Peci M Iming, Sudah Ada Sejak Tahun 1918

TIDAK ada merek yang lebih terkenal daripada peci merek M Iming di Jawa Barat, khususnya di Bandung. Ibarat sayur tanpa garam jika merayakan Hari Raya Idulfitri tanpa peci buatan M Iming. Peci M Iming memang sudah menjadi legenda buat orang Bandung.

Peci M Iming sudah ada sejak tahun 1918. Pemilik awal peci legendaris ini adalah Mas Iming. Warga Pekalongan yang merantau ke Bandung ini tertarik untuk membuat peci dari kakak iparnya.  Dia rupanya berhasil mempersunting perempuan Bandung Ningsih yang orang tuanya pemilik sebuah hotel di kawasan Pasar Baru.

Sempat belajar lama dan mengelola usaha pembuatan peci bersama kakak iparnya, M Iming memutuskan untuk mandiri. Mulai dari sini Iming merintis peci merek M Iming. Produk pertamanya dia bungkus menggunakan kotak kayu bekas sabun. Iming menjajakan dagangannya itu di depan rumah orang tuanya di Jalan Ahmad Yani.

Toko Peci M Iming Dulu Hanya Rumah Panggung

Seperti dituturkan karyawan Peci M Iming, Eman, M Iming membuat peci di pinggir jalan atau kaki lima. Iming, kata Eman, membuat peci berdasarkan pesanan, kadang tiga atau lima per harinya. “Dulu mah toko ini juga rumah panggung,” kata Eman di Toko M Iming Jalan Ahmad Yani, Jumat (20/3/2015).

Usaha Iming tidak sia-sia, rintisannya itu membuahkan hasil. Iming bisa membuka toko pertama di Jalan Ahmad Yani. Toko itu hingga kini masih tetap berdiri. Lokasi toko itu tidak jauh dari simpang lima, dan dekat dengan deretan toko sepeda di Jalan Veteran.

Bangunannya yang khas menjadi pembeda dengan gedung-gedung yang berada di sekitarnya. Bangunannya terlihat bergaya lama, dengan plang  bertuliskan M Iming di bagian atas bangunan itu. Di bagian lain di atas jendela toko itu ada tulisan dengan huruf ejaan lama “Bandoeng” dan “Kopeah”.

“Memang tidak pernah direnovasi total. Beda dengan gedung-gedung lainnya sudah mengalami perubahan,” kata Eman yang mengaku sudah menjadi karyawan M Iming sejak 1969. “Toko ini berdiri pada 1930,” lanjut Eman.

Kini Toko Peci M Iming tidak hanya ada di Jalan Ahmad Yani. Tapi juga ada di Jalan KHZ Mustofa (Suci), dan Jalan Pelajar Pejuang No 40. “Kalau yang di Jalan Suci mulai 1995. Yang di Jalan Pelajar Pejuang cabang dari Jalan Suci,” kata Eman. *

Bagikan kalau Anda menyukai informasi ini!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.