Madison Square Garden Mini Bernama C-Tra Arena di Bandung

KALAU Anda penggemar basket tentu kenal kompetisi NBA di Amerika Serikat. Pasti kenal juga klub New York Knick. Nah, klub ini memiliki gedung olahrga (GOR) yang sangat populer, namanya Madison Square Garden.  C-Tra Arena ternyata miniatur dari GOR milik New York Knick tersebut. GOR C-Tra adalah GOR yang berlokasi di Jalan Cikutra Kota Bandung, tak jauh dari Taman Makan Pahlawan Cikutra.

“GOR ini dibangun meniru stadion milik klub NBA New York Knick. Jadi C-Tra Arena ini miniatur New York Knick,” ujar Pembina Yayasan Siliwangi Santosa Mandiri Setiyanto P. Santosa kepada wartawan, belum lama.

GOR C-Tra Arena tadinya dibangun khusus untuk cabang olahraga bola baset. Pembangunannya dilakukan pada 1989-1999 saat bangsa Indonesia harus bergelut dengan krisis ekonomi. GOR ini merupakan hadiah kepada tim basket Jawa Barat yang berhasil menyabet medali emas cabang olahraga basket PON 1996.

C-Tra Arena
GOR C-Tra Aren di Jalan Cikutra Bandung. | Foto c-traarena.blogspot.co.id

C-tra Arena merupakan salah satu fasilitas olahraga bertaraf internasional. GOR ini sekarang, selain untuk menggelar pertandingan basket juga sering digunakan untuk olahraga indoor seperti bola voli, futsal, karate, Taekwondo, dan cabang olahraga indoore lainnya.

GOR ini sering digunakan untuk kegiatan nonlahraga seperti konser musik, acara wisuda, opspek, try out, dan lain-lain.

Luas lapangan basket C-Tra Arena memiliki luas 500 meter per segi. Lantainya menggunakan parket kayu jati masing-masing berukuran 1,2x5x30cm. Sebelum dipasang parket, lantai dilapisi bantalan karet setebal 1,2cm, kemudian karet tersebut ditutupi dengan dua lapis Plywood dengan ketebalan masing-masing 15mm. Teknik tersebut merupakan teknik pemasangan bertaraf internasional.

Pengelola sarana dan prasarana GOR ini, tadinya dilakukan oleh Yayasan Siliwangi Santosa. Namun mulai 1 Oktober 2015 PT. Bandung Utama Raya akan mulai mengelolanya setelah dilakukan penyerahan pada Jumat (18/9/2015) di C-Tra Arena. Dengan penyerahan pengelolaan tersebut sekaligus C-Tra Arena menjadi home base tim basket Bandung Utama yang akan berlaga di Liga Bola Basket Profesional Indonesia.

“Pemanfaatan tidak hanya sebatas pada kegiatan olahraga tapi juga memaksimalkan C-Tra Arena sebagai fungsi ruang terbuka publik. Masyarakat sekitar dapat menikmati fasilitas yang ada,” kata Direktur Utama PT Bandung Utama Raya Dennies Depriadie dikutip dari fokusjabar.com.

Fasilitas GOR C-Tra Arena

  • Gedung Megah Bertaraf Internasional
  • 5000 Kapasitas Tempat Duduk
  • Sound System 5000 watt
  • Listrik/Lightning 15.000 watt
  • Locker/Ruang Ganti Pakaian
  • Air Bersih (PAM) dan Jet Pam
  • Area Parkir Luas
  • Security
  • Musala
  • Toilet

Alamat: Jl. Cikutra No. 278 Bandung
Phone : 022 – 7206525

Bahan: http://www.bandungtourism.com/, http://c-traarena.blogspot.co.id/, http://fokusjabar.com/2015/09/18/pt-bandung-utama-raya-alih-kelola-c-tra-arena-bandung/, http://sports.sindonews.com/read/1046494/51/c-tra-arena-homebase-baru-bandung-utama-1442665286, http://www.kiosparquet.com/2014/02/lapangan-basket-citra-arena-bandung.html

Perpustakaan di Kawaluyaan Tempat Nyaman buat yang Hobi Baca

INGAT dulu waktu bikin skripsi sering bolak balik ke perpustakaan Jalan Soekarno Hatta dekat Uninus. Saat itu tidak terlalu memperhatikan perpustakaan ini milik siapa, yang penting bisa mendapatkan data, mencatatnya, kemudian pergi. Tapi katanya sejak 23 Februari 2013 perpustakaan itu telah dipindahkan ke Jalan Kawaluyaan Indah II No.4, Soekarno Hatta, Bandung, di dekat perumaham Metro Jalan Soekarno Hatta. Perpustakaan ini sering disebut Perpustakaan Kawaluyaan.

Ternyata saat datang ke Kawaluyaan, Sabtu (5/9/2015), wow, gedung perpustakaannya beda banget dengan yang di Soekarno Hatta sana. Bangunan berlantai 4 ini didominasi kaca berwarna hijau. Gedungnya tidak di tepi Jalan Soekarno Hatt, namun sebelum masuk ke Jalan Kawaluyaan ada plang petunjuk arah ke perpustakaan itu.

Perpustakaan Kawaluyaan
Perpustakaan Daerah Provinsi Jawa Barat di Jalan Kawaluyaan Bandung. | Foto serbabandung.com #serbabandung

Usut punya usut ternyata perpustakaan yang sering dikunjungi dulu adalah Perpustakaan Nasional Provinsi Jawa Barat yang pada 12 April 2002 berubah menjadi Perpustakaan Daerah Provinsi Jawa Barat. Nah perpustakaan Kawulayaan itu adalah Perpustakaan Daerah Provinsi Jawa Barat.

Petugas di sana menjelaskan perpustakaan yang di Jalan Soekarno Hatta masih ada. Namun, katanya, sebagian besar buku-bukunya diboyong ke Kawaluayaan. Perpustakaan yang di Jalan Soekarno Hatta No 629 tetap berfungsi sebagai perpustakaan, tapi terbatas. Petugas itu menyebutnya perpustakaan deposit.

Perpustakaan Kawaluyaan  terbagi menjadi empat ruang baca. Di lantai satu adalah untuk buku anak-anak. Untuk memberikan kenyamanan pada para pengunjung di sini disediakan serodotan. Disediakan juga pictorial book, ensiklopedia, novel anak, dan buku-buku lama. Untuk ensiklopedia hanya boleh di sana saja, tidak boleh dipinjam ke rumah.

Di lantai dua tersedia dua ruangan masing-masing ruang baca dewasa 1 dan dan dewasa 2. Di ruang baca tersedia novel remaja, juga tersedia buku dari berbagai disiplin ilmu. Bahkan ada buku berkebun. Di sini juga terdapat buku biografi.

Kalau di lantai 3, tempat menyimpan majalah dan surat kabar. “Kalau di lantai 4 untuk aula,” kata petugas tadi.

Perpustakaan ini buka dari Senin-Jumat mulai pukul 08.00 – 21.00. Sedangkan hari Sabtu buka mulai 08.00 hingga pukul 16.00. Waktu istirahat pukul 11.45 – 12.45. Perpustakaan Daerah Provinsi Jawa Barat menyediakan perpustakaan keliling setiap Minggu mulai pukul 06.00-11.30 di di Sabuga/Tegallega.

Warga juga bisa menjadi anggota di perpustakaan ini. Syarat-syaratnya adalah mengumpulkan
foto 2×3 cm sebanyak 4 buah (berwarna), Fotokopi KTP sebanyak 1 buah. Jika pelajar/mahasiswa lampirkan kartu tanda siswa/mahasiswa.

Sedangkan untuk Anak-anak yang belum mempunyai KTP lampirkan fotokopi KTP orang tua. Untuk yang kost/kontrak rumah (Luar Daerah) lampirkan KTP pemilik rumah/surat keterangan RT/RW setempat. Jika Persyaratan sudah ada, isilah formulir di komputer pendaftaran sesuai dengan data dengan jelas.

Syarat Anggota Perpustakaan Kawaluyaan

  • Mengumpulkan pas foto 2×3 cm sebanyak 4 buah (berwarna)
  • Fotokopi KTP sebanyak 1 buah
  • Jika Pelajar/Mahasiswa lampirkan Kartu Tanda Siswa/Mahasiswa
  • Untuk Anak-anak yang belum mempunyai KTP lampirkan fotokopi KTP orang tua
  • Untuk yang kost/kontrak rumah (Luar Daerah) lampirkan KTP pemilik rumah/surat keterangan RT/RW setempat
  • Isilah formulir di komputer pendaftaran sesuai dengan data dengan jelas.

Badan Perpustakaan dan Kearsipan Daerah Provinsi Jawa Barat

Jalan Kawaluyaan Indah II No. 4 Bandung 40285-40286
Telp. +62 22 7320048
Faks. +62 22 7320049
bapusipda.jabarprov.go.id
bapusipda@jabarprov.go.id

Pesona Kelenteng Tertua di Bandung yang Sudah Ada pada 1855

DI Kota Bandung terdapat kawasan yang menawarkan pesona Tiongkok. Kawasan yang biasa disebut Pecinan atau China Town tersebar mulai dari Jalan Banceuy hingga ke Jalan Cibadak, dan Jalan Kelenteng. Banyak kekayaan budaya Tiongkok yang masih bisa bertahan sampai sekarang di sana, seperti kuliner, kesenian, arstektur gedung, hingga kebiasaan warga.

Kelenteng Satya Budhi di Jalan Kelenteng Bandung. | Foto serbabandung.com #serbabandung
Kelenteng Satya Budhi di Bandung. | Foto serbabandung.com #serbabandung

Suasana pecinan masih sangat terasa di sana. Apalagi kelenteng yang paling tua di Kota Bandung  masih berdiri kokoh di sana. Bangunan itu masih bisa dinikmati oleh generasi sekarang.

Tiga buah bangunan berdiri satu kompleks, yakni Vihara Samudra Bhakti, Vihara Satya Budhi, dan Vihara Buddhagaya. Ketiga vihara di Jalan Kelenteng No 23A, Bandung, ini berdiri di bawah Yayasan Satya Budhi.

Satya Budhi merupakan kelenteng tertua di kota Bandung. Diresmikan pada 1855 dengan nama Hiap Thian Kong yang berarti Istana Para Dewa. Pada 1965, penggunaan nama Tionghoa dilarang di Indonesia karena itulah Hiap Thian Kong berubah nama menjadi Vihara Satya Budhi.

Selain itu penggunaan kata kelenteng diubah menjadi vihara kebijakan pemerintah saat itu tidak mengakui agama Konghucu. Namun sekarang, Vihara Satya Budhi menjadi tempat ibadat tiga agama, yaitu Tao, Konghucu, dan Buddha.

Bagian luar tempat ibadah ini didominasi warna merah, hijau dan kuning. Di dindingnya terlihat relief lukisan dewa-dewa Tiongkok yang berwarna cerah. Di tengah-tengah ketiga vihara itu terdapat Patung Dewa Guan Gong menunggang kuda. Patung ini dipercaya bakal melindungi yang masuk ke dalam bangunan ini.

Siapa pun boleh masuk ke tempat ibadah ini asal minta izin dulu ke pengelola. Minimal ke petugas yang menjaga di sana. Untuk berfoto-foto juga dipersilakan asalkan di luar pagar kompleks vihara tersebut. Satu lagi syarat yang paling penting adalah jangan menggangu orang yang sedang beribadah.

Seperti pernah dijelaskan dalam tulisan sebelumnya Jalan Kelenteng memang penuh pesona. Jadi tidak ada alasan untuk tidak melangkahkan kaki ke kawasan ini. Mau? *

Pesona Kelenteng Satya Budhi

  • Tertua di kota Bandung
  • Diresmikan pada 1855 dengan nama Hiap Thian Kong yang berarti Istana Para Dewa.
  • Pada 1965, penggunaan nama Tionghoa dilarang di Indonesia kaarena itulah  Hiap Thian Kong berubah nama menjadi Vihara Satya Budhi.
  • Selain itu penggunaan kata Kelenteng diubah menjadi vihara, kebijakan pemerintah saat itu tidak mengakui agama Konghucu. Namun sekarang, Vihara Satya Budhi menjadi tempat ibadat tiga agama, yaitu Tao, Konghucu, dan Buddha.

Cicaheum, Terminal yang Sudah Dianggap Tidak Layak

TERMINAL di Kotra Bandung ada dua, yang pertama Terminal Leuwipanjang, dan yang kedua adalah Terminal Cicaheum.  Kedua terminal ini meski masuk dalam kategori besar, dianggap sudah tidak memadai lagi untuk menampung armada bus yang datang dan pergi ke terminal tersebut.

Pemerintah Kota Bandung pernah berencana memindahkan kedua terminal tersebut ke terminal terpadu di Gedebage. Namun rencana tersebut hingga tulisan ini dibuat belum terlaksana. Edi Siswadi yang saat menjabat Sekretaris Daerah Kota Bandung pernah mengatakan keberadaan terminal terpadu sangat mendesar.

Terminal Cicaheum Kota Bandung. | Foto serbabandung.com #serbabandung
Terminal Cicaheum Kota Bandung. | Foto serbabandung.com #serbabandung

“Itu sebagai salah satu upaya untuk menata sistem transportasi di Kota Bandung,” ujar Edi saat membuka acara Lokakarya Kajian Awal Pra Studi Kelayakan Pembangunan Terminal Terpadu Gedebage di Hotel Horison, Jalan Pelajar Pejuang Bandung, seperti dikutip infobdg.com, Senin (17/9/12).

Wali Kota Bandung Ridwan Kamil (Emil) juga pernah melontarkan rencan revitalisasi kedua terminal tersebut di berbagai media massa. Emil memiliki gagasan terminal jangan terbuka tapi harus tertutup seperti gedung.

“Kalau seperti gedung,  di bawah dan atasnya bisa dibangun restoran dan supermarket,” kata Wali Kota Bandung Ridwan Kamil, di Terminal Cicaheum Jalan AH Nasution Kota Bandung, seperti dikutip fokusjabar.com,  Rabu (23/7/2014).

Di Terminal Cicaheum Juga Ada Terminal Angkot

Sekarang Terminal Cicaheum yang terletak di Jalan AH Nasution masih digunakan untuk titik keberangkatan bus Antar Kota Antar Provinsi (AKAP) dan Antar Kota Dalam  Provinsi  (AKDP) ke arah timur seperti Tasik, Garut, Cirebon, Semarang, Purwokerto, Yogyakarta, Solo, Surabaya, dan bahkan ke Bali.

Terminal angkutan kota (angkot) juga ikut menopang keberadaan terminal bus di sini. Beberapa trayek yang menyebar ke penjuru kota Bandung mudah didapat. Letaknya berada di belakang terminal bus.  Terminal Cicaheum mulai beroperasi pukul 05.00 WIB dan untuk angkutan kota (angkot) sebagian besar beroperasi 24 Jam.

Selain  terminal di kawasan Cicaheum juga terdapat pasar tradisional yang letaknya di belakang terminal. Di depan terminal terdapat pertokoan yang menjual berbagai keperluan harian masyarakat. *

Pasupati, Jalan Layang yang Gunakan Konstruksi Tahan Gempa

JALAN layang Pasupati adalah jalan layang terpanjang di Kota Bandung. Panjangnya mencapai  2,8 km dan lebarnya 30-60 m. Jalan ini menghubungkan bagian utara dan timur Kota Bandung melewati lembah Cikapundung.

Jalan itu membelah mulai dari Jalan Surapati hingga Jalan Pasteur,  membelah Jalan Ir H Djuanda (Dago), kemudian Jalan Tamansari. Selanjutnya Jalan Cihampelas, Cipaganti, kemudian Jalan Pasteur.

Jalan layang ini istimewa karena jalan pertama di Indonesia yang menggunakan teknologi tahan gempa. Perangkatnya yang bernama lock up device (LUD) dibuat di Prancis. Semuanya berjumlah 76 buah.

Jembatan ini dilengkapi dengan jembatan cable stayed sepanjang 161 meter yang melintang di atas lembah Cikapundung. Jembatan ini sekarang menjadi ikon kota Bandung. Banyak warga Bandung yang memanfaatkan gambar jembatan ini untuk berbagai keperluan, seperti untuk promosi produk.

Kolong Jembatan Layang Pasupati di Jalan Tamansari, Balubur, Bandung | Foto serbabandung.com
Kolong Jalan Layang Pasupati di Jalan Tamansari, Balubur, Bandung | Foto serbabandung.com

Cable stayed adalah jembatan tanpa kaki. Di wikipedia disebutkan kekuatan jembatan itu ditopang oleh 19 kabel baja yang terdiri dari 10 kabel sebelah barat dan 9 kabel sebelah timur.

Setiap kabel isinya 91 kabel kecil yang masing-masing kabel kecil itu terdiri dari tujuh kabel yang lebih kecil lagi. Sepuluh kabel yang dipasang di sebelah barat dibuat berpasangan

Di laman  wika.co.id disebutkan jembatan ini menggunakan struktur box girder dan single box dengan lebar 21,5 meter dan ketinggian 2,5 meter. Box girder segmental memiliki berat mencapai 150 ton.

Pembangunan jembatan ini dibiayai melalu hibah dana dari pemerintah Kuwait. Setelah sempat beberapa tahun tidak terlaksana, pada 26 Juni 2005 uji coba pertama dilakukan.

Sekarang, terutama di Jalan Tamansari, di kolong Pasupati ditata oleh Pemerintah Kota, hasilnya ada beberapa taman, seperti Taman Film, Taman Jomblo, dan Taman Sakteboard yang bisa dinikmati oleh masyarakat. *

Sumber: http://id.m.wikipedia.org/wiki/Jembatan_Pasupati