Categories
Fasilitas Umum

Tukang Cukur Rambut Jadul di Jalan Saad dan Oto Iskandardinataista

BARBER shop Sawargi dan Tukang Cukur Rambut Tepat adalah tempat bercukur lama di Bandung yang masih berpraktek. Keduanya tetap bisa melayani para pelanggannya, kendari bermunculan barber shop baru di kota ini.

Barber shop Sawargi berada di Jalan Saad sudah ada sejak 1949. Tukang cukur rambut ini didirikan oleh H Ero Saefullah. Mereka bisa bertahan karena terus menyesuaikan dengan perkembangan zaman.

Sekarang, barbershop tersebut dikelola cucunya, Risyad Erawan (43). Dia merupakan anak pertama dari dua bersaudara Ahmad Tossin.

Barber Shop Sawargi tidak pernah berubah. Sejak dulu, Barber Shop Sawargi tetap mempertahankan konsep-konsep lama, yakni sesuai nama sawargi menjalin kekeluargaan.

Desain rumahnya pun masih sama seperti ketika pertama kali dijadikan tempat potong rambut. Bahkan, alat-alat mencukur seperti tempat bedak, gunting, mesin cukur antik, alat semprot, kursi klasik, dan lainnya masih dirawat.

Pelanggan tidak hanya datang dari Kota Bandung, tapi ada juga dari daerah lain, seperti Jakarta, Surabaya, dan Bali. Mereka datang dari luar kota, biasanya yang sedang mengisi liburan, seperti weekend di Bandung.

Pemangkas Rambut Tepat berada di Jalan Oto Iskandardinata. Pemangkas rambut ini pun sudah ada sejak 1975. Pendirinya adalah Sutrisno, ayah Dudi yang sekarang mengelolanya. Sutrisno adalah perantau dari Yogyakarta yang menikah dengan orang Karapitan, ibu Dudi.

Tukang Cukur Rambut di Otista

“Sebelum pindah ke sini, kami tinggal di Jalan Karapitan. Sebelum buka pangkas rambut pun, ayah pernah buka perusahaan hasil bumi, kemudian mebel Jepara,” kata Dudi seperti dikutip dari Tribun Jabar.

Setelah beberapa kali kurang beruntung berusaha, ayah Dudi mendirikan pangkas rambut berkat saran saudara ibunya yang orang Garut. Akhirnya pada 1975, Pemangkas Rambut Tepat.

Menurut Dudi, di Bandung sejak dulu, sudah banyak pemangkas rambut. Bahkan, katanya pada zaman Belanda, ada pemangkas rambut khusus tentara.

Dudi menyebut beberapa pemangkas rambut lama lainnya di Bandung, seperti di Jalan Asia Afrika yang bernama Dinamis. Depan Gedung Merdeka, juga katanya ada pemangkas rambut. Di jalan Merdeka dekat Unpar dan di Dalem Kaum juga ada.

“Saya masih ingat di Lengkong ada pemangkas rambut namanya Peragawati. Sekarang sudah tidak ada. Termasuk di Hotel Savoy Homann ada pemangkas cukur, tetapi sekarang sudah tidak ada. Pindah ke Jalan Naripan, tapi kemudian tutup,” kata Dudi.

Menurut Dudi yang bertahan hingga sekarang adalah Barber Shop Sawargi di Jalan Saad dan Pemangkas Rambut Tepat, miliknya.

Categories
Kuliner

Toko Kue Enak di Bandung, dari Bawean hingga Rancabolang

MAU tahu toko kue enak di mana saja? Coba saja datang ke Toko Kue Bawaean di Jalan Bawean, Toko Kue Prima Rasa Jalan Kemuning, Brownies Amanda di Rancabolang, atau Sus Merdeka di Jalan Merdeka.

Toko kue tersebut dijamin kuenya enak karena sudah lama berdiri dan menjadi buruan para pelancong yang datang ke Bandung.

Di Jalan Baewean, ada Toko Kue Bawean. Toko kue enak ini memproduksi kue-kue cita rasa zaman dulu. Nougat Roll adalah produk unggulan mereka. Nougat Roll adalah bolu gulung yang berbahan utama vanilla, fla dan rum.

Bolu gulung ini berisi isi fla dibalut nougat kacang karamel di bagian luarnya.

Varian bolu gulung di Toko Kue Bawean banyak rasanya. Ada African Roll yang bau rumnya sangat dominan. Cokelat dan meses yang membalutnya membuatnya tampil cantik dan rasanya lezat.

Ada juga bolu gulung yang tak menggunakan rum. Bolu gulung di sini bolunya terkenal lembut.

Toko kue enak lainnya ada di Jalan Kemuning. Namanya toko kue Prima Rasa. Brownies adalah kue yang paling digemari. Brownies buatan Prima Rasa menjadi buah tangan wajib bagi pelancong yang datang ke kota ini.

Penganan yang dipanggang berbentuk persegi dan datar ini digandrungi oleh semua kalangan, tua dan muda.

Toko Kue Enak Jual Brownies

Toko Prima Rasa menjual berbagai rasa yakni brownies rasa keju, blueberry, dan rum. Tersedia juga brownies kukus rasa kurma dan ketan hitam.

Brownies yang paling dicari pengunjung Toko Prima Rasa adalah brownies rasa keju dan original. Prima Rasa sangat menjaga keaslian dan kualitas brownies mereka.

Brownies Amanda juga telah menjadi favorit warga Bandung dan para pelancong. Amanda memang identik dengan brownies kukus. Toko kue Amanda telah tersebar ke berbagai kawasan di Bandung. Bahkan sekarang sudah merambah ke luar kota.

Brownies di Amanda Brownies banyak pilihan rasa seperti brownies original, sarikaya pandan, blueberry, choco marble, pink marble, green marble, tiramisu, dan varian lainnya.

Di Bandung juga terdapat toko kue yang khas menjual kue sus. Namanya Toko Kue Sus Merdeka. Sus di sini rasanya tak mudah terlupakan. Luarnya yang garing dan gurih, serta dalamannya menggunakan vla yang manis menjadikan kombinasi yang sempurna untuk sebuah sus.

Sus ini tidak hanya terkenal di Bandung saja tapi sudah tersebar ke luar kota. Sus ini sudah menjadi buah tangan favorit para pelancong yang datang. Nama Soes Merdeka benar-benar telah melekat di benak penyuka sus.

Tokonya berada di Jalan Merdeka depan Bandung Indah Plaza. Toko di sini sempat tutup tetapi buka kembali.

Kue-kue di Toko Kue Kartika Sari tak kalah lezat. Kue favorit di sini pisang bolen. Pisang bolen adalah pisang dan keju dibalut dalam adonan kulit pastry. Untuk memberikan pilihan pada penggemarnya Kartika Sari memperkenalkan bolen rasa lain seperti pisang bolen cokelat, peuyeum (tapai) bolen, durian bolen, kacang hijau bolen dan apel bolen.

Cek Daftar di Bawah Ini

Toko Kue di Bandung Prima Rasa

Kemuning No. 20, Merdeka, Sumurbandung

Buahbatu

Jalan  Purwakarta No.95

Pasirkaliki No.163

Ruko Kopo Plaza Blok C No. 6, Jl. Peta Lingkar Selatan

Toko Pusat Brownies Amanda

Jl. Rancabolang No. 29 Bandung
Telp. 022 – 7514657, 022 – 92754190
Fax. 022 – 7504291

Toko Kue Bawean

Jln. Bawean No. 4
Tlp: 022 420 5471 Fax: 022 420 1453
Bandung 40113

Jln. L.L.R.E. Martadinata No. 140
Tlp/Fax: 022 720 4131
Bandung 40114

Jln. Gandapura No. 43
Tlp: 022 421 2229 Fax: 022 421 0229
Bandung 40113

Toko Soes Merdeka

Jalan Merdeka

Jl. Purnawarman 12-14 Telp. (022) 4235534/4231376

Jl. Lombok No. 30 Telp. (022) 4204746

Jl. Jend. Gatot Subroto No. 10 Cimahi Telp. (022) 6648874

Kartika Sari

Kartika Sari Kebon Kawung
Jl. H. Akbar no. 4 Kebon Kawung – Bandung No Telp. 022 4231355 – 4200441

Kartika Sari Dago
Jl. Ir. H. Djuanda no. 85 Bandung No Telp 022 2509500

Kartika Sari Kebon Jukut
Jl. Kebon Jukut no. 3C Bandung No Telp. 022 4230397

Kartika Sari Buah Batu
Jl. Buah Batu no. 165 A Bandung No Telp. 022 7319385

Kartika Sari Kopo
Jl. Kopo Sayati no. 111 A Bandung No Telp. 022 5414340

Kartika Sari Terusan Jakarta
Jl. Terusan Jakarta no. 77E Bandung No Telp. 022 7101280

Kartika Sari Cimahi
Jl. Raya Timur no. 518 Cimahi No Telp 022 665628

Categories
Belanja

Rajut Binong Semakin Mudah Dicari, Sekarang Banyak Dijual di Online

SENTRA rajut Binong sudah ada lama di Bandung. Sentra ini mulai dikenal pada 1960-an. Saat itu, warga sekitar dan Tionghoa membangun industri rajutan mengunakan mesin tradisional untuk memproduksi rajutan.

Lokasinya, di sebuah jalan bernama Binongjati, Kelurahan Binong, Kecamatan Batununggal, Kota Bandung. Jalan tersebut berada di Jalan Gatot Subroto, tidak jauh dari simpang empat terusan Kiaracondong.

Pada 1970-an, warga lainnya turut membuka usaha ini. Sehingga pengusaha rajutan bertambah delapan hingga sepuluh orang. Usaha ini terus berkembang dari tahun ke tahun.

Pada 1998 mencapai puncaknya. Sekitar 250 orang mencoba peruntungannya di usaha rajutan ini. Mereka sudah menggunakan mesin modern.

Warga kemudian berinisiatif menamai kawasan itu dengan sebutan “Sentra Industri Rajutan Binongjati”. Sebutan sentra diperkenalkan warga melalui gapura yang terpampang di pintu masuk kawasan Binongjati, Jalan Gatot Subroto, Bandung.

Dinas Koperasi UKM dan Perindustrian, Perdagangan Kota Bandung kemudian menyatakan Binongjati sebagai kawasan industri tekstil.

Hingga kini, usaha rajutan di Binongjati terus berkembang dan semakin dikenal waistawan. Menurut catatan laman sentraindustribandung.com, terdapat kurang lebih 293 pengrajin rajut di sana.

Adapun kapasitas produksi per tahunnya sebanyak 852.200 lusin dengan nilai investasi Rp. 31,366 miliar. Sentra rajut Binongjati diperkirakan bisa menyerap tenaga pekerja sebanyak 2.143 orang.

Sekarang para pengusaha rajut di sana memasarkan produknya lewat onlline. Ramainya pemasaran lewat online menjadi berkah buat mereka. Permintaan rajut kepada mereka meningkat sejak banyaknya toko dan marketplace di dunia maya.

Setiap bulannya, paling sedikit, mereka, memperoleh pesanan 6.000 per produk per bulan. Harganya paling murah Rp 20.000 untuk anak-anak dan yang paling mahal bisa di atas Rp 100 ribu.

“Yang melalui online omzet rajut saya mencapai 200 juta per bulan. Belum yang offline bisa mencapai 100 juta,” kata Asep Dadang, pengusaha rajut di toko rajutnya, Kelurahan Binong, Kecamatan Batununggal, Kota Bandung, Rabu (26/2/2020).

Rajut Binong Dijual di Marketplace

Tidak hanya pengguna, tapi, katanya, penjual pun berbelanja kepadanya melalui online. Menurutnya banyak reseller yang menjual produknya di online.

Asep menjual hampir 100 model buat di online. Menurutnya yang paling laku adalah model untuk remaja. Rajut anak-anak yang harganya relatif murah pun banyak permintaannya.

Asep sendiri berjualan di beberapa marketplace. Dari beberapa marketplace tersebut, katanya, hanya satu yang benar-benar mengangkat penjualan rajutnya.

Selain berjualan, Asep mencari reseller untuk menjual rajutannya di marketplace. “Tinggal tulis saja di postingannya mencari reseller, mereka biasanya langsung mengontak,” katanya.

Categories
Belanja

Perajin Topi di Jalan Mahmud Tawarkan Beragam Topi

Pelayan masih melayani pelanggan yang datang ke toko topinya di Jalan Mahmud, Desa Rahayu, Kecamatan Margaasih, Kabupaten Bandung, Kamis (19/3/2020) sore. Sore itu hujan masih mengguyur kawasan tersebut. Di kawasan ini, selain toko banyak industri rumahan yang memperkejakan perajin topi.

Toko Topi Gelar itu sebentar lagi akan ditutup pemiliknya. Saat itu memang jam menunjukkan pukul 16.30 dan biasanya toko itu tutup pukul 17.00.

Di dalam toko, seorang pelayan sedang membereskan topi-topi yang dibungkus plastik dan disimpan di lantai. Sebagian besar topi lainnya disimpan di etalase bertingkat yang menyender ke dinding toko.

Perempuan yang duduk di kursi tampak telaten menghitung kembalian untuk pelanggan yang membeli aksesori topi di sana.

Menurutnya, hari itu, tak banyak pembeli yang datang. Dia mengaku baru kedatangan pelangan pukul 16.00. Kalau dihitung, katanya, ada tiga orang.

Biasanya, menurutnya, pelanggan yang datang ke tokonya bisa mencapai 10 orang per hari.

“Sepi hari ini mah. Mungkin gara-gara ada virus korona. Kan, ada imbauan dari pemerintah, orang-orang enggak boleh keluar rumah,” kata perempuan yang bernama Rani.

Menurut Rani adanya virus korona yang terganggu pemasarannya saja. Unuk produksi, kata Rani, tetap jalan untuk menyelesaikan pesanan.

Rani merasa sudah semingguan pengunjungnya menurun drastis. Meski, katanya, tetap ada, tapi hanya beberapa orang.

“Seperti sekarang, dari pagi-pagi baru datang tiga orang. Biasanya 10 orang. Sudah segitu saja. Kami sudah alhamdulillah,” katanya.

Perajin Topi Jual Topi Harganya Bervariasi

Rani menjual topi-topinya di atas Rp 7.000. Paling mahal pasarannya Rp 30 ribu. Itu untuk produk lokal. Kalau topi impor, Rani bisa menjual Rp 50 ribu per topi.

“Topinya impor dari Cina. Kalau dari Eropa kami tidak sanggup menyediakannya karena harganya mahal,” kata Rani. “Untuk impor sudah close. Kami stok topi impor dua bulan sebelumnya. Sebelum ada isu korona.”

Topi yang disediakan Rani mulai dari anak-anak hingga orang dewasa. Bahkan, katanya, ada untuk anak yang berusia satu tahun. “Topinya untuk anak sekolahan. Untuk umum ada semua,” kata Rani.

Rani juga melayani topi pesanan seperti untuk topi partai. Harganya tergantung budget pemesan. Menurut Rani harga topi pesanan belum tentu lebih murah dari topi ready stock.

“Kadang harganya lebih bisa dua kali lipat lebih mahal,” katanya. “Kalau pesanan tergantung bahan, tergantung jumlah, dan desain.”

Artikel ini telah dimuat di Tribun Jabar.

Categories
Belanja

Gitar Allegro, Pabriknya Berada di Arjasari, Kabupaten Bandung

GITAR Allegro adalah gitar lokal buatan Kampung Sirnasari, Desa Batukarut, Kabupaten Arjasari, Kabupaten Bandung.

Pabriknya berada di sebuah gang. Agak sulit mencari gang tersebut, namun toko-toko gitar di tepi jalan bisa menjadi patokan. Warga di sana sudah mengenal pabrik gitar tersebut.

Setelah menelusuri gang, pabrik tersebut tidak terlihat jelas. Hanya saja, ketika memasuki sebuah ruangan suasana pabrik mulai terasa.

Ruangan pertama pabrik tersebut merupakan tempat perapihan dan pengecatan gitar-gitar yang sudah terbentuk. Prosesnya pun membutuhkan ketelitian dan tiga kali proses.

Gitar-gitar tersebut tidak langsung dicat tapi harus didempul di bagian-bagian tertentu seperti disambungan. Kemudian dihampelas untuk merapikan sebelum dicat warna dasar.

Untuk membuat gitar butuh waktu semingguan. Itu pun kalau kayu yang akan digunakan telah kering melalui pengopenan.

Proses pengopenan kayu membutuhkan waktu dua sampai tingga minggu, tergantung basahnya kayu. Kayu yang digunakan untuk membuat gitar Allegro adalah kayu mahoni, sonokeling, dan ada juga rosewood.

Sebelum peroses pengecatan, bodi dan batangnya dibentuk di sebuah ruangan terpisah. Di ruangan itu, tampak gitar-gitar yang sudah terbentuk tapi belum dicat bergelantugan di langit-langit.

Proses pembuatan batang dan bodi merupakan proses yang paling sulit dalam membuat gitar. Orangnya yang membuatnya pun tidak sembarangan karena tidak semua orang bisa melakukan pekerjaan ini.

Ketika memasuki ruangan itu, suara gergaji mesin terdengar memekakakkan telinga. Gergaji digunakan oleh pegawai untuk memotong kayu mahoni yang sudah kering. Serbuk gergaji pun berterbangan di ruangan itu.

Gitar Allegro Sempat Meredup

Gitar Kampung Sirnasari, ini sempat meredup. Namun, gitar-gitar itu tetap diproduksi pemiliknya. Pesanan-pesanan terus berdatangan, meski jumlahnya masih jauh dari jumlah ketika mereka masih berjaya.

Momentumnya setelah Lebaran 2019. Mereka memutuskan untuk menghidupkan gitar Allegro yang mati suri. Mereka pun mencari modal demi sedikit untuk membuat gitar.

Pesanan pun mulai berdatangan. Toko-toko musik di Bandung mulai ada yang pesan dua lusin.

Gitar Allegro sempat booming sebelum krisis moneter pada 1998. Memasuki 2000-an, gitar ini mulai agak tersingkir oleh kehadiran gitar-gitar merek Cina dan Solo. Gitar Solo yang juga disebut gita sayur telah menghancurkan harga pasar gitar tersebut.