Olahraga Sore Menyehatkan dan Mengasyikkan di Lapangan Gasibu

Tempat berolahraga di Bandung banyak pilihan. Satu di antaranya di Lapangan Gasibu. Lapangan ini sudah sejak dulu menjadi tempat warga untuk berolahraga. Lintasan lari yang refresentatif menjadi alasan. Lokasinya yang berada di tempat strategis pun menjadi pilihan. Tak hanya pagi, warga pun memanfaatkan tempat itu untuk olahraga sore hari bahkan hingga malam hari.

Kamis (21/6/2016) sore, lapangan yang berada di Jalan Diponegoro, depan Gedung Sate itu sangat ramai. Tak hanya yang berolahraga, mereka yang berwisata pun ikut meramaikan tempat itu. Libur panjang Lebaran masih dimanfaatkan warga setempat dan pelancong dari luar Kota Bandung memanfaatkan tempat itu untuk berwisata. Mereka berbaur dengan warga yang sedang olahraga sore hari.

Olahraga sore yang dilakukan warga tak hanya berlari. Di antara mereka ada yang bermain bulu tangkis kendati tidak ada garis lapangan dan net. Di sudut lain ada beberapa remaja, satu di antaranya perumpuan, mengasah teknik dribble dalam bermain sepak bola. Area lain ditempati sekelompok perempuan yang melakukan gerakan senam. Selebihnya hanya duduk di lantai tembok di lapangan itu.

Menjelang magrib tempat itu malah tambah ramai. Di tepi Jalan Majapahit selain digunakan untuk lahan parkir kendaraan roda dua dan empat, dimanfaatkan warga untuk berjualan. Mereka berjualan beragam makanan ada kerok telor, sosis bakar, bakso cuanki, bakso tahu, berbagai camilan, beragam minuman, dan lain-lain. Warga yang olahraga sore dan kebetulan tidak membawa air bisa membeli air mineral kemasan di botol seharga Rp 5.000.

Setelah Olahraga Sore Bisa Jajan Cuanki

olahraga sore
Warga sedang olahraga sore di Lapangan Sabuga, Jalan Diponegoro, Kamis (21/6/2018)

Bahkan ada beberapa penjual cuanki yang menawarkan kelezatan makanan tersebut. Penjual cuanki harus sibuk melayani pembeli. Seporsi bakso tersebut plus mi instan ditawarkan Rp 12.000. Rasa khas bakso tersehut bisa dinikmati pembeli di benteng atau di kursi-kursi yang tersedia di lapangan tersebut.

“Berapa keliling (berlari di lintasan lari), Bu?” Tanya seorang lelaki kepada seorang perempuan berpakaian olahraga merah hitam bersepatu biru yang tengah melakukan peregangan badan. “Lumayan lima keliling,” kata ibu ini sambil siap-siap difoto oleh laki-laki yang bertanya padanya.

Ketia azan magrib berkumandang, beberapa orang terlihat bergegas ke musala yabg berada di sudut lapangan dekat Jalan Majapahit. Di lapangan itu tersedia musala tanpa dinding. Sehingga orang yang salat terlihat dari luar. Ukurannya tidak terlalu besar, kira-kira cukip untuk 4-5 sap yang satu sapnya kurang lebih cukup untuk 10 orang. Sebelum masuk ke musala terdapat tempat wudu. Adapun toilet masih di tempat itu tapi terspisah oleh dinding.

Di tepi lapangan lampu-lampu dinyalakan. Meski tak begitu terang, Lapangan Gasibu masih ramai. Mereka bercengkerama di tempat-tempat yang tersedia. Lintasan lari di Lapangan Gasibu masih digunakan beberapa orang. Di Teras Jawa Barat yang berada di bagian lapangan dekat Jalan Diponegoro, yang dari sore banyak dikunjungi, masih terlihat beberapa orang yang melihat-lihat Gubernur Jawa Barat dari masa ke masa.

Gedung Sate yang berada di seberang lapangan itu mulai temaram. Tusuk sate di puncak gedung hanya terlimar samar. Namun di huruf besar Gedung Sate yang berada dekat pintu utama gedung itu masih banyak yang berfoto. Meski sudah malam, huruf itu masih bisa terlihat jelas karena diterangi lampu.

Malam terus beranjak, pengunjung lapangan itu pun lambat laun mulai berkurang.

Bagikan kalau Anda menyukai informasi ini!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.