Lokomotif di Depan Stasiun Lama, Hanya Tersisa Tiga Unit

BILA menelusuri Jalan Stasiun Timur di depan pintu Stasiun lama ada lokomotif di depan Stasiun Lama. Lokomotif itu berwarna hitam variasi merah, putih dan kuning. Monumen itu dipagar besi yang melingkar.

Lokomotif ini memiliki nomor seri  TC.10.08. Lokomotif uap TC10 ini didatangkan dari pabrik Hartmann (Jerman). Lokomotif ini digunakan untuk menarik kereta campuran yang terdiri dari kereta penumpang dan gerbong barang.

Lokomotif didatangkan secara bertahap yaitu 6 unit pada 1915, 4 unit tahun 1920 dan 5 unit pada 1922, sehingga total berjumlah 15 unit.

Lokomotif ini dibutuhkan Perusahaan kereta api Staats Spoorwegen (SS), sekarang PT Kereta Api Indonesia (KAI), setelah dioperasikannya jalan rel dengan gauge (lebar) 600 mm di Jawa Barat. Rel tersebut berada di rute Cilamaya–Cikampek sepanjang 28 km. Jalur ini dibangun pada 1909.

Kemudian rute Cikampek – Wadas sepanjang 16 km, selesai dibangun pada 1912; rute Karawang – Rengasdenglok sepanjang 21 km, selesai dibangun pada  1919; dan rute Karawang – Wadas sepanjang 15 km, selesai dibangun pada 1920.

Selain di Jawa Barat, SS juga mengoperasionalkan jalan rel dengan gauge 600 mm di Jawa Timur yaitu rute Rambipuji – Balung – Puger sepanjang 28 km, yang selesai dibangun pada 1913; dan Balung – Ambulu sepanjang 12 km, yang selesai dibangun pada  1913.

Lokomotif uap ini tersisihkan oleh moda darat lainnya. Rel  gauge 600 mm ditutup pada 1972 – 1973. Lokomotif TC10 yang berada di Jawa Barat sempat mangkrak di dipo lokomotif Karawang dalam waktu yang lama.

Dari 15 unit lokomotif TC10, yang masih tersisa 3 unit lokomotif TC10, yaitu TC10 08, TC10 11 dan TC10 15. TC10 08 dijadikan monumen di dapan Stasiun Bandung. TC10 11 dipajang di Taman Mini Indonesia Indah, dan TC10 15 dipajang di dalam Balai Yayasan Manggarai Jakarta.

Monumen lokomotif di depan Stasiun Bandung bernama Purwa Aswa Purba. Diresmikan oleh Dirut Perumka (PT KAI) Bapak Anwar Suprijadi pada 1992. Tanda tangan Anwar tertera dalam prasasti di bagian bawah monumen itu. *

Sumber: http://heritage.kereta-api.co.id/?p=1432

Bagikan kalau Anda menyukai informasi ini!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.