Categories
Feature Kuliner

Penjual Mie Tektek Pekalongan yang di Bandung Ada Ikatan Keluarga

PENJUAL mie tektek di Bandung, terutama yang di berjualan di kawasan Buahbatu memiliki ikatan saudara. Mereka sama-sama datang dari Pekalongan. Pekalongan adalah sebuah kota yang berada di Jawa Tengah. Mereka datang ke Bandung memang untuk bekerja menjadi penjual mie tektek. Satu di antara penjual mie tektek tersebut adalah Ito. Dia mengaku sudah dua tahun menetep di Bandung. Ito sengaja datang ke kota kembang untuk mencari nafkah menjual mei tektek. “Lumayan lama mas. Sudah dua tahun,” kata Ito di tempat jualannya di Jalan Reog, Kota Bandung, Senin (26/8/2018). Tenda mie tektek Ito berada di tepi jalan dekat jembatan. Dia membuka tendanya pukul 18.00. Adapun tutupnya pukul 00.30. Tapi, katanya, kalau lagi banyak pembeli tutupnya bisa lebih awal. Setiap hari begitu tanpa ada hari libur. Pera penjual mie tektek itu di Bandung menempati sebuah kontrakan di kawasan Kebon Gedang. Namun, kata Ito, kebanyakan teman-temannya mengontrak di kawasan Kiaracondong. Menurutnya lebih dari seratus orang Pekalongan yang berjualan mi tek tek.
penjual mie tektek
Ito, penjual mie tektek di Jalan Reog, Bandung. | Foto serbabandung.com

Penjual Mie Tektek ada Seratusan Lebih

Penjual mie tektek ini berjualam makanan khas Pekalongan ini beragam. Ada yang menjualnya dengan cara dipikul. Ada juga yang mendirikan tenda dipinggir jalan. Dan, ada yang berjualan tanpa tenda dengan hanya menyediakan kursi di pinggir jalan. “Adalah seratus lebih yang menjual mie tektek di Bandung. Itu termasik penjual yang menggunakan pikul,” kaya Ito. Ito, pada dini hari itu tengah membuat mie rebus pesanan pembeli. Dia cekatan memasukkan mie, bumbu, telor, dan sewiran daging ayam ke dalam wajan yang sudah dikasih minyak. Kemudian ditambah air sedikit samabil dikocek. Perapian untuk memasak mei tektek adalah bara arang yang tersimpan di anglo. Ito menyajikan mie itu setelah matang di piring. Mie yang masih panas dan berasap siap untuk dinikmati. Untuk menyantap mie rebus atau goreng penikmat mie harus membayar Rp 14.000. Ito hanya menjual mie saja. Bagi yang memesan nasi goreng di sini takkan dilayani. “Kami hanya menjual mie saja,” kata Ito. Beberapa penjual mie tektek kaki lima di kawasan Buahbatu di antaranya ada di perempatan Jalan Kliningan-Karawitan. Mie tektek ini dijual di samping Alfamart. Sebuah pikulan khas penjual mie ini sangat mudah terlihat karena berada tak jauh dari tepi jalan. Penjual mie tektek di kawasan tersebut ada yang berjualan di Jalan Maskumambang. Tendanya berada di belakang Hotel Horison di sebuahh jalan buntu di sana. Penjual mie di sana merupakan pelopor tenda mie tektek di kawasan Kliningan.
Categories
Feature Wisata

Balapan Merpati yang Masih Tetap Seru untuk Dimainkan dan Dilihat

BALAPAN Merpati bagi masyarakat perkotaan mungkin jarang terdengar. Tetapi di kampung-kampung masih banyak lapangan yang digunakan untuk balapan burung tersebut. Satu di antaranya di Bojongmalaka, Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung. Warga sekitar yang gemar merpati kerap mendatangi sepetak lapangan tersebut pada Kamis, Jumat, Sabtu, dan Minggu.

Biasanya sore sekitar pukul 15.00, orang-orang berdatangan sambil menbawa merpati di sangkar yang dirangselkan di punggungnya. Mereka naik sepeda motor menyusuri jalan yang ukurannya dua meteran. Lapangannya berada di tengah-tengah sawah yang hanya memiliki satu akses jalan tanah untuk menuju ke sana.

Begitu juga yang terlihat pada Sabtu (25/8/2018), mereka sudah berkumpul di lapangan tersebut. Sangkar merpati yang terbuat dari bambu disimpan rapi di pinggir lapangan. Beberapa orang terlihat memainkan merpati betina dan membiarkan sayapnya bergerak –ngelepek kata orang Sunda– untuk menarik perhatian merpati jantan yang terbang dari arah depan.

“Nomor satu VSOP lawan Peter Pan,” kata remaja belasan tahun tiba-tiba.

Balapan Merpati Siap Dimulai

balapan merpati
Peserta balapan merpati sedang melakukan pemanasan. | Foto serbabandung.com

Rupanya si remaja tersebut mengumumkan hasil undian balapan merpati. VSOP dan Peter Pan merupakan nama merpati yang akan balapan paling awal.

“Ayo siap-siap,” katanya lagi.

Beberapa orang kemudian mengambil sangkar berisi merpati. Tak hanya VSOP dan Peter Pan, merpati lainnya yang ikut balapan merpati pun  dibawa. Mereka menyusiri pematang sawah berjalan sejauh kurang lebih 100 meter. Setelah sampai di tempat yang ditentukan mereka tunggu aba-aba.

Di lapangan peserta  balapan merpati berjejer sambil membawa merpati betina. Mereka menggerakkan merpati di tangannya ke atas ke bawah sambil membiarkan sayapnya bergerak untuk menarik perhatian sang jantan. Suara sayap merpati itu jelas terdengar klepek….klepek…klepek.

Setelah siap untuk membalap, merpati dilepaskan. Balapan pertama VSOP melawan Peter Pan. Pemiliknya di lapangan sambil menunggu memainkan merpati betina. Dari arah berlawanan kedua merpati itu dilepaskan. Jarak seratus meter adalah jarak yang pendek bagi kedua merpati itu. Benar saja, beberapa saat kemudian kedua merpati itu terbang menukik mencari pasangan yang dipegang oleh pemiliknya.

“Peter Pan yang menang,” kata remaja tadi berteriak menyatakan Peter Pan yang datang paling awal. Jaraknya dengan VSOP hanya beberapa senti saja.

Peserta Balapan Merpati Bayar Rp 10.000

Menurut Opan (24) balapan tersebut merupakan babak perempatfinal. Berarti, katanya, ada delapan pasang merpati yang balapan. “Nanti ada semifinal dan final,” kata Opan yang juga menjadi peserta. Namun merpatinya sudah kalah pada babak awal.

Sore itu ada 24 merpati yang mengikuti balapan. Setiap peserta harus membayar Rp 10.000 untuk setiap peserta pada pantia. Uang tersebut nantinya menjadi hadiah bagi pemilik merpati yang terceoat. “Uang segitu dipotong 20 persen untuk panitia,” kata Opan.

Babak semifinal akhirnya dimulai. Pada babak semifinal itu menghasilkan merpati-merpati tangguh untuk beradu kecepatan pada babak final. Namun, babak final urung digelar karena peserta yang masuk final sepakat untuk membagi hadiah yang disediakan.

Menurut Opan perlombaan sore itu sekaligus melatih merpati-merpati untuk ikut pada balapan tingkat lebih tinggi yang diselenggarakan Persatuan Merpati Balap Sprint Idonesia.

“Kalau yang ini hadiahnya besar. Pesertanya juga banyak datang dari seluruh Indonesia,” kata Opan.

Perlombaan telah selesai. Para peserta pun satu-satu meninggalkan gelanggang sambil membawa sangkar merpati masing-masing. Mereka ada yang menggunakan sepeda motor dan ada juga yang berjalan. Termasuk Opan yang hari itu merpatinya kalah pada babak awal.

Categories
Feature Wisata

Hiburan Rakyat Milik Darmun Masih Tetap Hidup di Tengah Terjangan Teknologi

SABTU (28/7/2018) sore lapangan di Andir, Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, beda dari biasanya. Banyak orang berkumpul menyaksikan wahana hiburan rakyat yang digelar di lapangan tersebut. Kebanyakan dari mereka adalah remaja usia belasan.

Wahana yang tampak di lapangan ada ombak banyu, kora-kora, kereta mini, trampolin, mancing mini, dan wahana khusus untuk balita. Beberapa di antara wahana tersebut tampak mulai bergerak. Di kora-kora, tujuh kursi yang tersedia terlihat penuh. Penumpangnya adalah remaja pria dan perempuan berusia belasan tahun.

Bagi Darmun (57), pemilik hiburan rakyat, kehadiran warga merupakan berkah. Dia berharap wahana hiburan yang dia gelar banyak digunakan oleh warga. Darmun hadir di lapangan itu selain untuk menghibur juga berbisnis menjual jasa hiburan yang sudah dia kelola sejak 2000.

Setiap wahana yang disediakan Darmun dan kelompoknya dipasang tarif rata-rata Rp 3.000. Harga yang sangat terjangkau tersebut sudah diperhitungkan untuk dana operasional. Darmun tak takut rugi karena pemasukan dari bisnis hiburan rakyat ini tergantung banyaknya pengunjung.

hiburan rakyat
Kora-kora wahana di tempat hiburan rakyat milik Darmun. \ Foto serbabandung.com

“Tak tentu penghasilannya. Kadang kentungannya kecil, kadang juga besar. Kalau lagi ramai ya keuntungannya besar. Tergantung banyaknya pengunjung yang menggunakan wahana,” kata Darmun.

Wahana Hiburan Dicat Warna-warni

Untuk memancing pengunjung wahanan hiburan yang tersedia sengaja dicat warna-warni. Di sudut lapangan disediakan tiket boks untuk memudahkan pengunjung. Setiap wahana dijaga oleh rata-rata dua petugas. Kecuali wahana ombak banyu yang membutuhkan tenaga lebih banyak.

Lapangan di Andir bagi Darmun dan kelompoknya merupakan lapangan yang kesekian kalinya. Darmun dan kelompoknya terus mencari lapangan yabg potensial dikunjungi oleh banyak warga. Mereka untuk menggunakan lapangan tersebut harus mendapat izin dari pemerintah setempat. Darmun tidak menyebut harga sewa lapang teraebut, tapi, katanya, bisa tertutupi oleh penghasilan mereka.

Penyelenggara bisnis yang beralamat  Gang Eme, Sukajadi, Kota Bandung, ini tak hanya beroperasi di Bandung. Kota-kota lainnya di Jawa Barat pun mereka kunjungi. Bahkan mereka pernah menggelar hiburan rakyat ini beberapa kali di kota-kota Jawa Tengah. Mereka akan terus mencari lapang agar bisnis yang mereka jalankan terus berputar.

Darmun masih yakin bisnis hiburannya bakal terus berjalan. Dia pun merasa yakin teknologi yang melaju pesat takkan menggerus lahan bisnisnya. Darmun akan terus menjalankan bisnis ini sampai dia tidak mampu lagi. “Jalanin aja,” katanya.

Categories
Feature Transportasi

Perahu Eretan Siap Seberangkan Warga di Sungai Citarum

BAGI Dadang (40) pekerjaan ini bukan sekadar untuk mencari uang. Pekerjaannya sebagai penarik perahu eretan lebih dari itu. Dia ikut membantu warga menyebrang Sungai Citarum di Parunghalang RT 11/02, Desa Andir, Kecamatan Baleendah, ke kampung di seberang.

Pekerjaannya menarik perahu eretan merupakan warisan. Perahu tersebut tadinya milik kakeknya. Bersama kakaknya Nanang, ia melanjutkan pekerjaan tersebut. Mereka menjalankannya setiap hari.

Dadang setiap hari menunggu penumpang di sebuah saung di tepi sungai. Sambil menunggu pelanggannya, ia menyetel musik keras-keras. Siang itu, Dadang memilih lagu dangdut. Dia duduk di tikar yang melapisi lantai yang terbuat dari papan. Ketika ada penumpang dia beranjak ke perahunya mempersilakan penumpang menaiki perahu.

Penumpang tak perlu lama menunggu. Dadang tak pernah ngetem menunggu penumpang lain agar perahunya penuh. Dia tetap menyebrangkan penumpang kendati hanya ada satu orang penumpang.

perahu eretan
Dadang menyebrangkan penumpang dengan perahu eretan di Sungai Citarum, Sabtu (10/2/2018)

“Saya mah nggak pernah pasang tarif. Berapapun saya terima. Tapi biasanya mereka (penumpang) membayar Rp 2.000,” kata Dadang yang bersiap-siap menarik perahu eretannya, Sabtu (10/2/2018).

Perahu pun melaju di sungai yang rata-rata lebarnya 20 meteran ini mengantar dua perempuan. Pelan sekali jalannya, tapi tak butuh waktu lama untuk menyebrang. Kurang dari dua menit perahu sampai ke seberang.

Di seberang sudah menunggu penumpang untuk diantar. Dua orang remaja putri berseragam pramuka tampak naik ke perahu dan dudung di kursi panjang yang disediakan. Mereka tak terganggu meski perahu itu bergoyang pelan. Dadang pun balik ke tempat semula. Kalau pun tak ada penumpang, dia tetap akan kembali ke dermaga semula.

Perahu eretan Dadang mulai beroperasi setiap hari pukul 06.00-23.00. Bersama kakaknya, dia bergiliran memberikan pelayanan kepada pelanggannya. Dadang bisa mendapatkan giliran pagi, siang, atau sore. “Tergantung pengaturannya,” kata Dadang.

Dadang tetap akan mengoperasikan perahunya kendati Citarum sedang diterjang banjir. Warga di sana, kata Dadang, tetap membutuhkan jasanya karena kalau tidak harus berputar jauh untuk menyebrang di jembatan gantumg.

Perahu Eretan Tak Perlu Dayung

Perahu eretan beda dengan perahu lain. Dadang tak perlu dayung untuk menggerakkannya. Dia membentangkan tali ke seberang. Kemudian menarik tali itu untuk menggerakkannya. Perahu itu akan bergoyang pelan katika Dadang mulai menarik tali. Dadang harus berkonsentrasi dan mengeluarkan tenaga mempertahankan perahu agar tak terbawa arus Citarum. Penumpangnya bisa berdiri atau duduk di kursi kayu panjang yang telah disediakan.

“Kalau penumpang yang baru suka takut naik perahu ini karena bergoyang. Kalau yang udah biasa mah tenang saja. Tinggal duduk. Nggak lama ko,” kata Dadang.

Menurut Dadang pelanggannya datang dari berbagai kalangan. Ada anak sekolah, padagang, karyawan, pegawai pabrik, dan profesi lainnya. Biasanya, waktu sibuk Dadang saat pagi dan sore. “Yang mau sekolah dan bekerja biasanya,” kata Dadang.

Untuk kelaikan perahu Dadang setiap hari memeriksanya. Begitu juga talinya. Dadang tak mau penumpang mengalami kecelakaan. “Kalau perahu rusak nggak pernah diperbaki tapi langsung beli yang baru di Munjul,” katanya. Munjul adalah sebuah kawasan di tepi Citarum masih di Kecamatan Beleendah.

Pekerjaan menarik perahu eretan yang dijalankannya nyaris tergerus perkembangan zaman. Sekitar tahun 2000-an penghasilannya mulai turun drastis karena orang lebih memilih naik sepeda motor dan memutar lebih jauh. Meski begitu Dadang tak risau karena yakin masih ada yang membutuhkan jasanya. Dia mengaku akan terus menjalankan profesinya hingga tak kuat lagi. *

Categories
Feature Wisata

Jelekong, Kampung Pelukis yang Ingin Pertahankan Pamor

SEORANG remaja tampak memulaskan kuasnya di kanvas. Dia konsentrasi penuh melukis buah-buahan di atas meja. Tiga remaja lainnya ikut mengawasi dan sesekali berkomentar terhadap lukisannya. Warna lukisan buah-buahan itu dominan berwarna kuning kombinasi warna merah. Pemandangan itu terlihat di studio lukis Suryadi Art di kampung pelukis Kampung Jelekong, Jalan Giriharja, Kelurahan Jelekong, Kecamatan Baleendah, Kabupaten Bandung, Jumat (15/4/2016). Setiap hari kesibukan itu biasa terlihat di studio milik Suryadi. Pamandangan yang sama juga bisa terlihat di studio dan galeri lainnya.

suryadi pelulkis kampung pelukis jelekong
Suryadi, pelukis Kampung Pelukis Jelekong. | Foto serbabandung.com #serbabandung

Jumat (15/4/2016) sore kampung yang terkenal sebagai kampung pelukis itu tidak terlalu ramai. Beberapa kendaraan tampak lewat di jalan kampung tersebut. Warga di sana menjalankan aktivitas seperti kebanyakan orang. Beberapa studio atau galeri masih buka sore itu memamerkan lukisannya.

Di studio Suryadi Art, selain remaja tadi yang melukis, di sudut lain terlihat orang lain yang sedang melukis rombongan kuda yang sedang berlari. Dia tampak keonsentrasi penuh mengguratkan kuas di kanvas yang sebagian besar masih terlihat putih.

Pelukis Jelekong Banderol Lukisannya Rp 150.000-200.000

Di Studio Art terpampang beberapa lukisan seperti lukisan bunga. Lukisan itu dijual oleh pengelolanya bervariasi. Tergantung jenis dan ukuran lukisan, tetapi biasanya dibandrol kisaran Rp 150.000-200.000. Lukisan-lukisan itu merupakan stok yang belum atau tidak dikirim ke daerah lain seperti Medan, Bali, dan Jalan Braga Bandung.

Menurut pemilik studio tersebut, Suryadi, studionya terbuka buat siapa saja. Para pengunjung, katanya, silakan untuk belajar melukis langsung di sana. Pengunjung juga kata dia bebas untuk memotret lukisan-lukisan yang dipajangnya.

“Kami terbuka saja. Siapa pun yang bertanya kami akan kasih teknik-teknik melukis. Kami tidak akan menutup-nutupinya. Silakan saja,” kata Suryadi yang saat itu sedang menempelkan kanvas di kayu yang sudah disiapkan sebelumnya.

Suryadi masih menaruh harapan besar lukisan-lukisan Jelekong akan tetap disukai. Selama ini, kata Suryadi, tidak ada perubahan terhadap pamor kampung pelukis ini. Suryadi yang mengaku sebagai generasi kelima pelukis Jelekong ini harus mempertahankan apa yang telah dilakukannya. “Lukisan Jelekong itu luar biasa jadi harus dipertahankan,” katanya di studio kontrakannya, Jumat. *