Gedung Kesenian yang Sering Mementaskan Kesenian Sunda

BANDUNG memiliki beberapa gedung kesenian untuk menggelar seni budaya yang asli berasal dari Jawa Barat. Beberapa tempat ada yang masih rekatif baru dan yang lainnya sudah ada sejak zaman penjajahan seperti Gedung Kesenian (GK) Rumentang Siang di Jalan Baranangsiang, Kosambi.

Gedung Rumentang Siang sudah berdiri sejak zaman penjajahan Belanda. Gedung ini berdiri pada 1925. Namanya Rivoli Theater, dan kerap digunakan untuk tempat pertunjukan opera. Gedung ini memiliki kapasitas 347 penonton. Luas panggungnya sekira 8×12 meter persegi.

Hingga tahun 1982, berbagai kesenian unggulan daerah di gelar di tempat ini. Rumentang Siang  pernah bekerjasama dengan beberapa negara seperti Japan Foundation, British Council, dan  kedutaan besar Australia. Kerjasama itu berakhir pada 2000.

Bandung juga punya Taman Budaya di Jalan Bukit Dago Utara No. 53.  Dulu namanya Dago Tea House.Taman Budaya ini sering  digelar berbagai pentas kesenian dan budaya Sunda. Pernah juga digunakan pentas artis atau grup band terkenal.

Di sini ada Arena Panggung Terbuka yang memiliki panggung dengan kapasitas 1.200 penonton. Terdapat teater taman yang berukuran lebih kecil, galeri pameran, sangar seni tari, perpustakaan, dan tempat penjualan cendera mata.

Tempat  wisata di Kota Bandung yang menonjolkan budaya Sunda adalah Saung Angklung Udjo (SAU).  Pengunjung diajak untuk mengenal, menjaga, bahkan belajar memainkan angklung.

Gedung Kesenian Angklung Udjo

Saung ini didirikan pada  1966 oleh Udjo Ngalagena dan istrinya Uum Sumiati. Pendirian saung ini  untuk melestarikan dan memelihara seni dan kebudayaan tradisional Sunda.

Saung Udjo berada di Jalan Padasuka 118, Bandung Timur. Untuk melihat seni pertunjukan sebaiknya datang pada sore hari. Jadwal pertunjukan baru dimulai pukul  15.30 sampai dengan jam 17.30  setiap hari. Pertunjukan tidak hanya diisi permainan angklung  tetapi diisi  tarian tradisional dan wayang golek.

Di Jalan Peta No 209 Bandung ada  Gedung Padepokan Seni Mayang Sunda (PSMS).  Gedung PSMS terbuka untuk komunitas seniman yang ingin pentas tanpa dipungut biaya, asal memenuhi tiga syarat yaitu untuk pelestarian, pengembangan dan pemanfaatan, bukan bisnis.

Tempat ini dulu pernah vakum sebelum kemudian diberi nama Seni Mayang Sunda, dan dibuka kembali. Sekarang Padepokan Seni tsemakin semarak karena banyak grup band lokal, vokalis, atau pekerja seni lainya tampil di sini. *

Bagikan kalau Anda menyukai informasi ini!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.