe dan lontongnya yang menggoda selera,  dan kerupuk udang melengkapi sajian nikmat ini.

Selain lotek  tersedia juga gado-gado, asinan sayuran, asinan buah, rujak buah, dan  rujak banci. Jangan lupa kolak pisang, candil, bubur sagu rangi, bubur jali, bubur lemu, bubur pacar cina, bubur caca, bubur kacang hijau, dan bubur ketan hitam.

Kalau ingin makan berat di sini juga terdapat lauk seperti ayam goreng, semur jengkol, oseng tempe, bakmi goreng, kering tempe, empal, dan oseng pare.  Lauk ini cocok disantap dengan nasi hangat. Lengkapi hidangan tersebut dengan sambal dan beragam kerupuk. Cudok!*

Lotek Kalipah Apo 42

Jl. Kalipahapo No. 42 Bandung
Telepon: 022-4205983
Buka: Rabu-Senin pukul 09.00-16.30.
Selasa tutup

Toko Kopi Javaco di Jalan Kebonjati yang Bertahan 87 Tahun

HERMANTO mempersilakan pembeli memilih kopi apa yang akan dibeli. Pemilik Toko Kopi Javaco ini menunjukkan kopi yang dijual di etalase toko. Ada kopi robusta, tiptop, melange, dan arabika. “Silakan kalau yang ini rada asam,” katanya sambil menunjuk tulisan jenis kopi.

Menurut Hermanto kopinya ini bukan diracik di toko ini. Dia menyebut sebuah pabrik kopi di Jalan Sudirman. Dia juga menyebut nama sebuah restoran. “Di belakang restoran Phoenix,” kata Hermanto di tokonya, Senin (13/4/2014).

Toko ini sudah lama berdiri dan sudah bertahan 87 tahun. Tepatnya toko ini sudah berdiri pada 1928. Bangunannya termasuk bergaya lama. Bercat putih dengan kombinasi hijau di jendela dan kusennya. Pintu besi siap menutup jika toko itu tidak sedang berjualan.

Lokasinya di Jalan Kebonjati tidak jauh dari perempatan Jalan Gardujati, Pasirkaliki. Toko ini juga bersebelahan denga eks Hotel Surabaya. Hanya terpisah oleh Jalan H Basar yang tidak terlalu besar. Tidak ada petunjuk dari luar gedung kalau toko itu adalah toko penjual kopi. Petunjuknya hanya yang telah disampaikan di atas jika tertarik ke sana.

Setelah masuk ke toko baru terlihat sebuah stiker berwarna cokelat  menempel di triplek berwarna putih yang memisahkan toko dengan ruangan dalam bertuliskan “Kopi Javaco”. Di bagian lain ruangan itu terdapat 5 mesin penggiling kopi. Di depan meja penggiling kopi itu terdapat Vespa antik berwarna biru.

Mesin penggiling kopi di Toko Javaco Jalan Kebonjati Bandung | Foto serbabandung.com
Mesin penggiling kopi di Toko Javaco Jalan Kebonjati Bandung | Foto serbabandung.com

Pembeli tinggal menyebut kopi apa yang akan dibeli dan berapa banyaknya. Hermanto, cucu pemilik toko ini akan mengambilnya ke ruangan dalam. Kemudian balik lagi memberikan kopi yang dipesan, dan pembeli membayarnya.

Toko Kopi Javaco Menggunakan Kemasan Lama

Pembungkus kopi Javaco masih menggunakan kemasan lama. Kemasannya terbuat dari kertas yang biasa digunakan untuk membungkus buku oleh murid SD. Warnanya cokelat. Di bagian atasnya tertulis Rp. Di tengah-tengah terdapat gambar pabrik. Sedangkan di atasnya tertulis Javaco  dan di bawahnya tertulis Koffie. Besarnya tergantung, bisa seukuran seperempat atu saons.

Dikutip dari laman aleut.wordpress.com berjudul  Kopi Javaco pada 27 Desember 2014 disebutkan  Liem Kiem Gwan adalah pendiri kopi Javaco dan merupakan kakek Hermanto.

Dalam tulisan Ariono Wahyu yang tergabung dalam komunitas aleut menyebutkan Liem Kiem Gwan merantau dari Malang ke Bandung. Pada awalnya membuka usaha teh dan kopi, namun kemudian lebih fokus pada penjualan kopi saja.

Toko Kopi Javaco buka tiap hari kecuali Minggu, mulai pukul 09.00 hingga pukul 14.00. *

Kopi Kapal Selam di Belakang Pasar Baru

SATU lagi toko kopi jaman dulu yang masih bertahan di Kota Bandung adalah Kopi Kapal Selam. Toko kopi ini telah berdiri pada 1930. Bangunannya  pun telah berdiri lama. Bentuknya tidak banyak berubah, pemiliknya masih mempertahankan gaya lama.

Tidak hanya bangunan, logo yang tercantum di kartu nama juga masih bergaya lama. Di logo tersebut ada gambar kapal selam dalam lingkaran. Di kapal selam tertera angka 7, di bawahnya ada tulisan Khin Hin Hoo, Bandoeng Kopi Boeboek 100%. Kemudian di luar lingkaran ada tulisan Tjap Kapal Silam.

Penggiling kopi di Toko Kopi Kapal Silam di Jalan Pasar Barat, Bandung. | Foto serbabandung.com #serbabandung
Penggiling kopi di Toko Kopi Kapal Silam di Jalan Pasar Barat, Bandung. | Foto serbabandung.com #serbabandung

Angka angka 7 di kapal selam itu, menurut pemilik toko, Chandra (55), adalah  nomor gedung yang jadi toko sekarang. “Dulu mah di sini masih jarang rumah. Jadi toko ini meski di tengah masih kebagian nomor yang kecil,” kata Chandra ditemui di tokonya di Jalan Pasar Barat No 42 Bandung, Senin (13/4/2015).

Chandra mengaku tidak tahu mengapa nenek moyangnya menamai kopinya Kapal Selam. Dia juga sempat terdiam saat akan menjawab pertanyaan tersebut. “Kalau tidak kapal selam mungkin kapal layar,” kata Chandra sambil terkekeh.

Toko yang ditempatinya sekarang menurut Chandra tadinya tidak hanya menjual kopi. “Kami menjual apa saja. Seperti toko serba ada lah,” katanya.

Bila pernah ke belakang Pasar Baru, toko ini tidak jauh dari Toko Jamu Babah Kuya yang sudah terkenal ke mana-mana. Tidak ada ciri-ciri khusus kalau toko ini adalah menjual kopi. Tapi setelah masuk ke toko itu baru terasa di sana menjual kopi. Di sana terlihat mesin-mesin penggiling biji-biji kopi.

Ada empat mesin kopi di toko itu. Mesin itu berwarna merah. Menurut Chandra mesin-mesin itu usianya tidak terlalu tua. Usianya, katanya, 42 tahunan. Chandra mengaku punya mesin-mesin yang usianya lebih lama lagi.

”Dulu sih ada tapi ikut terbakar. Di sini kan pernah terbakar pada 1973. Rumah juga nyaris habis. Yang pasti mah mesin-mesin sudah tidak ada lagi,” ujarnya.

Kopi yang dijual di sini terdiri dari kopi luwak liar, kopi arabika, robusta, dan kopi khas Kopi Kapal Selam kopi jagung. Menurut Chandra kopi yang  disediakan di sini didatangkan dari beberapa daerah. Robusta didatangkan Chandra dari Lampung, sedangkan arabika didatangkan dari Lembang.

“Kalau kopi jagung, ngambil jagungnya dari Jawa Timur. Kalau bukan dari Jawa Timur kualitasnya jelek. Jagungnya disangrai dulu kemudian ditumbuk. Rasanya memang bukan rasa kopi. Kan ini mah jagung,” katanya.

Pembeli kopi buatan Chandra tidak pernah berubah sejak dulu, yakni untuk konsumsi di rumah tangga. “Dari dulu juga begitu. Tidak pernah berubah. Kalau bule mah jarang. Ya ada saja yang beli mah sekarang juga,” katanya. *

Yang Dijual di Toko Kopi  Kapal Selam

  • Kopi luwak liar
  • Kopi arabika
  • Robusta
  • Kopi jagung.

Tempat Kopi di Bandung yang Terkenal Sejak Zaman Dulu

KULINER Bandung sudah pasti banyak orang yang tahu banyak ragamnya. Semua jenis makanan mulai yang tradisional hingga yang modern tersaji di kota ini. Keunikannya juga terkenal. Banyak makanan turunan yang rasa dan namanya unik membuat orang ingin mencarinya.   Tak hanya makanan, minuman juga banyak pilihan, mulai minuman yang ditawarkan di kafe-kafe hingga yang di pinggir jalan. Kopi misalnya. Di kota ini terdapat kedai-kedai kopi yang menawarkan seduhan kopi nikmat. Tapi yang tak kalah istimewa, Lalu di mana saja tempat kopi di Bandung?

Di Bandung masih menyimpan toko  kopi jaman dulu. Ada beberapa tempat kopi di Bandung  yang sudah terkenal sejak lama, di antaranya Kopi Aroma,  Kopi Malabar, dan Kopi Kapal Selam. Kopi-kopi tersebut memiliki kekhasan masing-masing. Yang menarik pengelolaanya masih menggunakan cara lama.

Kopi Aroma di pertigaan Jalan Pecinan Lama-Banceuy, tepatnya di Jalan Banceuy Nomor 51. Toko ini menjual dua macam kopi yakni kopi robusta dan arabika. Toko Aroma dibangun oleh Tan Houw Sian sejak 1930.

Tempat Kopi di Bandung di Kebonjati

Pembakaran Kopi Aroma menggunakan kayu karet. Dalam pamflet yang terpasang di toko itu disebutkan bahwa  prosesnya menggunakan kayu  karet saat pembakaran. Disebutkan  asap yang keluar dari pembakaran dari kayu itu memberikan efek pada keharuman kopi.

Bagaimana dengan Kopi Javaco? Toko dan pabrik kopi ini berada di Jalan Kebonjati. Toko kopi Javaco menjual 3 jenis kopi, yakni kopi arabika,  melange/robusta dan kopi yang diberi label tiptop.

Toko Kopi Javaco di Jalan Kebonjati Bandung |Foto serbabandung.com
Toko Kopi Javaco di Jalan Kebonjati Bandung |Foto serbabandung.com

Toko ini telah berdiri  sejak  1928. Sampai sekarang toko itu masih menempati bangunan lama. Gedung itu bercat putih dengan kombinasi hijau di jendelanya. Orang tidak akan langsung tahu kalau itu Toko Kopi Javaco karena tidak ada petunjuk di luar gedung. Sebagai petunjuk toko ini bersebelahan dengan Hotol Gino Ferucci (dulu Hotel Surabaya). Hanya terpisah sebuah jalan kecil bernama Gang Haji Basar.

Tak jauh dari Toko Kopi Javaco, ada toko kopi jaman dulu lainnya. Namanya Toko Kopi Malabar. Toko Kopi ini berada di Jalan Gardujati. Tempatnya  berupa rumah tua tanpa halaman, di pinggir trotoar dengan kaca besar, tanpa plang nama yang mencolok. Berada di seberang SMAN 4 Bandung.

Tidak layaknya sebuah toko, pembeli harus mengetuk pintu dulu sebelum membeli kopi. Pemilik toko baru menggiling biji kopi ketika ada yang memesan, sehingga pembeli pun dapat mengatur tingkat kehalusan kopi yang diinginkan. Toko ini mengambil kopi dari para petani di kaki Gunung Malabar, Pangalengan.

Nah, kalau Kopi Kapal Selam berada di Jalan Pasar Barat di belakang pasar baru. Toko kopi ini sudah ada sejak tahun 1930-an. Selain robusta dan arabika, toko ini menjual  kopi jagung. Biji kopi jagung  tidak terlalu berbeda dengan bijih kopi asli. Warnanya hitam hasil dari proses sangrai.*

Ronde Jahe Alkateri yang Menghangatkan

SUKA minuman yang menghangatkan? Datang saja ke Jalan Alkateri. Tapi harus selepas magrib. Dijamin, di sana ada pedagang ronde jahe yang rasanya top markotop. Cari saja Gang Aljabri di sebelah kiri jalan, tidak jauh di belakang Hotel Golden Flower. Bukanya mulai pukul 18.00-22.00.

Memang rada susah mencarinya. Kalau naik mobil atau motor sebaiknya pelan-pelan. Biasanya tak jauh dari gerai tersebut banyak motor dan mobil yang parkir. Gerai itu berada tepat di mulut Gang Aljabri. Ronde jahe Alkateri ini sudah berdiri  sejak tahun 1984.

Ronde jahe Jalan Alkateri Bandung | FOTO serbabandung.com #serbabandung
Ronde jahe Jalan Alkateri Bandung | FOTO serbabandung.com #serbabandung

Pada Sabtu (11/4/2015) mobil yang parkir mobil nyaris sampai ke Jalan ABC. Pelat nomor mobilnya pun bervariasi. Ada yang berpelat nomor B, F, dan D. Sepeda motor pun ada beberapa yang parkir di sana. Di bangku gerai tersebut beberapa pembeli harus sabar menunggu.

Gerai atau jongko minuman  tersebut tidak terlalu besar. Ukurannya kira-kira 2×2 meter. Sedangkan tempat makannya di seberang gerai ukurannya lebih besar. Di sana tersedia meja panjang dan beberap kursi. Gerai dan tempat makan di sini terpisahkan oleh sebuah gang yang ukurannya kira-kira 1 meteran.

Pembeli harus antre dulu untuk mendapatkan semangkuk ronde jahe ini. Bu Uat yang usianya 83 tahun akan melayani dengan ramah. Ibu Uat ditemani oleh seorang pelayan yang cekatan mencuci mangkuk, mengantarkan wedang, dan menerima pesanan.

“Campur?” kata pelayan tadi menanyakan pesanan yang diinginkan pembeli. Ronde jahe di Alakteri memang terdiri  dua macam. Ronde yang besar rasanya kenyal dan ketika digigit di  dalamnya terasa ada  kacang. Sedangkan yang kecil, kenyal namun tidak berisi. Biasanya pembeli yang baru memilih ronde jahe yang campur.

Pelayan tadi akan bertanya kembali. “Gulanya mau apa? Di ronde jahe  Alkateri tersedia dua pemanis pilihan. Yang pertama pemanis yang terbuat dari gula merah, sedangkan yang satu lagi terbuat dari gula putih. Tinggal pilih mau gula merah atau gula putih.

Kemudian si pelayan akan menyeduh  ronde, gula, dan jahe ke dalam mangkuk kecil. Ronde yang berwarna-warni akan memenuhi mangkuk yang berisi kuah gula merah atau gula putih. Hidangan malam ala Jalan Alkateri pun siap untuk dinikmati. Harganya Rp 15.000 per mangkuk.*

Ronde Jahe Alkateri

  • Di mulut Gang Aljabri Jalan Alkateri Bandung
  • Harga Rp 15.000 per mangkuk
  • Buka mulai magrib hingga habis