Categories
Hotel

Hotel-hotel di Bandung yang Memiliki Jaringan Nasional dan Internasional

Hotel Santika Bandung adalah satu di antara jaringan hotel yang telah lama berdiri di Bandung. Hotel milik Kompas Gramedia ini mendahului pesaing-pesaingnya yang belakangan semakin melebarkan pasarnya ke Kota Bandung.

Hotel Santika Bandung berada di Jalan Sumatra 52-54, tepat di persimpangan Jalan Sumatra dan Jalan LLRE Martadinata (Riau). Hotel yang terdiri 4 lantai ini dibangun pada 1989 dengan menyediakan 75 kamar.

jaringan hotel santika

Hotel Santika di Jalan Sumatera Bandung. | Foto agoda.com

Hotel Horison di Jalan Pelajar Pejuang adalah jaringan hotel yang juga telah lama berdiri. Hotel ini bisa dibilang pelopor pendirian hotel di kawasan Buahbatu. Horison Hotel Bandung dibangun pada 1992. Pada saat itu kawasan Buahbatu belum seramai sekarang.

Hotel Horison pengelolaannya di bawah manajeman Metropolitan Golden. Metropolitan Golden telah berpengalaman selama 12 tahun mengelola hotel. Dalam laman resminya, disebutkan, Golden Management telah mengelola 33 hotel dengan jumlah kamar lebih dari 3.500 kamar.

Harris, Hotel Milik  Jaringan Hotel  Tauzia Hotel Management

Jaringan hotel lainnya yang membidik pasar di kota ini adalah Tauzia Hotel Management. Tauzia mendirikan Harris Hotel Bandung. Harris Hotel berdiri di Kompleks Festival Citylink sebuah mal di Jalan Peta No.241, Suka Asih, Bojongloa Kaler, Bandung. Selain Harris, Tauzia juga mendirikan Pop Hotel yang masih satu kompleks dengan Harris Hotel.

Harris Hotel maupun Pop Hotel berusaha memberikan kemudahan kepada para konsumennya. Seperti pendirian kedua hotel menyatu dengan mal diharapkan bisa memberi kemudahan buat tamu untuk berbelanja, mencari hiburan, atau sekadar berjalan-jalan.

Hilton Bandung Hotel sebuah bagian dari Hilton Hotels Corporation, yang berbasis di Beverly Hills, California juga melirik Bandung. Mereka mendirikan Hilton Hotel Bandung di Jalan HOS Tjokroaminoto No. 41-43, Pasirkaliki, Kota Bandung.

Hilton Bandung Hotel berdiri pada 2009. Hotel ini memiliki kamar 186. Hotel berbintang 5 ini menawarkan resepsionis 24 jam, layanan kamar 24 jam, penyimpanan bagasi, Wi-fi di tempat umum, dan tempat parkir mobil. Hotel ini tak jauh dari Stasiun Bandung. Adapun ke Pasar Baru tempat belanja para wisatawan bisa ditempuh hanya beberapa menit dengan kendaraan, dan kalau mau bisa berjalan kaki. *

Categories
Layanan Publik

Balai Besar Tekstil di Jalan Ahmad Yani Bandung

PERKEMBANGAN tekstil di Indonesia tak terlepaskan dari Balai Besar Tekstil (BBT). Balai yang berada di bawah Badan Penelitian dan Pengembangan Industri dan Perdagangan (BPPIP), Departemen Perindustrian dan Perdagangan, ini berkembang duluan sebelum pertekstilan di negeri ini dimulai.

Pada 1928, empat gadis asal Majalaya, Emas Mariam, Endah Suhaenda, Oya Rohana, dan Cicih dikirim ke Bandung. Mereka belajar tenun menggunakan alat tenun semi otomatis yang tidak membutuhkan listrik disebut alat tenun bukan mesin (ATBM) di BBT. Dari tangan keempat perempuan inilah teknik tenun dan dinasti-dinasti usaha tekstil rakyat Majalaya mulai berkembang.

balai besar tekstil

Balai Besar Tekstil di Jalan Ahmad Yani No.390, Kebon Waru, Batununggal, Kota Bandung, Jawa Barat. | Foto http://bandungside.com/

Mulai dari sini juga alat tenun bukan mesin (ATBM) mulai populer. Saat itu Textil Instituut en Batik Proefstation (TIB) dipimpin oleh Dalenoord sejak berdiri hingga 1934. Mesin itu juga menjadi titik mulai majunya industri tekstil Indonesia.

Balai Besar Tekstil berdiri pada 1922. Dulu namanya Textiel Inrichting Bandoeng (TIB). Pendirian balai ini merupakan prakarsa Ir. Surachman dan Prof. Dr. Bernard serta bantuan Bupati Bandung, Wiranatakusumah. Balai ini tergabung dalam lingkungan Departemen Landbouw Nijverheid en Handel (L.N.& H.).

Pada 1966 orang lebih mengebal lembaga ini Institut Teknologi Tekstil (ITT). Kemudian TIB strukturnya mengalami perubahan sekaligus pemisahan kelembagaan menjadi dua lembaga, yakni Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Industri Tekstil (BBPPIT) dan Sekolah Tinggi Teknologi Tekstil (STTT) pada 1979.

Pada 2002, Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Industri Tekstil (BBPPIT) berubah namanya menjadi Balai Besar Tekstil (BBT) di bawah Badan Penelitian dan Pengembangan Industri dan Perdagangan (BPPIP), Departemen Perindustrian dan Perdagangan.

Pada 2006 Balai Besar Tekstil (BBT) berada di bawah Badan Penelitian dan Pengembangan Industri (BPPI), Departemen Perindustrian. Departemen Perindustrian sendiri berubah menjadi Kementerian Perindustrian pada 2010. Adapun Balai Besar Tekstil berada di bawah Badan Pengkajian Kebijakan, Iklim dan Mutu Industri (BPKIMI).

Pendirian lembaga ini untuk memberikan pelatihan dan bimbingan kepada industri tekstil terutama pertenunan rakyat. Balai Besar Tekstil pun memiliki kewenangan melakukan pengujian terhadap bahan-bahan tekstil, seperti benang, cap dan obat-obatan, pengujian alat-alat tenun dan lain-lain.

Laboratorium Pengujian Tekstil Balai Besar Tekstil mendapat akreditasi dari National Association of Testing Authorities (NATA) Australia pada1994 dan Komite Akreditasi Nasional (KAN) Indonesia pada 2003. Akreditasi Laboratorium melalui asesmen audit dan penilaian oleh ahli-ahli professional berdasarkan persyaratan standar internasional yaitu ISO/IEC17025- 2005.

Gadung Balai Besar Tekstil berada di Jalan Ahmad Yani No.390, Kebon Waru, Batununggal, Kota Bandung, Jawa Barat.

Bahan tulisan:

bbt.kemenperin.go.id
lipsus.kompas.com
bandungside.com

Categories
Belanja

Penjual Koran di Bursa Koran Cikapundung Bandung yang Sudah Sepi

SUBUH di Jalan Cikapundung Timur (sekarang Jalan Dr Ir Sukarno) samping belakang Gedung Merdeka  kesibukan sudah terlihat kira-kira sejak pukul 04.00. Mereka adalah penjual koran, penggerak roda sirkulasi koran, majalah, tabloid, dan cetakan lainnya yang terbit di Bandung, Jakarta, dan bahkan dari daerah lain.

Kawasan ini sejak dulu sudah menjadi tempat transaksi pembeli dan penjual koran, majalah, tabloid, dan cetakan. Dari berbagai referensi yang beredar di internet, kawasan ini mulai dikenal sebagai bursa koran pada 1970-an.

penjual koran di bursa koran cikapundung
Penjual koran di bursa koran Cikapundung, Jalan Dr Ir Sukarno, Bandung. | Foto serbabandung.com #serbabandung

Para penjual koran ini tadinya harus berpindah-pindah sebelum menetap di tempat sekarang. Tempat-tempat yang pernah mereka jadikan bursa koran di antaranya Stasiun HallLanud Husein, Jalan Arjuna, Stadion Sidolig, di belakang dan di depan Hotel Savoy Homann, Sarinah, dan Cikapundung Barat.

Tempat yang sekarang penjual koran tempati pun tak selamanya “aman” karena lokasi yang berdekatan dengan Gedung Merdeka ini harus steril jika ada presiden atau tamu penting lainnya datang.

Ketika peringatan ke-60 Konferensi Asia Afrika, pada 2015, para penjual koran juga sempat berketar-ketar karena tempat yang mereka biasa tempati direvitalisasi menjadi sebuah taman yang kini terkenal dengan sebutan Riverspot Cikapundung.

Penjual Koran Lewat PASKAM Sempat Mengeluh pada Wali Kota

Para penjual koran ini  melalui Persatuan Agen Surat Kabar dan Majalah (PASKAM) mengeluh sering ada gangguan dari aparat serta Satpol PP. Untungnya Wali Kota Bandung Ridwan Kamil memberi jaminan bursa koran di sana takkka ada yang mengganggu lagi.

“Pegang omongan saya, itu mungkin hanya oknum saja. Saya jamin tidak ada lagi yang mengganggu-ganggu lagi di sini,” kata Ridwan Kamil seperti dikutip Republika.

Denyut itu terasa juga pada Senin (9/5/2016). Pagi itu agen atau subagen tampak sibuk melayani pembeli eceran, pengecer, dan loper yang hendak mengirimkan koran-koran tersebut ke tangan pembaca. Mereka menjajakan koran, majalah, dan tabloid memanjang mulai dari Jalan Dr Ir Sukarno hingga ke Jalan Naripan.

Para loper koran itu harus sepagi mungkin mengirim koran-koran tersebut ke pelanggan. Loper adalah ujung tombak sirkulasi koran hingga saat ini. Selain loper, pengecer yang biasa menjajakan koran di jalanan pun merupakan ujung tombak bisnis ini. Sebagian mereka mulai dari kawasan ini menyebar ke seluruh Bandung. *

Bahan tulisan

my-other-corner.blogspot.co.id

Republika

Categories
Masjid

Masjid Agung Majalaya, Bangunan Lamanya Masih Dipertahankan

SABTU (7/5/2016), di pusat keramaian kota Kecamatan Majalaya sangat ramai. Banjir di Jalan Tengah yang terlihat seperti sungai baru tak menyurutkan orang untuk berbelanja atau sekadar jalan-jalan di sana. Mobil dan motor saling berebut jalan bersama delman yang sengaja diparkir di sebrang samping Masjid Agung Majalaya.

Hari itu bertepatan dengan kelulusan kelas 3 SMA setelah mengikuti Ujian Nasional. Rombongan siswa sebuah SMA lewat di jalan yang bajir itu. Motor mereka pacu pelan-pelan dan pengendaranya yang menggunakan seragam putih abu-abu penuh coretan cat pilox membunyikan klaksonnya sambung menyambung. Mereka ada yang berboncengan ada juga yang sendirian.

masjid agung majalaya
Masjid Agung Majalaya di Desa Majalaya, Kecamatan Majalaya, Kabupaten Bandung. | Foto serbabandung.com #serbabandung

Di halaman masjid, sore itu, hanya beberapa menit menjelang asar, beberapa orang yang duduk tidak terganggu ulah rombongan anak SMA tersebut. Mereka tetap menikmati rindangnya pohon yang berada di depan masjid. Dua perempuan yang duduk di tembok asyik memainkan handphone. Satu di antaranya kadang tersenyum sendiri sambil memandangi layar handphone.

Masjid Agung Majalaya adalah cagar budaya yang dilindungi berdasarkan Undang-undang Republik Indonesia No. 11 2010 tentang cagar budaya pasal 61, 66, 67, 77 ayat 5. Undang-undang tersebut mengatur tentang cagar budaya yang harus dilindungi. Siapa pun dilarang merusak, mencuri, memusnahkan, dan memisahkan sebagian atau keseluruhan bangunan.

Dalam tulisan yang dimuat Tribun Jabar edisi 26 April 2016 berjudul “Oasis di Tengah Hiruk-pikuk Kota Dolar” disebutkan masjid ini berdiri pada 24 Juni 1941. Dalam tulisan itupun dijelaskan sebagian besar bangunan masih asli sejak didirikan.

Masjid Agung Majalaya Sisa Bangunan Perang Ganeas

Di billboard yang terpasang di halaman masjid tertulis masjid ini merupakan sisa-sisa perang Ganeas. Perang Ganeas terjadi sekitar abad ke-7 antara Kerajaan Cirebon dan Kerajaan Sumedanglarang yang bersekutu dengan Banten. Pada masa penjajahan Belanda, tempat ini menjadi pusat penyebaran Islam dan untuk beribadah.

Tribun Jabar juga mengutip Kepala Bidang Kepurbakalaan pada Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Bandung, Dedi Sutardi, yang mengatakan bahwa masjid ini masjid agung satu-satunya di Kabupaten Bandung yang bangunannya masih dipertahankan ciri khasnya.

Satu di antara ciri khas yang kentara adalah atapnya bersusun tiga. Atapnya terbuat dari sirap atau kayu. Masjid itu ditopang empat pilar berbentuk bulat yang terbuat dari kayu. Di bawah pilar itu terdapat tembok berukir yang dicat putih. Dindingnya bercat hijau muda kombinasi hijau tua. Mihrabnya menjorok ke dalam dibatasi tembok melengkung bertuliskan kaligrafi berwarna hitam. Di bagian belakangnya terdapat jam tua. *

Categories
Kuliner

Soto Ahri, Soto Asli Garut yang Setia Gunakan Resep Pusaka Keluarga

SOTO Ahri, soto legendaris asli Garut ini menjadi buruan para penikmat kulinet di Bandung. Rasa dan penampilan yang berbeda membuat siapa pun ketagihan untuk mencicipi soto ini. Kedai soto ini berada di Jalan Buahbatu 235 di samping Toserba Borma.  Kedai soto ini berada di depan bank bjb. Kalau dari arah Jalan Soekarno Hatta berada  di sebelah kiri.

Soto yang berasal dari Garut ini sudah buka sejak 1943. Pendirinya adalah Haji Ahri pada tahun 1943. Usahanya yang terus berkembang ini diteruskan oleh anaknya Haji Endang. Kedai soto Ahri ini tidak pernah pindah sejak pertama kali berdiri. Lokasinya di Gang Harjo, Jalan Mandalagiri, Garut.

soto ahri
Soto Ahri Jalan Buahbatu, Bandung. | Foto Tribun Jabar.

Soto Ahri ini tiba di Bandung dibawa cucu Haji Ahri, Deden Agustian. Deden mencoba peruntungan memperkenalkan pusaka keluarganya di kota yang terkenal sebagai gudangnya kuliner. Sebelas tahun yang lalu, Deden menjual soto di pinggir Jalan Buahbatu.

Deden sempat menyewa sebuah tempat di gedung. Namun, usaha sotonya tak sesuai harapan. Dia pun memutuskan memindahkan kedai soto Ahri ke tempat yang dia tempati sampai sekarang. Mulai dari sana usahanya terus berkembang.

Apa rahasia Deden sehingga mampu mempertahankan keberadaan soto ini? Deden tidak muluk-muluk. Dia hingga sekarang tetap menggunakan resep pusaka keluarga. Mulai dari bumbu hingga cara memasak masih mempertahakan cata leluhurnya Haji Ahri.

Soto Ahri memiliki bumbu yang khas. Untuk menjaga keasliannya, Deden membawa bahan baku soto dari kota asalnya, seperti bumbu, sambal kering, kecap, dan kerupuk.

Cara memasak di kedai soto ini  masih menggunakan kayu bakar. Pembakaran dengan kayu bakar membuat aroma soto lebih wangi. Supaya soto tetap hangat, kuah soto dipanaskan menggunakan arang.

Satu mangkuk soto seharga Rp 25.000 (harga ini sewaktu-waktu bisa bisa berubah) terdiri dari potongan daging sapi, kuah soto, bawang goreng, seledri, dan kacang kedelai. Bagian daging sapi yang disediakan di sini ada sengkel, lidah, dan daging kepala.

Kedai Soto Ahri beroperasi setiap hari mulai pukul 07.00 hingga 21.00. *

Sumber: jabar.tribunnews.com, cnnindonesia.com